BPS Catat Pengangguran Laki-laki di Jabar Lebih Tinggi dari Perempuan
.jpg)
TPT Jawa Barat pada Agustus 2026 mencapai 6,67 persen, turun 0,10 poin dari setahun sebelumnya; pengangguran laki-laki 6,79 persen, lebih tinggi daripada perempuan 6,46 persen.
Pengangguran di perkotaan sebesar 6,98 persen, melampaui perdesaan 5,14 persen. Angka perkotaan turun 0,21 poin, sedangkan perdesaan naik 0,22 poin dibandingkan Agustus 2025.
Lulusan SMK mencatat TPT tertinggi sebesar 12,19 persen di antara jenjang pendidikan, sementara penduduk berpendidikan SD ke bawah memiliki TPT terendah, yakni 2,80 persen.
Bandung, IDN Times - Tingkat pengangguran laki-laki di Jawa Barat ternyata lebih tinggi dibandingkan perempuan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) laki-laki mencapai 6,79 persen per Agustus 2026, sedangkan perempuan sebesar 6,46 persen.
Berdasarkan data tersebut, selisih antara pengangguran laki-laki dan perempuan mencapai 0,33 persen poin, dan secara keseluruhan, TPT Jawa Barat per Agustus 2026 mencapai 6,67 persen atau turun 0,10 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6,77 persen.
1. Pengangguran laki-laki lebih tinggi dari perempuan

(Ilustrasi pengangguran di jobfair) IDN Times/Muhamad Iqbal Kendati begitu, Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan, pengangguran pada kedua kelompok mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2025. TPT laki-laki turun 0,13 persen poin, sedangkan perempuan turun 0,05 persen poin.
"Jika dibandingkan Agustus 2025, TPT laki-laki maupun perempuan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,13 persen poin dan 0,05 persen poin," kata Margaretha, Sabtu (7/11/2026).
2. Pekerja informal masih mendominasi

Ilustrasi pengangguran. Dok. Istimewa/IDN Times Di tengah penurunan angka pengangguran, jumlah penduduk Jawa Barat yang bekerja mencapai 24,77 juta orang. Jumlah tersebut bertambah sekitar 260 ribu orang dibandingkan Agustus 2025.
Namun, sebagian besar penduduk bekerja masih berada di sektor informal. Jumlahnya mencapai 13,62 juta orang atau 54,98 persen dari total penduduk bekerja. Sementara itu, pekerja formal tercatat sebanyak 11,15 juta orang atau 45,02 persen.
BPS Jabar mencatat lapangan pekerjaan dengan penyerapan tenaga kerja terbesar berasal dari perdagangan besar dan eceran, yakni sebanyak 5,71 juta orang atau 23,04 persen.
"Dari jumlah penduduk bekerja tersebut, sebanyak 11,15 juta orang atau 45,02 persen bekerja pada kegiatan formal, sedangkan penduduk yang bekerja pada kegiatan informal sebanyak 13,62 juta orang atau 54,98 persen," kata Margaretha.
3. Pengangguran di perkotaan lebih tinggi

Ilustrasi Pengangguran By Yuliana Berdasarkan wilayah tempat tinggal, TPT di perkotaan mencapai 6,98 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang sebesar 5,14 persen. Menariknya, pengangguran di perkotaan mengalami penurunan 0,21 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Sebaliknya, TPT di perdesaan justru meningkat 0,22 persen poin. Selain berdasarkan wilayah, BPS juga mencatat perbedaan tingkat pengangguran berdasarkan jenjang pendidikan. Lulusan SMK menjadi kelompok dengan TPT tertinggi, yakni 12,19 persen.
"Pada Agustus 2026, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan masih merupakan yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 12,19 persen," kata Margaretha.
Sementara itu, TPT terendah tercatat pada penduduk dengan pendidikan SD ke bawah sebesar 2,80 persen.



















