Bandung Siapkan 100 Armada Sampah Jelang Operasional Legok Nangka

- Pemkot Bandung menyiapkan 80–100 armada sampah berstandar khusus untuk mengirim 800–1.000 ton sampah per hari ke TPPAS Legok Nangka yang ditargetkan beroperasi akhir 2029.
- Armada akan menggunakan sistem tertutup atau compactor demi keamanan pengangkutan dan penampungan air lindi; penambahannya direncanakan dalam dua hingga tiga tahun, dengan peluang dukungan Pemprov Jabar.
- Bandung menargetkan sampah yang dikirim berupa residu hasil pemilahan. Saat Legok Nangka beroperasi, seluruh kiriman dialihkan dari Sarimukti yang akan ditutup karena kelebihan kapasitas.
Banundg, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung mulai mematangkan persiapan menjelang beroperasinya Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2029. Salah satu fokus yang disiapkan yakni penambahan armada pengangkut sampah hingga sekitar 100 unit beserta penguatan sistem pengelolaan sampah.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Salman Faruq, mengatakan persiapan tersebut dilakukan untuk memenuhi komitmen Kota Bandung mengirimkan 800 hingga 1.000 ton sampah per hari ke TPPAS Legok Nangka sesuai kesepakatan yang ditandatangani pada 2021.
"Komitmen Kota Bandung sesuai yang sudah ditandatangani pada 2021 adalah mengirimkan sampah minimal 800 sampai 1.000 ton per hari ke Legok Nangka. Karena itu kami harus menyiapkan seluruh sarana pendukung, terutama armada pengangkut dan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan persyaratan di sana," ujar Salman, Selasa (4/8/2026).
1. Pemkot siapkan hingga 100 armada pengangkut

Salman menjelaskan armada yang akan digunakan harus memiliki spesifikasi khusus karena akses menuju Legok Nangka memiliki kontur jalan yang menanjak dan cukup curam. Selain itu, kendaraan juga diharapkan menggunakan sistem tertutup atau compactor agar proses pengangkutan lebih aman dan tidak mencemari lingkungan.
"Armadanya harus benar-benar fit karena akses menuju Legok Nangka cukup menanjak. Selain itu, seluruh armada diharapkan menggunakan sistem tertutup atau compactor sehingga pengangkutan lebih aman, tidak mengganggu lingkungan, dan air lindi dapat tertampung dengan baik," katanya.
Saat ini Pemkot Bandung telah memiliki sebagian armada tersebut. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan jumlahnya akan terus ditambah hingga mencapai sekitar 80 sampai 100 unit. Penambahan armada juga berpeluang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui kerja sama dengan Pemerintah Belanda.
2. Sampah yang dikirim ditargetkan sudah berupa residu

Menurut Salman, sampah yang akan dikirim ke Legok Nangka merupakan sampah domestik rumah tangga. Namun, DLH menargetkan seluruh sampah yang masuk merupakan sampah residu hasil pemilahan agar sesuai dengan ketentuan operasional di fasilitas tersebut.
"Kami terus menyiapkan sistem pemilahan. Harapannya, sampah yang masuk ke Legok Nangka benar-benar residu sehingga sesuai dengan ketentuan operasional yang ditetapkan," ujarnya.
Sambil menunggu operasional Legok Nangka, Pemkot Bandung terus mengoptimalkan pengurangan sampah sejak dari sumbernya melalui edukasi masyarakat, pengolahan sampah organik, hingga penerapan berbagai teknologi pengolahan.
"Selama masa transisi ini, kami terus memaksimalkan pengurangan sampah di tingkat hulu, kemudian pengolahan di tingkat tengah maupun hilir. Tujuannya agar Kota Bandung semakin mandiri dalam mengelola sampah meskipun kuota ke Sarimukti masih dibatasi," ucap Salman.
3. Sarimukti akan ditutup setelah Legok Nangka beroperasi

Salman memastikan seluruh pengiriman sampah Kota Bandung akan dialihkan ke Legok Nangka saat fasilitas tersebut mulai beroperasi pada 2029. Seiring dengan itu, TPA Sarimukti akan ditutup oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena kondisinya sudah mengalami kelebihan kapasitas.
"Kalau Legok Nangka sudah beroperasi, Sarimukti akan ditutup. Memang kondisinya sekarang sudah overload dan usia zona perluasannya juga sangat terbatas. Nantinya seluruh pengiriman sampah akan dialihkan ke Legok Nangka," katanya.
Di sisi lain, Salman menyebut pengelolaan sampah di Kota Bandung saat ini masih relatif terkendali. Memasuki musim kemarau, pengangkutan menuju TPA Sarimukti berjalan lancar dengan volume sekitar 1.000 ton sampah per hari sehingga tidak terjadi penumpukan yang signifikan di tempat penampungan sementara (TPS).
"Alhamdulillah pengangkutan ke Sarimukti saat ini berjalan lancar. Timbulan sampah yang diangkut sekitar 1.000 ton per hari dan tidak ada penumpukan yang signifikan di TPS," ujar Salman.



















