Pergerakan Tanah di Cijambe Meluas: 367 Warga Terpaksa Mengungsi

- Pergerakan tanah di Kampung Cijambe, Sukabumi, makin meluas sejak 22 Februari 2026 dan memaksa 367 warga mengungsi akibat puluhan rumah rusak serta terancam ambruk.
- Pemerintah bersama BPBD mendirikan sebelas tenda darurat untuk pengungsian, sementara sebagian warga memilih tinggal di rumah kerabat karena kapasitas tenda belum mencukupi.
- Bencana diduga dipicu curah hujan tinggi dan beban tanah berlebih; bantuan logistik serta dapur umum disiapkan agar kebutuhan sahur dan berbuka selama Ramadan tetap terpenuhi.
Kabupaten Sukabumi, IDN Times - Pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, memaksa ratusan warga meninggalkan rumah mereka. Retakan tanah yang semakin meluas membuat puluhan rumah rusak dan sebagian lainnya terancam.
Peristiwa ini mulai terdeteksi sejak 22 Februari 2026. Dalam sepekan terakhir, intensitas pergerakan tanah dilaporkan semakin meningkat hingga berdampak pada permukiman warga.
Camat Bantargadung, Syarifudin Rahmat, mengatakan pemerintah kecamatan bersama sejumlah pihak terus memantau perkembangan bencana tersebut.
“Selama satu peksn ini kami pantau. Kemarin Sabtu ternyata pergerakan tanahnya semakin intens dan mempengaruhi rumah-rumah yang rusak,” kata Syarifudin, Kamis (5/3/2026).
Data sementara mencatat terdapat 90 rumah terdampak dengan total 112 kepala keluarga (KK) atau 355 jiwa. Dari jumlah tersebut terdapat kelompok rentan yang turut terdampak, yaitu 10 ibu menyusui, 1 ibu hamil, 38 lansia, 8 penyandang disabilitas, dan 51 balita.
Kerusakan rumah bervariasi, mulai dari 36 rumah rusak berat, 18 rusak sedang, 20 rusak ringan, serta 27 rumah lainnya terancam terdampak.
1. Pengungsi dipindahkan ke tenda darurat

Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, pemerintah bersama Forkopimcam, BPBD, dan Dinas Sosial membuka posko darurat pengungsian.
Awalnya, lokasi pengungsian ditempatkan di depan masjid. Namun lokasi tersebut dinilai terlalu berisiko karena pergerakan tanah masih terjadi, terutama pada waktu subuh.
“Kami sempat buka posko di depan masjid, tapi sangat riskan. Masyarakat khawatir karena subuh-subuh setelah sahur masih ada pergerakan tanah,” ujarnya.
Saat ini pengungsi dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dengan sebelas tenda darurat yang telah didirikan. Meski demikian, kapasitasnya diperkirakan belum mampu menampung seluruh warga.
Sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat. Pemerintah juga telah meminta izin pemilik lahan kosong di dekat puskesmas untuk kemungkinan penambahan tenda pengungsian.
2. Diduga dipicu curah hujan tinggi dan beban tanah

Syarifudin menyebut pergerakan tanah diduga dipicu oleh tingginya curah hujan yang menyebabkan tanah jenuh air.
“Biasanya karena beban tanah ditambah curah hujan dengan intensitas tinggi. Air meresap ke tanah dan tidak ada pepohonan penahan, akhirnya mempengaruhi pergerakan tanah,” jelasnya.
Dari hasil pengecekan di area atas permukiman, ditemukan lahan kebun milik warga yang sudah mengalami penurunan hampir satu meter.
Pemerintah daerah saat ini masih menunggu asesmen lebih lanjut dari BPBD terkait status tanggap darurat. Jika diperlukan, rencana pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak akan segera disiapkan.
3. Bantuan dan kebutuhan selama Ramadan

Sejumlah bantuan logistik telah disalurkan ke lokasi pengungsian, seperti sembako, makanan siap saji, ransum, mi instan, selimut, kasur, dan tenda. Selama bulan Ramadan, pemerintah juga berupaya memenuhi kebutuhan makan sahur dan berbuka bagi para pengungsi.
“Hari ini untuk sahur kami fungsikan dapur SPPG MBG, mereka sudah siap sekitar 400 paket untuk warga dan petugas. Selanjutnya juga untuk sahur dan buka masih dari dapur itu,” kata Syarifudin.


















