Sampah Bandung Masih Masalah, Gaslah Jadi Andalan

- Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah per hari, sementara kuota pengiriman ke TPA Sarimukti hanya 980 ton, menyisakan sekitar 520 ton yang tidak langsung terangkut.
- Berbagai pengolahan, termasuk program Gaslah, menangani sekitar 320 hingga lebih dari 400 ton sampah harian; kontribusi Gaslah untuk sampah organik telah melampaui 100 ton per hari.
- Sampah dari taman-taman Bandung ditumpuk sementara di Taman Tegalega karena keterbatasan penampungan dan menunggu kuota angkut ke Sarimukti; materialnya didominasi sampah organik.
Bandung, IDN Times - Persoalan sampah di Kota Bandung masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Keterbatasan kuota pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti membuat sebagian sampah belum bisa terangkut. Di sisi lain, upaya pengolahan sampah di tingkat kewilayahan juga belum mampu menangani seluruh timbulan setiap harinya.
Kondisi tersebut terlihat dari tumpukan sampah yang menggunung di salah satu sudut Taman Tegalega, Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung menyebut sampah itu merupakan kiriman dari berbagai taman di Kota Bandung yang sementara dikumpulkan di lokasi tersebut.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengatakan timbunan sampah tersebut berasal dari taman-taman yang berada di bawah pengelolaan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP).
"Jadi itu yang menumpuk di area Tegallega itu adalah sampah dari taman-taman se-Kota Bandung yang dikumpulkan di Taman Tegallega. Itu DPKP," kata Darto ketika dihubungi, Jumat (6/11/2026).
1. Timbulan sampah Bandung capai 1.500 ton per hari

Sampah Menumpuk di TPS Tegallega Usai Mesin Pengolahan Mati. Dok Istimewa Darto mengungkapkan, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah setiap harinya. Sementara itu, kuota pengiriman sampah ke TPA Sarimukti hanya berada di angka 980 ton per hari.
Artinya, terdapat sekitar 520 ton sampah yang tidak bisa langsung diangkut menuju tempat pembuangan akhir. Kondisi ini membuat Pemkot Bandung harus mengandalkan berbagai skema pengolahan sampah agar timbulan tidak terus menumpuk.
Salah satunya melalui program Gaslah atau petugas pengolahan sampah di tingkat kewilayahan. Program ini mendorong pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari lingkungan masyarakat.
Darto menyebut, pengolahan melalui Gaslah mulai memberikan kontribusi terhadap pengurangan sampah yang tidak terangkut. Namun, kapasitasnya masih belum mampu menangani seluruh sisa timbulan harian.
2. Sebanyak 200 ton sampah masih belum terolah

Peresmian petugas pemilah dan pengolah sampah (GASLAH) di Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno Dari sekitar 520 ton sampah yang tidak terangkut ke TPA Sarimukti, pengolahan melalui berbagai upaya di Kota Bandung diklaim sudah mencapai 320 ton per hari. Bahkan, angka tersebut disebut terus mengalami peningkatan seiring kontribusi program Gaslah.
Meski demikian, masih ada sekitar 200 ton sampah setiap hari yang belum tertangani melalui skema pengolahan tersebut. Darto mengatakan, program Gaslah mulai menunjukkan perkembangan, terutama dalam mengolah sampah organik di tingkat kewilayahan.
"Yang 520 itu yang sudah terolah tuh 320 hingga 400-an lah sekarang teh ada kenaikan dari sisi Gaslah gitu. Sampai saat ini sudah di atas 100 ton tuh kontribusinya terhadap pengolahan sampah organik setiap hari," tuturnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah Bandung bukan hanya berkaitan dengan keterbatasan kuota pengangkutan ke TPA. Kemampuan mengolah sampah dari sumbernya juga menjadi tantangan, terutama untuk menangani sisa timbulan yang belum terangkut.
3. Sampah taman Tegalega menunggu giliran diangkut

Sampah Menumpuk di TPS Tegallega Usai Mesin Pengolahan Mati. Dok Istimewa Tumpukan sampah di Taman Tegalega menjadi salah satu gambaran persoalan keterbatasan tempat penampungan sementara di Kota Bandung. Darto menjelaskan, sampah tersebut sengaja dikumpulkan di lokasi itu karena belum tersedia lahan lain untuk menampungnya.
Penumpukan tersebut bersifat sementara sembari menunggu giliran pengangkutan menuju TPA Sarimukti sesuai kuota harian yang tersedia. "Mau ke mana lagi? Kalau belum kumpulkan ke situ. Karena itu kan Tegallega itu kan juga di bawah kendalinya teman-teman DPKP," ujarnya.
Darto juga menjelaskan, sampah taman yang menumpuk di Tegalega berbeda dengan jenis sampah yang diolah menggunakan mesin Refuse Derived Fuel (RDF). Sampah taman didominasi material organik seperti daun kering, kayu, dan sisa makanan, sedangkan mesin RDF digunakan untuk mengolah sampah plastik.
"Nunggu kuota. Kan kita gilir-giliran kuotanya kan. Kita pakai dulu yang sana, yang mana, nanti kita kembali ke kuota yang bisa kita pakai untuk ngangkut yang di Tegalega," katanya.
Dengan kondisi tersebut, pengelolaan sampah di Kota Bandung masih menghadapi dua persoalan sekaligus, yakni keterbatasan kuota pengangkutan ke TPA Sarimukti dan kapasitas pengolahan sampah yang belum mampu menyerap seluruh timbulan harian.






.jpg)













