Muktamar XI Himi Persis Dorong Muslimah Muda Jadi Pemimpin Bangsa

- Muktamar XI Himi Persis di Depok, 7-9 Agustus 2026, menjadi forum pergantian kepemimpinan sekaligus penyusunan strategi menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.
- Himi Persis memprioritaskan penguatan kader untuk melahirkan muslimah berkapasitas akademik, berintegritas, berjiwa pemimpin, dan peduli sosial tanpa meninggalkan nilai perjuangan organisasi.
- Forum mendorong kader mengubah gagasan menjadi program pengabdian berdampak, serta memperluas jaringan melalui pembentukan Pimpinan Wilayah baru di berbagai daerah.
Depok, IDN Times - Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam (Himi Persis) menilai muslimah muda perlu mengambil peran lebih besar dalam menjawab berbagai tantangan bangsa. Pesan tersebut mengemuka dalam Muktamar XI Himi Persis yang digelar di Gedung PPSDM Kemendikdasmen, Depok, 7-9 Agustus 2026.
Forum tertinggi organisasi yang mengusung tema "Himi Persis untuk Indonesia, Transformasi Gerakan dalam Membangun Peradaban" itu tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan. Muktamar juga diarahkan sebagai momentum menyusun langkah strategis organisasi menghadapi perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Himi Persis, Gina Ainal Mardiah, mengatakan organisasi mahasiswa Islam tidak cukup hanya menjadi ruang berhimpun. Menurutnya, kader muda harus mampu tumbuh menjadi solusi bagi berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa.
"Indonesia sedang bergerak sangat cepat. Realitas baru terus hadir dan harus kita hadapi. Himi Persis tidak boleh hanya menjadi ruang berhimpun, tetapi harus menjadi ruang tumbuh, belajar, dan menghadirkan solusi atas persoalan umat dan bangsa," ujar Gina.
1. Ingin melahirkan muslimah yang siap memimpin

Memasuki usia tiga dekade, Himi Persis menilai tantangan yang dihadapi generasi muda semakin kompleks. Perubahan teknologi, transformasi sosial, hingga dinamika kehidupan masyarakat menuntut organisasi mahasiswa untuk lebih adaptif.
Karena itu, penguatan kualitas kader menjadi fokus utama organisasi pada periode mendatang. Himi Persis ingin melahirkan muslimah yang tidak hanya memiliki kapasitas akademik, tetapi juga kepemimpinan, integritas, dan kepedulian sosial.
Menurut Gina, transformasi organisasi bukan berarti meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu. Sebaliknya, transformasi menjadi cara agar nilai perjuangan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
"Transformasi adalah cara menjaga nilai tetap hidup sekaligus menjawab kebutuhan zaman. Dengan cara itu, perjuangan organisasi akan terus relevan," katanya.
2. Muslimah muda disebut penentu arah perjalanan bangsa

Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis), KH Jeje Zaenudin, menegaskan perempuan muda memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa. Menurutnya, kader Himi Persis tidak cukup hanya menjadi generasi penerus, tetapi harus mampu menjadi pelopor perubahan.
Ia menyebut Indonesia membutuhkan perempuan yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual dengan nilai moral, keislaman, dan kepedulian terhadap kemanusiaan.
"Wahai muslimah muda, engkau bukan sekadar pewaris zaman, engkau adalah penentu arah perjalanan. Di tanganmu ada ilmu, di dadamu ada iman, dan di langkahmu ada keberanian," ujar Jeje.
Menurutnya, kualitas sumber daya manusia harus dibangun melalui budaya belajar, riset, diskusi, dan keberanian mencari kebenaran. Pengetahuan yang diperoleh kemudian harus diwujudkan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat.
3. Dari ruang kampus menuju gerakan sosial yang nyata

Selain membahas kaderisasi, Muktamar XI juga mendorong transformasi gerakan organisasi agar tidak berhenti pada tataran gagasan.
Jeje menilai berbagai ide yang lahir dari forum organisasi harus diterjemahkan menjadi program dan aksi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat. Transformasi tersebut mencakup perubahan dari kaderisasi menuju kepemimpinan, dari ruang akademik menuju pengabdian sosial, hingga dari mimbar dakwah menuju kerja nyata di tengah masyarakat.
"Kini saatnya bertransformasi, dari wacana menuju karya, dari gagasan menuju gerakan, dari kaderisasi menuju kepemimpinan, dari mimbar menuju masyarakat, dan dari kampus menuju peradaban," katanya.
Ke depan, Himi Persis juga berencana memperluas jaringan organisasi melalui pembentukan sejumlah Pimpinan Wilayah (PW) baru di berbagai daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kaderisasi sekaligus memperluas kontribusi organisasi dalam pembangunan masyarakat.
Melalui Muktamar XI ini, Himi Persis berharap mampu melahirkan rekomendasi dan arah gerakan baru yang tidak hanya memperkuat organisasi, tetapi juga meningkatkan kontribusi muslimah muda dalam membangun Indonesia yang lebih maju, beradab, dan berkeadilan.



















