Konferensi SCMP Tegaskan Peran Indonesia di Peta Ekonomi Regional

- Indonesia dan Hong Kong dalam lanskap kerja sama ekonomi
- Tiongkok menentang unilateralisme dan proteksionisme
- Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Hong Kong mencapai USD6,5 miliar
- Perjanjian perdagangan bebas antara Hong Kong dan ASEAN memperkuat hubungan ekonomi di kawasan
- Peran media dan dialog kebijakan di tengah perubahan global
- Pentingnya relasi terpercaya dan wawasan berbasis analisis mendalam
- Kemitraan strategis SCMP dengan KADIN Indonesia membuka ruang pertukaran perspektif antara Tiongkok dan Indonesia
Bandung, IDN Times - Peran Indonesia sebagai salah satu motor ekonomi kawasan kembali menguat seiring digelarnya China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta. Forum internasional ini diselenggarakan oleh South China Morning Post (SCMP) bekerja sama dengan KADIN Indonesia dan Danantara Indonesia.
Konferensi tersebut menjadi ajang dialog strategis yang mempertemukan pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, investor, serta inovator dari Indonesia, Tiongkok, dan Asia Tenggara. Fokus utama diskusi mencakup investasi, ketahanan rantai pasok, hingga diplomasi ekonomi di tengah dinamika global yang terus berubah.
Digelarnya konferensi di Jakarta menegaskan posisi Indonesia yang semakin strategis dalam peta ekonomi regional. Hubungan bilateral Indonesia–Tiongkok yang kian erat turut menjadi latar penting dalam penyelenggaraan forum ini.
Tak hanya sebagai ruang diskusi, konferensi ini juga diarahkan untuk mendorong kolaborasi konkret lintas negara, khususnya di kawasan ASEAN, seiring meningkatnya peran Asia dalam pertumbuhan ekonomi global.
1. Indonesia dan Hong Kong dalam lanskap kerja sama ekonomi
Dalam pidato pembukaan, The Hon CY Leung, mantan Chief Executive Hong Kong Special Administrative Region, menekankan pentingnya sistem multilateral di tengah tantangan tatanan global saat ini.
“Tiongkok dengan tegas menentang unilateralisme dan proteksionisme serta tanpa lelah membela sistem pelatihan multilateral,” ujarnya, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Rabu (11/2/2026), seraya menyinggung Inisiatif Tata Kelola Global yang diusulkan Presiden Xi Jinping dan telah mendapat dukungan luas dari komunitas internasional.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyebut Hong Kong merupakan mitra ekonomi strategis Indonesia. Ia mengungkapkan nilai perdagangan bilateral kedua pihak mencapai sekitar USD6,5 miliar, dengan total investasi Hong Kong di Indonesia yang telah menembus USD10 miliar dalam beberapa tahun terakhir.
Airlangga juga menyoroti perjanjian perdagangan bebas antara Hong Kong dan ASEAN yang berlaku sejak 2020 sebagai faktor penguat hubungan ekonomi dan bisnis di kawasan.
2. Peran media dan dialog kebijakan di tengah perubahan global

Di tengah pergeseran geopolitik dan pesatnya perkembangan teknologi, Tammy Tam, Publisher of South China Morning Post, menekankan pentingnya relasi yang terpercaya dan wawasan berbasis analisis mendalam.
“Relasi yang terpercaya dan pandangan para ahli kini menjadi kunci keberhasilan,” ujar Tammy, seraya menegaskan peran SCMP dalam menyampaikan narasi independen mengenai Tiongkok dan Asia Tenggara kepada pembaca global.
Ia menambahkan bahwa kemitraan strategis SCMP dengan KADIN Indonesia membuka ruang pertukaran perspektif antara dua ekonomi besar, yakni Tiongkok dan Indonesia, untuk menjangkau pengambil keputusan dan pemimpin bisnis di berbagai belahan dunia.
Kemitraan ini sekaligus menjadi fondasi bagi penyelenggaraan China Conference: Southeast Asia, yang dirancang sebagai forum berkelanjutan untuk menjembatani kepentingan kebijakan dan bisnis lintas kawasan.
3. Kolaborasi investasi dan masa depan pertumbuhan kawasan

Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Novyan Bakrie menilai konferensi ini relevan dalam memperkuat kerja sama investasi. Ia menyebut Indonesia, Tiongkok, dan Asia Tenggara berpotensi menjadi pusat pertumbuhan global baru dengan pasar lebih dari dua miliar penduduk.
Dari sisi investasi strategis, Danantara Indonesia berperan sebagai country host partner. Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menegaskan pentingnya tata kelola profesional dalam membangun kepercayaan investor global, termasuk penerapan business judgment rule dan pemisahan yang tegas dari kepentingan politik.
Konferensi ini telah dihadiri sekitar 500 peserta dari berbagai negara dan menghadirkan tokoh-tokoh penting dari sektor publik maupun swasta. Diskusi panel membahas isu strategis seperti dinamika AS–Tiongkok, rantai pasok China+1, akses permodalan, hingga ekspansi ekonomi digital, sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok menjelang APEC 2026 di Shenzhen.


















