Ilustrasi infrastruktur kereta api. (IDN Times/Arief Rahmat)
Lebih lanjut, Agung mengatakan, sebagian besar jalur mudik di ruas jalan Provinsi telah dilengkapi dengan penerangan jalan umum (PJU). Namun, dia tidak merinci titik mana saja yang masih gelap dan membutuhkan penanganan saat malam hari.
Dia menambahkan, DBMPR Jabar telah memetakan jalur alternatif dan jalur wisata yang dapat digunakan masyarakat selama periode mudik dan arus balik Lebaran 2026.
"Terdapat 24 link ruas jalan jalur alternatif dan 20 link ruas jalan jalur wisata," ucapnya.
Selain menyiapkan jalur alternatif, DBMPR Jawa Barat juga mendirikan puluhan posko siaga di sepanjang ruas jalan provinsi guna memastikan penanganan cepat jika terjadi kendala di lapangan.
Menurut Agung, sedikitnya terdapat 65 posko siaga yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat untuk memantau kondisi jalan sekaligus memberikan respons cepat jika terjadi gangguan infrastruktur.
"Kami menyiapkan 65 posko siaga sebagai pusat koordinasi pemantauan kondisi jalan selama arus mudik dan balik Lebaran," katanya.
Ada 19 titik Disaster Response Unit (DRU) atau Unit Tanggap Darurat turut disiagakan untuk mempercepat penanganan jika terjadi kerusakan jalan, bencana, maupun gangguan lain yang berpotensi menghambat arus lalu lintas.
Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Bima Sakti yang bertugas mengantisipasi berbagai potensi gangguan di ruas jalan provinsi juga diterjunkan.
"Kami menurunkan tim URC Bima Sakti untuk mengantisipasi kerusakan jalan di kawasan perkotaan, jalur dengan lalu lintas padat, daerah rawan kecelakaan hingga wilayah rawan bencana. Tim ini juga akan menindaklanjuti laporan masyarakat yang bersifat mendesak," ucapnya.