ilustrasi obat obatan (pexels.com/pixabay)
Sektor farmasi menjadi poin panas berikutnya. BEM Nusantara mempertanyakan mengapa pasien masih sering mengeluh terpaksa membeli sebagian obat di luar rumah sakit karena stok di instalasi farmasi kosong. Padahal, anggaran belanja obat-obatan rumah sakit mencapai Rp9,6 miliar, di luar pengadaan alat kedokteran umum sebesar Rp6,3 miliar dan bahan habis pakai farmasi sebesar Rp3 miliar.
Menjawab persoalan ini, dr. Ruli menjelaskan bahwa dana Rp9,6 miliar tersebut merupakan anggaran operasional gabungan, sehingga tidak murni seluruhnya tersedot untuk pengadaan obat baru di tahun 2026.
"Dana itu dialokasikan untuk membayar utang (ke vendor farmasi) tahun 2024 dan 2025, sekaligus untuk belanja obat tahun 2026 sesuai DPA dan RBA," papar dr. Ruli.
Terkait kelangkaan obat, manajemen berkilah hal itu dipicu oleh hambatan teknis dari sisi eksternal, mulai dari masalah keterlambatan pengiriman, terbatasnya stok dari penyedia, hingga adanya distributor yang masih melakukan pembekuan akun (nge-lock). Sebagai solusi agar pengobatan pasien tidak tertunda, pihak rumah sakit sementara ini mengarahkan pasien ke apotek rekanan atau apotek luar sembari terus memperbaiki sistem perencanaan internal.