Bandara Kertajati Belum Mengubah Nasib Pariwisata Majalengka

- Bandara Kertajati belum mendorong efek berganda pariwisata Majalengka pada Semester I 2026 karena arus wisatawan masih terbatas bagi hotel, restoran, transportasi, UMKM, dan ekonomi kreatif.
- Kunjungan wisman Juni 2026 mencapai 477, naik 97,93 persen secara bulanan tetapi turun 7,02 persen tahunan; lebih dari separuh berasal dari Singapura.
- Wisnus Juni 2026 naik 1,61 persen menjadi 270.943 perjalanan, namun turun 11,36 persen tahunan; peningkatan dipengaruhi libur sekolah dan pasar masih didominasi wisatawan regional.
Majalengka, IDN Times - Kehadiran Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati belum mampu menjadi mesin penggerak ekonomi pariwisata Kabupaten Majalengka sepanjang Semester I 2026.
Arus wisatawan yang masih terbatas membuat sektor perhotelan, restoran, kuliner, transportasi, UMKM, hingga ekonomi kreatif belum menikmati efek berganda yang selama ini diharapkan dari keberadaan bandara bertaraf internasional tersebut.
Kepala BPS Kabupaten Majalengka, Yanti Heryanti, menjelaskan jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Kertajati pada Juni 2026 mencapai 477 kunjungan. Angka tersebut meningkat 97,93 persen dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 241 kunjungan.
Namun, jika dibandingkan Juni 2025 yang mencapai 513 kunjungan, jumlah wisatawan asing masih turun 7,02 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan pada Juni belum mampu mengembalikan kinerja pariwisata ke level tahun sebelumnya.
“Terjadi peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, tetapi secara tahunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Yanti, Selasa (4/8/2026).
1. Wisman naik, skalanya masih terlalu kecil

Sepanjang Semester I 2026, pergerakan wisatawan asing melalui Bandara Kertajati lebih banyak diwarnai fluktuasi. Setelah sempat berada pada kisaran 162 hingga 274 kunjungan selama Januari-Mei, jumlah kunjungan baru meningkat pada Juni.
Meski demikian, secara ekonomi jumlah tersebut masih relatif kecil untuk ukuran sebuah bandara internasional. Dengan total kunjungan hanya ratusan orang per bulan, kontribusi wisatawan asing terhadap perputaran ekonomi lokal masih terbatas.
Data BPS juga menunjukkan lebih dari separuh wisatawan asing berasal dari Singapura. Pada Juni 2026, sebanyak 258 wisatawan atau sekitar 54,09 persen berasal dari negara tersebut.
Kelompok negara lainnya mencapai 203 kunjungan atau 42,56 persen, sedangkan wisatawan asal Malaysia hanya sembilan orang. Selebihnya berasal dari Australia, Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda dengan jumlah yang sangat terbatas.
Yanti mengatakan, kondisi tersebut memperlihatkan kalau pasar wisatawan mancanegara Majalengka masih bertumpu pada satu negara.
Ketergantungan terhadap pasar Singapura membuat pemulihan pariwisata menjadi rentan apabila terjadi perubahan konektivitas penerbangan maupun penurunan permintaan dari pasar tersebut.
"Bagi pelaku usaha pariwisata, kondisi itu berarti peluang peningkatan belanja wisatawan asing masih belum cukup besar untuk mendorong pertumbuhan sektor jasa secara signifikan," tuturnya.
2. Wisnus masih jadi andalan, tetapi belum pulih

Di tengah terbatasnya wisatawan asing, roda ekonomi pariwisata Majalengka masih bergantung pada wisatawan nusantara.
Pada Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan nusantara mencapai 270.943 perjalanan atau naik 1,61 persen dibandingkan Mei 2026 yang sebanyak 266.658 perjalanan. Namun jika dibandingkan Juni 2025, jumlah tersebut justru turun 11,36 persen dari 305.671 perjalanan.
Kenaikan bulanan itu lebih dipengaruhi momentum libur panjang sekolah yang mendorong mobilitas masyarakat. Dengan kata lain, peningkatan tersebut bersifat musiman dan belum menunjukkan perubahan fundamental terhadap daya tarik pariwisata Majalengka.
Yanti mengatakan, mayoritas wisatawan masih berasal dari daerah sekitar Jawa Barat.
Kabupaten Cirebon menjadi penyumbang terbesar dengan 43.455 perjalanan, disusul Kabupaten Sumedang sebanyak 25.805 perjalanan, Kabupaten Indramayu 21.254 perjalanan, Kota Bandung 19.780 perjalanan, dan Kabupaten Kuningan 15.110 perjalanan.
"Dominasi wisatawan regional menunjukkan pasar wisata Majalengka masih mengandalkan kedekatan geografis. Sementara itu, perluasan pasar dari luar Jawa Barat maupun wisatawan mancanegara belum berkembang secara signifikan," ujarnya.
3. Tantangan mengubah bandara menjadi penggerak ekonomi

Data Semester I 2026 memperlihatkan keberadaan BIJB Kertajati belum otomatis menghadirkan lonjakan aktivitas ekonomi pariwisata.
Infrastruktur berskala besar membutuhkan dukungan konektivitas penerbangan, pengembangan destinasi, promosi, serta paket wisata yang mampu menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di daerah.
Yanti mengatakan peningkatan kunjungan pada Juni dipengaruhi meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur sekolah serta bertambahnya aktivitas penerbangan internasional. Namun, capaian tersebut masih perlu dijaga agar tidak hanya menjadi kenaikan sesaat.
Ke depan, tantangan terbesar Majalengka bukan sekadar meningkatkan jumlah penumpang yang datang melalui BIJB, melainkan memastikan setiap wisatawan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian daerah.
"Tanpa peningkatan lama tinggal wisatawan, penguatan destinasi, dan perluasan pasar internasional di luar Singapura, keberadaan bandara internasional belum akan memberikan efek berganda yang signifikan terhadap hotel, restoran, transportasi, UMKM, maupun ekonomi kreatif," tutupnya.


















