Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pameran Widhi NRS di Cianjur, DPRD Soroti Pentingnya Ruang Seni

Kab. Cianjur
5 min read
Pameran Widhi NRS di Cianjur, DPRD Soroti Pentingnya Ruang Seni
Dok. Istimewa
  • Ketua DPRD Cianjur Metty Triantika menekankan ruang seni penting bagi kreativitas, interaksi sosial, identitas kota, dan pembangunan yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik.
  • Pameran tunggal Widhi NRS, Fragmensia #1, menampilkan 25 karya figuratif dua dan tiga dimensi yang mengeksplorasi dinamika psikologis manusia melalui simbolisme.
  • Pameran berlangsung hingga Desember 2026 dengan klinik, bincang seniman, dan lokakarya keramik untuk memperkuat ekosistem seni rupa serta keterlibatan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cianjur, IDN Times – Keberadaan ruang seni menjadi salah satu faktor penting dalam mengembangkan kehidupan kebudayaan dan membangun karakter sebuah kota. Ruang tersebut bukan hanya menjadi tempat seniman memamerkan karya, tetapi juga wadah bagi masyarakat untuk mengenal, menikmati, dan mengapresiasi perkembangan seni.

Hal itu menjadi perhatian Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Metty Triantika, saat menghadiri pembukaan pameran tunggal Widhi NRS bertajuk Fragmensia #1: Lika-Liku Laku di Art Space by DKC, Gedung Dewan Kesenian Cianjur, Jalan Slamet, Bojongherang, Sabtu (7/11/2026). Metty mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang menghadirkan 25 karya figuratif dalam medium dua dan tiga dimensi tersebut.

Menurut Metty, kegiatan seni rupa perlu terus berkelanjutan agar masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan menikmati karya seniman lokal. Ia melihat perkembangan seni dan kebudayaan memiliki hubungan erat dengan pembangunan kota, terutama dalam membentuk identitas serta kualitas kehidupan masyarakat.

Dengan latar belakang pendidikan planologi, Metty memandang ruang seni sebagai bagian dari lingkungan perkotaan yang memberi tempat bagi kreativitas dan interaksi sosial. Karena itu, pembangunan Cianjur diharapkan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga memberi perhatian terhadap keberlangsungan kegiatan kebudayaan.

Sebagai penikmat seni, Metty juga menyempatkan diri mengamati karya-karya Widhi dengan didampingi kurator Novandy Fiardillah atau Novan. Dalam kesempatan tersebut, Novan menjelaskan gagasan, simbol, dan perjalanan kreatif yang melatarbelakangi karya-karya yang dipamerkan.

  1. 1. Ruang seni memberi kesempatan bagi seniman memperkenalkan karya

    WhatsApp Image 2026-11-08 at 13.43.49.jpeg
    Dok. Istimewa

    Pameran Fragmensia #1: Lika-Liku Laku menjadi salah satu kegiatan yang memperlihatkan fungsi ruang seni sebagai tempat pertemuan antara seniman dan masyarakat. Melalui Art Space by DKC, karya-karya perupa mendapatkan ruang untuk ditampilkan sekaligus membuka kesempatan bagi publik mengenal proses kreatif di balik sebuah karya.

    Ketua Umum Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Benben Bella, dalam surat undangan kepada Metty menjelaskan bahwa penyelenggaraan pameran merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni rupa, memperluas jaringan industri kreatif, serta menyediakan ruang representatif bagi karya seniman.

    Pameran tersebut merupakan penyelenggaraan keempat dalam program Art Space by DKC sekaligus pameran tunggal perdana Widhi setelah lebih dari satu setengah dekade berkarya. Melalui seri Fragmensia, akronim dari Fragmen Manusia, Widhi memperlihatkan peralihan dari karya abstrak yang ekspresif menuju penggambaran figur manusia dengan simbolisme yang kuat.

    Bagi Widhi, perubahan tersebut bukan sekadar persoalan teknik melukis, melainkan proses untuk kembali memahami manusia dan dinamika batinnya. Ia mengangkat pengalaman psikologis sebagai gagasan utama dalam karya-karya yang ditampilkan.

    “Hal yang saya garis bawahi dalam pameran ini adalah bagaimana cara kita merespons dinamika psikologis yang ada dalam pikiran kita selaku manusia,” kata Widhi.

  2. 2. Apresiasi seni membangun kepekaan dan identitas kota

    WhatsApp Image 2026-11-08 at 13.43.492.jpeg
    Dok. Istimewa

    Keberadaan ruang seni juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi dengan karya dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya. Apresiasi tersebut dinilai penting agar seni tidak hanya menjadi aktivitas kalangan perupa, tetapi turut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

    Akademisi Universitas Maranatha Bandung, Dr. Ismet Zainal Effendi, menyampaikan pentingnya apresiasi seni dalam pidato pembukaan pameran. Menurutnya, kepekaan terhadap nilai estetis perlu tumbuh di tengah masyarakat agar pembangunan tetap memiliki hubungan dengan cita rasa dan identitas kebudayaan Cianjur.

    “Orang Cianjur juga sejatinya memiliki tradisi estetis yang luhur, khususnya digambarkan lewat pilar budaya kita,” ujar Ismet.

    Sementara itu, kurator Novandy Fiardillah menjelaskan bahwa pameran Widhi mengangkat lima suasana batin manusia, yakni kesedihan, penyangkalan, kemarahan, ketenangan, dan penerimaan. Gagasan penerimaan juga diterjemahkan melalui penggunaan warna biru pada ruang pamer untuk menghadirkan kesan lega.

    Pembukaan pameran tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh seni dan kebudayaan, di antaranya Tatang Setiadi atau Abah Tatang, maestro seni tradisi Sunda asal Cianjur yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 kategori Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbudristek. Hadir pula Prof. Dr. Ir. H. Ika Djatnika, Neng Wina Resky Agustina, serta anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Cianjur, Saep Lukman.

    Kegiatan tersebut juga diikuti akademisi, guru seni dan seni rupa, mahasiswa, tokoh kebudayaan, serta perupa Cianjur. Keterlibatan berbagai kalangan ini menjadi bagian dari interaksi yang mempertemukan pelaku seni dengan masyarakat.

  3. 3. Program berkelanjutan memperkuat ekosistem seni rupa Cianjur

    WhatsApp Image 2026-11-08 at 13.43.58.jpeg
    Dok. Istimewa

    Keberadaan ruang seni perlu diikuti kegiatan yang berkesinambungan agar fungsinya tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran. Program pendampingan, diskusi, dan lokakarya dapat membuka kesempatan bagi seniman untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memperluas kolaborasi dengan pelaku kreatif lainnya.

    Pameran Fragmensia #1: Lika-Liku Laku berlangsung hingga Desember 2026. Selama periode tersebut, penyelenggara menyiapkan sejumlah agenda pendukung, mulai dari klinik pendampingan, bincang seniman, hingga lokakarya pewarnaan dan pelukisan di atas keramik.

    Salah satu kegiatan lokakarya merupakan hasil kolaborasi Widhi dengan Pancaniti Keramik. Melalui kegiatan tersebut, pengunjung tidak hanya menikmati karya yang dipamerkan, tetapi juga berkesempatan mengenal proses kreatif melalui medium keramik.

    Direktur Art Space by DKC, Alexander Chris, menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Metty terhadap perkembangan seni budaya, terutama seni rupa di Cianjur. Ia bersama DKC berharap dukungan berbagai pihak dapat membantu menjaga keberlangsungan ruang dan kegiatan seni di daerah.

    Keberlanjutan program seperti ini diharapkan dapat memperluas kesempatan berkarya bagi seniman sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kebudayaan. Dengan demikian, ruang seni dapat menjadi bagian dari pembangunan Cianjur yang tidak hanya menghadirkan kemajuan fisik, tetapi juga menjaga identitas dan kehidupan budaya masyarakat.

Related Articles

See More