Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
PHK di Jabar Capai 6.727 Orang, Lembur Buruh Mulai Dipangkas
Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Kemenaker mencatat 6.727 pekerja terkena PHK di Jawa Barat pada Januari-Juni 2026, lebih rendah dari 9.494 orang pada periode sama 2025.
  • Disnakertrans Jabar menyebut penurunan pesanan ekspor akibat pandemi dan konflik global mendorong efisiensi, meski belum ada laporan pabrik manufaktur berhenti beroperasi.
  • Buruh melaporkan pengurangan lembur, hari, dan jam kerja; KSPSI Jabar mencatat sekitar 5.000 anggotanya terdampak PHK hingga Juli 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
tahun 2025

Pada periode yang sama, PHK di Jawa Barat mencapai 9.494 orang.

Januari-Juni 2026

Kasus PHK di Jawa Barat mencapai 6.727 orang menurut data Kemenaker.

Januari-Juli 2026

Anggota KSPSI Jawa Barat yang terdampak PHK tercatat sekitar lima ribu orang.

Selasa (4/8/2026)

Disnakertrans Jawa Barat menyatakan penurunan pesanan luar negeri mendorong perusahaan mengetatkan pengeluaran, termasuk mengurangi lembur.

sampai saat ini

Belum ada laporan pabrik di Jawa Barat berhenti beroperasi atau tutup.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    PHK di Jawa Barat mencapai 6.727 orang pada Januari-Juni 2026. Sejumlah pabrik manufaktur juga mengurangi atau menghapus jam lembur serta mengefisienkan hari dan jam kerja.
  • Who?
    Buruh manufaktur, perusahaan di Jawa Barat, Disnakertrans Jawa Barat, Kemenaker, KSPSI Jawa Barat, dan PT Feng Tay Indonesia Enterprises terlibat dalam kondisi ketenagakerjaan ini.
  • Where?
    Jawa Barat, termasuk salah satu pabrik di Kabupaten Bandung. Dampak terutama dirasakan industri padat karya seperti manufaktur, alas kaki, dan garmen.
  • When?
    Data PHK Kemenaker mencatat periode Januari-Juni 2026, sedangkan KSPSI Jawa Barat mencatat sekitar 5.000 anggotanya terdampak PHK selama Januari-Juli 2026.
  • Why?
    Penurunan pesanan luar negeri, pelemahan daya beli, konflik global, efisiensi perusahaan, persaingan produk impor, biaya bahan baku dolar, tarif gas industri, serta faktor kesalahan pekerja disebut memicu PHK.
  • How?
    Perusahaan melakukan pengetatan pengeluaran dengan mengoptimalkan jam kerja biasa, mengurangi lembur, mengurangi hari kerja dan pekerja, mendorong pengambilan cuti tahunan, serta melakukan PHK. Hingga saat ini belum ada laporan pabrik tutup ke Disnakertrans Jabar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Jawa Barat, 6.727 pekerja kehilangan pekerjaan dari Januari sampai Juni 2026. Banyak pabrik juga mengurangi lembur karena pesanan dari luar negeri sedang sedikit. Firman dari dinas kerja bilang perang dan keadaan dunia ikut membuat pabrik susah. Sekarang belum ada laporan pabrik tutup, tetapi beberapa pekerja diminta memakai cuti tahunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan permintaan dan biaya produksi, industri Jawa Barat masih menunjukkan daya tahan: belum ada laporan pabrik berhenti beroperasi, sementara jumlah PHK Januari–Juni 2026 lebih rendah dibanding periode yang sama pada 2025. Sejumlah perusahaan juga memilih mengoptimalkan jam kerja, cuti tahunan, dan efisiensi untuk mempertahankan pekerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) menyatakan Kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Jawa Barat pada periode Januari-Juni 2026 mencapai 6.727 orang. Sejumlah pabrik khususnya manufaktur pun sudah banyak melakukan pengurangan jam lembur.

Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (HI Jamsos), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, Firman Desa mengatakan, kasus PHK yang terjadi di Jawa Barat disebabkan oleh berbagai faktor, dan kondisi ini sudah dirasakan sejak awal pademik COVID-19.

Kemudian, situasinya diperparah dengan adanya eskalasi konflik di Rusia-Ukrania, hingga perang Amerika-Israel dengan Iran. Hal tersebut berdampak kepada kondisi industri di Jabar yang mana banyak mendapatkan order dari luar negeri.

"Sebenarnya kondisi tidak baik itu sejak awal pandemi COVID-19. Setelah pandemi berakhir, muncul krisis perang Rusia-Ukraina. Lalu sekarang adakrisis Timur Tengah. Ini berdampak sistemik ke order atau daya beli masyarakat Eropa dan Amerika, sehingga pesanan ke industri kita menurun," kata Firman, Selasa (4/8/2026).

1. Belum ada pabrik manufaktur tutup di Jabar

Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)

Meski data PHK Jabar pada periode Januari-Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya, Firman menegaskan, sampai saat ini belum ada pabrik yang berhenti beroperasi atau tutup, terutama padat karya seperti manufaktur. Selain itu, angka tersebut juga lebih rendah jika dibandingkan periode sama tahun 2025, di mana angkanya mencapai 9.494 orang.

"Kalau tutup, sampai saat ini belum ada laporan ke kami, dan data Kemenaker Itu data dari jaminan kehilangan pekerjaan. Tapi kalau dibandingkan dengan jumlah perusahaan di Jawa Barat yang sekitar 500.000 lebih, persentase 6.000 itu relatif kecil (sekitar 0,1 sekian persen)," kata dia.

Selain itu, kasus PHK sendiri tidak hanya dikarenakan oleh adanya masalah internal perusahaan, bisa jadi karena dari karyawan itu sendiri, sehingga harus dilakukan pemutusan hubungan kerja.

"PHK bisa terjadi karena kesalahan pekerja, atau perusahaan melakukan efisiensi," ucapnya.

2. Lembur buruh mulai banyak dipangkas

Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)

Disinggung mengenai kondisi kondisi industri manufaktur di Jabar, Firman tidak menampik, saat ini mulai ada beberapa perusahaan yang sudah mengurangi jam lembur dan menggantinya dengan pemaksimalan waktu operasional pegawai.

"Jam lembur itu sifatnya tidak wajib, sesuai keperluan industri saja. Ada tidaknya lembur tidak mencerminkan apa-apa. Cuma kaitannya dengan kondisi sekarang, banyak perusahaan melakukan pengetatan pengeluaran," kata dia.

"Salah satunya ya menghindari jam lembur, mengoptimalkan jam kerja biasa. Seperti terjadi di salah satu pabrik di Kabupaten Bandung," ujarnya.

3. Pabrik sepi orderan akhirnya pangkas jam lembur

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Salah satu pabrik tersebut yaitu PT Feng Tay Indonesia Enterprises yang sebelumnya turut didatangi langsung oleh Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal. Firman mengatakan, perusahaan tersebut tengah melakukan efisiensi agar para buruh tetap bisa bekerja dan tidak kena PHK.

"Mereka sudah melakukan efisiensi dengan mendorong pekerja yang belum mengambil cuti tahunan untuk diambil. Karena kondisi order sedang tidak banyak. Jadi biar optimal proses produksi dan efisiensi biaya, perusahaan menyarankan cuti tahunan diambil," katanya.

"Terutama industri padat karya seperti alas kaki atau garmen yang terpengaruh kondisi eksternal (kurangnya permintaan dari Eropa dan Amerika)."

4. Lima ribu anggota SPSI Jabar kena PHK

Roy Jinto Ferianto, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPD KSPSI) Provinsi Jawa Barat (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sementara itu Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto mengatakan, beberapa buruh di industri manufaktur sudah banyak melaporkan soal pengurangan jam lembur tersebut.

"Hampir semua rata pengurangan lembur atau penghapusan kerja lembur itu awalnya. Sekarang ada pengurangan hari dan jam kerja," kata Roy.

Berdasarkan data yang didapatkannya, beberapa pabrik industri manufaktur sudah ada yang melakukan pemecatan terhadap buruh. Meskipun tidak begitu massif, anggota KSPSI Jabar tercatat ada sebanyak lima ribu orang yang terdampak PHK pada periode Januari-Juli 2026.

"Untuk SPSI di Jawa Barat PHK sampe saat ini dari Januari-Juli 2026 kurang lebih lima ribu orang," ucapnya.

Menurut Roy, ada berbagai faktor yang membuat industri manufaktur mengalami kontraksi yang mengakibatkan terjadinya PHK dengan cara efesiensi tersebut. Salah satu di antaranya kondisinya perusahaan tidak baik-baik saja dan tengah bangkrut.

"Banyak juga diakibatkan karena produk-produk import yang membanjiri pasar domestik di indonesia sehingga industri dalam negeri tidak bisa bersaing dengan produk luar negeri yang lebih murah," ujarnya.

Selain itu, banyak pabrik manufaktur yang bertransaksi menggunakan dolar untuk membeli bahan baku, sementara produknya harus dijual dengan rupiah. Kondisi ini, dinilainya turut mempengaruhi kondisi industri di Jabar.

"Bahan baku impor pembelianya pake Dolar yang harganya tinggi. Di sisi lain hasil produksi dijual dengan Rupiah, faktor lainnya yaitu tarif bea masuk ke Amerika yang juga berdampak terhadap cost produksi," kata dia.

Belum lagi soal adanya kenaikan tarif gas industri yang mencekik para pelaku usaha manufaktur, akhirnya pilihan yang paling memungkinkan yaitu melakukan PHK kepada buruh.

"Tarif gas industri yang kemarin cukup tinggi juga berdampak signifikan terjadinya PHK, termasuk Perang Rusia-Ukrania, Iran Amerika dan israel semua mempunyai dampak terhadap industri dalam negeri," katanya.

"Perusahaan melakulan efisiensi dari pengurangan hari kerja, jam kerja, pengurangan karywan dan bahkan menutup perusahaan yang pada akhirnya terjadi PHK," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article