Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Salah satu bangunan di kecamatan Baturaden yang ambruk akibat angin puting beliung, Jumat (18/4/2025).IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Kuningan menghadapi risiko banjir, longsor, pergerakan tanah, dan puting beliung pada musim hujan 2026/2027; puting beliung sebelumnya merusak puluhan rumah di Maleber dan melanda 10 desa lain.

  • Bupati Dian Rachmat Yanuar meminta BPBD memetakan kawasan rawan melalui data risiko bencana, memantau cuaca BMKG, serta memperkuat peringatan dini, edukasi, simulasi evakuasi, dan perbaikan drainase.

  • BPBD Kuningan mengalihkan fokus dari siaga kekeringan ke bencana hidrometeorologi basah, sambil menginventarisasi personel, peralatan, dan logistik bersama perangkat daerah, TNI-Polri, relawan, serta organisasi kemanusiaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kuningan mulai bersiap menghadapi musim hujan. Bisa ada banjir, tanah longsor, tanah bergerak, dan angin kencang. Dulu angin kencang merusak banyak rumah di Maleber, Luragung, dan Cidahu. Pak Bupati Dian meminta BPBD, polisi, tentara, dan relawan siap membantu. Mereka juga akan melihat cuaca, membersihkan saluran air, dan memberi peringatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kuningan, IDN Times - Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menghadapi ancaman berbagai bencana hidrometeorologi seiring memasuki musim hujan 2026/2027. Banjir, tanah longsor, pergerakan tanah, hingga angin puting beliung menjadi sejumlah potensi bencana yang perlu diwaspadai.

Ancaman tersebut bukan tanpa catatan. Angin puting beliung sebelumnya merusak puluhan rumah warga di Desa Mekarsari dan Buniasih, Kecamatan Maleber. Kejadian serupa juga melanda 10 desa yang tersebar di Kecamatan Luragung dan Cidahu.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan, kondisi geografis, geologis, hidrologis, klimatologis, dan demografis wilayahnya memiliki tingkat kerawanan terhadap sejumlah jenis bencana.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Kuningan mulai memasuki periode musim hujan yang berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

“Kami berharap mudah-mudahan tidak terjadi, tetapi melalui langkah-langkah antisipatif seperti apel kesiapsiagaan ini, korban maupun dampak bencana yang ditimbulkan bisa kita minimalisir,” kata Dian, Kamis (5/11/2026).

1. Puting beliung rusak rumah warga

Sebuah toko yang roboh di desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang akibat angin puting beliung, Jumat (18/4/2025).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Dian mengatakan, kejadian angin puting beliung di Kecamatan Maleber menjadi salah satu catatan kerawanan bencana di Kuningan.

Puluhan rumah di Desa Mekarsari dan Buniasih mengalami kerusakan dengan kategori ringan, sedang, hingga berat.

Selain Maleber, angin puting beliung juga dilaporkan melanda 10 desa di Kecamatan Luragung dan Cidahu. Namun, pemerintah daerah belum merinci jumlah rumah yang terdampak dalam kejadian tersebut.

Selain angin kencang, ancaman banjir, tanah longsor, dan pergerakan tanah juga menjadi perhatian pemerintah daerah.

"Pemetaan kawasan rawan diperlukan untuk menentukan langkah penanganan sekaligus mengantisipasi dampak terhadap masyarakat," kata Dian.

2. Pemetaan wilayah rawan bencana

Relawan SAR gabungan Semarang melacak keberdaan pria yang terseret arus Sungai Banjir Kanal Barat. (IDN Times/Dok Humas Basarnas Semarang)

Dian meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan mengoptimalkan pemetaan wilayah rawan berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), rencana kontinjensi, portal InaRISK, serta Data Informasi Bencana Daerah (DIBI).

Pemerintah daerah juga diminta memastikan kesiapan personel, peralatan operasional, dan logistik penanganan darurat.

Pemantauan informasi cuaca BMKG perlu dilakukan secara berkala agar peringatan dini dapat segera disampaikan kepada masyarakat.

Selain itu, edukasi kebencanaan dan simulasi evakuasi mandiri perlu diperkuat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.

Dian juga meminta jajarannya melakukan pembersihan saluran air dan drainase, normalisasi sungai, serta pemeriksaan fasilitas pengendali banjir.

"Diharapkan dapat mengurangi risiko genangan dan banjir saat curah hujan meningkat," katanya.

3. BPBD inventarisasi kekuatan personel

Ilustrasi Banjir. (IDN Times/Anjani Asra)

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana mengatakan, kesiapsiagaan menghadapi bencana musim hujan merupakan kelanjutan dari periode siaga kekeringan yang berlangsung hingga Oktober 2026.

Memasuki November, fokus penanganan mulai diarahkan pada potensi bencana hidrometeorologi basah. Pemerintah daerah juga masih menunggu penetapan surat keputusan gubernur terkait status kesiapsiagaan tersebut.

Menurut Indra, kesiapsiagaan menjadi sarana untuk menginventarisasi sumber daya yang tersedia, mulai dari personel, peralatan, perlengkapan, hingga dukungan logistik.

Unsur yang dilibatkan mencakup seluruh perangkat daerah, pemerintah kewilayahan, TNI-Polri, termasuk Yonif, serta organisasi kemanusiaan dan relawan seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana).

“Kami ingin mensinergikan dan mengkoordinasikan semua pihak, baik dari aspek pemerintahan, kewilayahan maupun teknis dalam penanggulangan kebencanaan,” ujar Indra.

Curated For You

Editorial Team

Related Article