Ketika Warisan Budaya Jadi Modal Penguatan Ekonomi Kota

- Rembuk Kebudayaan Kota Kita di Singkawang mempertemukan pemerintah, komunitas, dan generasi muda untuk menempatkan budaya sebagai penguat identitas, ketangguhan masyarakat, serta pembangunan kota.
- APEKSI dan pemerintah menilai warisan budaya dapat menggerakkan ekonomi kreatif, asalkan keunikan dan keterampilan lokal terjaga serta manfaatnya dibagikan adil kepada masyarakat.
- Forum mendorong kolaborasi lintas pihak, pelibatan anak muda, dan dukungan regulasi, data, ruang budaya, serta anggaran agar budaya terintegrasi dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan.
Bandung , IDN Times – Kebudayaan dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat identitas, ketangguhan masyarakat, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di perkotaan. Warisan sejarah, tradisi, pengetahuan lokal, dan ruang budaya dapat menjadi modal pembangunan apabila dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Rembuk Kebudayaan Kota Kita yang diselenggarakan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) bersama Pemerintah Kota Singkawang pada 15–17 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah kota, komunitas budaya, dan generasi muda untuk membahas peran kebudayaan dalam pembangunan.
Mengusung tema “Menolak Lupa, Menolak Runtuh, Menolak Punah”, kegiatan tersebut menyoroti pentingnya menjaga identitas kota sekaligus mengembangkan potensi ekonomi yang bersumber dari kekayaan budaya lokal.
Ketua Dewan Pengurus APEKSI sekaligus Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengatakan kebudayaan dapat menjadi pemersatu masyarakat sekaligus penggerak perekonomian. Ia juga menekankan pentingnya solidaritas antarkota dalam menghadapi tantangan perkotaan dan pelibatan generasi muda dalam pembangunan.
1. Kebudayaan dinilai penting untuk memperkuat identitas kota

Puncak perayaan Cap Go Meh Singkawang. (IDN Times/adpim). Eri Cahyadi menegaskan bahwa kota yang berkembang tidak seharusnya melupakan sejarah dan kebudayaannya. Menurutnya, pembangunan perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan dan memperkuat hubungan antarkota, termasuk ketika menghadapi bencana.
Ia mengatakan, “budaya merupakan pemersatu dan penggerak ekonomi. Budaya juga dapat menjadi kekuatan kota, di mana kota yang kuat tidak akan melupakan budaya dan sejarahnya," kata Eri, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Sabtu (17/10/2026).
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, turut menekankan bahwa pelestarian budaya harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ia mengajak pemerintah kota menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan jangka panjang, termasuk melalui pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.
“Budaya merupakan tuntunan, ia hadir di kelas, bukan sekadar di panggung,” ujarnya.
2. Warisan budaya berpotensi mendorong ekonomi kreatif

Ketika Warisan Budaya Jadi Modal Penguatan Ekonomi Kota (Dok. APEKSI) Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang hadir secara daring, menilai kekayaan budaya dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus nilai tambah ekonomi. Namun, pengembangannya perlu tetap menjaga keunikan, pengetahuan, dan keterampilan yang melekat pada budaya asal
“Warisan kota bukan sekadar artefak masa lalu. Warisan budaya adalah sumber termahal kita. Tantangan kita adalah mengubah identitas budaya ini menjadi nilai tambah ekonomi tanpa menghilangkan kekhasan dan keahliannya,” kata Irene.
Irene juga menekankan pentingnya memastikan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif lokal memperoleh manfaat yang adil dari karya yang bersumber dari kebudayaan mereka. Sementara itu, Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menyampaikan bahwa pemerintah kota memiliki posisi strategis dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis budaya, terutama ketika sumber daya alam dan industri manufaktur tidak selalu menjadi tumpuan utama perekonomian.
3. Keterlibatan orang muda diperluas melalui kegiatan budaya

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang (https://eventdaerah.kemenparekraf.go.id/) Rembuk Kebudayaan Kota Kita menjadi ruang bagi pemerintah kota untuk bertukar pengalaman mengenai pengelolaan kebudayaan dan identitas daerah. Sejumlah kota, antara lain Makassar, Singkawang, Yogyakarta, Semarang, dan Kediri, berbagi praktik serta tantangan dalam pemajuan kebudayaan.
Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, mengatakan jika "delegasi kota-kota anggota APEKSI sangat antusias di acara ini. Termasuk di Forum Kebudayaan. Suasana santai tapi serius saat memetakan ekosistem kebudayaan kota," kata Alwis.
"Semuanya akrab, leluasa berbagi pengalaman, cerita upaya dan tantangan yang dihadapi.”
Sebelum acara utama, APEKSI juga menggelar Forum Koordinasi Kebudayaan, sesi Participatory Urban Storytelling, dan Warga Muda Walking Tour pada 15 Oktober 2026. Peserta diajak mengenali identitas kota melalui cerita warga dan kunjungan ke sejumlah tempat di Singkawang, seperti Masjid Raya, vihara, dan Rumah Marga Tjia. Rangkaian kegiatan turut dilengkapi Pameran Foto Kebudayaan Kota Kita yang menampilkan potret tradisi, warisan budaya, dan dinamika ruang perkotaan.
APEKSI mendorong kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, komunitas budaya, akademisi, pelaku usaha, serta generasi muda agar kebudayaan terintegrasi dalam perencanaan pembangunan. Dukungan regulasi, kelembagaan, data, ruang budaya, dan anggaran dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program. Melalui forum ini, APEKSI berharap setiap kota dapat mengembangkan kebudayaan sesuai karakter dan kebutuhannya, sekaligus membangun ekonomi kreatif tanpa memutus hubungan dengan komunitas pemilik tradisi.






















