Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Liburan Usai, Hotel di Majalengka Langsung Kehilangan Tamu
ilustrasi hotel tua (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Tingkat penghunian kamar hotel di Majalengka turun menjadi 39,39 persen pada April 2026, menandakan perlambatan kinerja industri perhotelan setelah periode liburan berakhir.
  • Hotel berbintang masih mendominasi dengan okupansi 43,04 persen, sementara hotel nonbintang hanya 33,40 persen; keduanya mengalami penurunan dibandingkan bulan dan tahun sebelumnya.
  • BPS mencatat rata-rata lama menginap tamu hanya sekitar 1,1 hari, menunjukkan kunjungan singkat masih mendominasi sektor akomodasi di Majalengka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Majalengka, IDN Times - Kinerja industri perhotelan di Kabupaten Majalengka menunjukkan perlambatan pada April 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Majalengka mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) gabungan hotel berbintang dan nonbintang hanya mencapai 39,39 persen atau turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu maupun bulan sebelumnya.

Kepala BPS Majalengka, Yanti Heryanti, mengatakan TPK gabungan pada April 2026 mengalami penurunan 0,96 poin dibandingkan April 2025 yang mencapai 40,35 persen. Secara bulanan, angka tersebut juga turun 2,19 poin dari posisi Maret 2026 sebesar 41,58 persen.

“Penurunan ini menunjukkan adanya perlambatan tingkat okupansi hotel secara keseluruhan di Kabupaten Majalengka, baik dibandingkan tahun sebelumnya maupun dibandingkan bulan sebelumnya,” kata Yanti, Rabu (3/6/2026).

Penurunan tingkat hunian terjadi pada seluruh klasifikasi hotel.

Kondisi tersebut menjadi sinyal permintaan jasa akomodasi di Majalengka belum sepenuhnya pulih setelah periode libur dan aktivitas perjalanan yang lebih tinggi pada awal tahun.

1. Hotel berbintang masih mendominasi

Ilustrasi hotel paling kecil di dunia yang tetap menarik hati wisatawan. (Pinterest/tripadvisor.com)

Meski mengalami penurunan, hotel berbintang masih menjadi penopang utama tingkat okupansi di Majalengka.

Pada April 2026, TPK hotel berbintang tercatat sebesar 43,04 persen atau lebih tinggi dibandingkan hotel nonbintang yang hanya mencapai 33,40 persen.

Namun, kinerja hotel berbintang juga mengalami koreksi. Dibandingkan April 2025, tingkat hunian hotel berbintang turun 0,30 poin. Sementara dibandingkan Maret 2026, penurunannya mencapai 2,70 poin.

Di sisi lain, hotel nonbintang mencatat pelemahan yang lebih dalam. TPK hotel nonbintang turun 1,41 poin secara tahunan dan berkurang 2,14 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka 33,40 persen yang tercatat pada April 2026 menjadi salah satu tingkat okupansi terendah dalam periode pengamatan setahun terakhir.

"Perbedaan capaian tersebut menunjukkan hotel berbintang masih lebih mampu menarik pasar, terutama untuk kebutuhan perjalanan dinas, kegiatan korporasi, maupun acara formal yang membutuhkan fasilitas dan layanan lebih lengkap," kata Yanti.

2. Efek musiman masih terlihat

Ilustrasi Hotel Capsule. (freepik.com/pikisuperstar)

Data BPS menunjukkan tingkat hunian hotel di Majalengka sepanjang setahun terakhir bergerak fluktuatif.

Secara agregat, TPK sempat berada pada level rendah pada pertengahan 2025 sebelum berangsur membaik hingga mencapai puncaknya pada Desember 2025 sebesar 44 persen.

Lonjakan tersebut sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat selama libur akhir tahun yang mendorong permintaan kamar hotel.

Hotel berbintang bahkan mencatat tingkat hunian tertinggi sebesar 47,39 persen pada Desember 2025, sementara hotel nonbintang mencapai 37,90 persen.

Tren serupa, kata Yanti, terlihat pada Maret 2026 ketika tingkat hunian kembali meningkat sebelum akhirnya terkoreksi pada April.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar perhotelan Majalengka masih sangat dipengaruhi faktor musiman, terutama periode libur panjang dan aktivitas perjalanan masyarakat.

"Stabilitas tingkat hunian masih menjadi tantangan karena permintaan belum merata sepanjang tahun," ujar Yanti.

3. Lama menginap tetap Singkat

ilustrasi Hotel dekat Taman Nasional Baluran (unsplash.com/visualsofdana)

Selain tingkat hunian, BPS juga mencatat rata-rata lama menginap tamu di Majalengka masih relatif pendek. Pada April 2026, rata-rata lama menginap gabungan hotel berbintang dan nonbintang hanya sekitar 1,1 hari.

Di hotel berbintang, lanjut Yanti, tamu mancanegara tercatat menginap rata-rata 1,03 hari, sama seperti periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara tamu domestik menginap rata-rata 1,17 hari atau sedikit lebih rendah dibandingkan Maret 2026.

Adapun hotel nonbintang masih sepenuhnya bergantung pada pasar domestik. Selama periode April 2025 hingga April 2026 tidak tercatat adanya tamu mancanegara yang menginap di hotel nonbintang.

Rata-rata lama menginap tamu domestik pada kategori ini juga konsisten berada di angka satu hari.

Yanti menilai pola tersebut menunjukkan sektor akomodasi Majalengka masih didominasi kunjungan singkat, baik untuk perjalanan bisnis maupun wisata harian.

"Karena itu, peningkatan tingkat hunian ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan daerah menarik kunjungan wisata serta kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) secara berkelanjutan di luar musim liburan," ujarnya.

Editorial Team

Related Article