Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Empat Daerah Irigasi di Jabar Alami Kekeringan Akibat Kemarau

Kota Bandung
Empat Daerah Irigasi di Jabar Alami Kekeringan Akibat Kemarau
Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Kornelis Kaha)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kemarau menurunkan debit sejumlah bendung Jawa Barat, memicu kekeringan di daerah irigasi Leuwikuya, Soreang, Ciputrahaji, Biuk, dan Padawaras.
  • Air irigasi tetap mengalir meski volumenya berkurang; DSDA Jabar belum menemukan gagal panen karena sebagian petani telah memasuki masa panen.
  • Pemprov Jabar mengatur distribusi irigasi dan memantau titik kering untuk menjaga panen serta masa tanam, dengan pengurangan debit berkisar 10–20 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Sejumlah bendungan yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalami pengurangan debit air atau surut karena terdampak kemarau. Kondisi ini berpeluang menimbulkan adanya kekeringan ke pertanian warga.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik mengungkapkan, surutnya air di sejumlah bendung yang dikelola pemerintah provinsi, membuat penyaluran air ke daerah irigasi mengalami pengurangan, bahkan beberapa diantaranya mengalami Kekeringan.

"Beberapa daerah irigasi yang kekeringan ditemukan di Leuwikuya, Soreang Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk dan Padawaras, Tasikmalaya," kata Dikky saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).

1. Kekeringan belum sampai level ekstrem

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Kendati begitu, Dikky menjelaskan, kekeringan yang terjadi ini bukan berarti lahan-lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut tidak dialiri air sama sekali. Air tetap ada, namun volumenya tidak besar seperti kondisi normal.

Disinggung mengenai potensi gagal panen akibat air debit air yang berkurang, Dikky memastikan hal tersebut belum ditemukan karena beberapa petani sudah ada yang masuk masa panen.

"Biasanya masih ada debit air ga sampai kering. Ada sebagian sudah masuk masa panen jadi kebutuhan nya kecil dan terpenuhi," kata dia.

2. Pemprov Jabar upayakan agar tidak terjadi gagal panen

Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Dikky menegaskan, berkurangnya debit air di bendung milik pemerintah provinsi sudah berdampak langsung ke lahan-lahan pertanian. Pemprov Jabar ia pastikan akan terus memantau titik-titik keringan tersebut, karena sampai saat ini beberapa petani sudah masuk musim panen.

"Betul (berdampak ke lahan pertanian) jadi ada pengaturan air irigasi sawah-sawah. Kalau dibilang kemarau panjang masih sama seperti kemarau biasa. Kalau kemarau panjang biasa nya sampai November belum hujan," ujarnya.

3. Pengurangan debit air ada yang sampai 20 persen

Ilustrasi kekeringan di wilayah NTB (Antara Foto)
Ilustrasi kekeringan di wilayah NTB (Antara Foto)

Pemprov Jabar juga tengah mengupayakan agar kebutuhan air untuk lahan-lahan pertanian tercukupi, sehingga panen dan masa tanam mendatang bisa terlaksana sesuai dengan musimnya.

Adapun beberapa pengurangan debit air di sejumlah bendung yang ada di Jabar ini bervariasi. Dikky mengklaim tidak ada bendung yang mengalami kekeringan penuh.

"Kita masih ngejar supaya panen tidak terganggu. Kalau pengurangan bervariasi. Ada yang kurang 10 persen ada 20 persen dari debit kebutuhan areal irigasi," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More