Kejar 12 Juta Talenta Digital, Siswi Jabar Dibina Sejak Dini

- Siswi di Jawa Barat disiapkan untuk mengisi kebutuhan 12 juta talenta digital pada 2030 melalui program Amazon Girls’ Tech Day.
- Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di Karawang dan Bekasi, dengan tujuan memicu minat teknologi sejak dini.
- Data terbaru menunjukkan adopsi AI di Indonesia tumbuh pesat, namun kesenjangan keterampilan digital masih menjadi tantangan yang perlu diatasi.
Bandung, IDN Times – Target ambisius pemerintah membangun 12 juta talenta digital pada 2030 tak hanya menjadi wacana. Di Jawa Barat, ratusan siswi dari tingkat SD hingga SMA mulai disiapkan untuk mengisi kebutuhan tersebut melalui program Amazon Girls’ Tech Day.
Program global yang digagas Amazon bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) ini melibatkan lebih dari 400 siswi dari 10 sekolah di Karawang dan Bekasi. Untuk pertama kalinya di Indonesia, kegiatan diperluas hingga jenjang sekolah dasar sebagai strategi menumbuhkan minat teknologi sejak usia dini.
Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Hafid, mengapresiasi kolaborasi lintas sektor ini. Menurutnya, kebutuhan talenta digital Indonesia terus meningkat seiring percepatan transformasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Target kami sebelumnya 9 juta talenta digital pada 2030, dan kini kami tingkatkan menjadi 12 juta. Perempuan muda harus menjadi bagian dari ekosistem tersebut,” ujarnya.
Ia menegaskan, teknologi bukan sekadar alat, tetapi sumber pemberdayaan bagi keluarga, komunitas, hingga bangsa. Pemerintah pun mendorong perluasan akses dan literasi digital agar generasi muda semakin siap menghadapi era AI.
1. Kenalkan AI, gaming, hingga robotika

Dalam kegiatan yang digelar 7 Februari tersebut, para siswi mengikuti berbagai lokakarya berbasis proyek, mulai dari pengenalan AI dan coding dasar, hingga pengembangan game dan robotika untuk pemula.
Indonesia Regional Manager of Data Center Operations AWS, Winu Adiarto, mengatakan perluasan program hingga tingkat SD menjadi langkah strategis untuk membangun rasa percaya diri sejak dini.
“Tujuan kami memicu minat sekaligus memastikan anak perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk memahami dan menciptakan teknologi di era AI,” katanya.
2. Tantangan kesenjangan keterampilan digital

Data terbaru menunjukkan adopsi AI di Indonesia tumbuh pesat, namun kesenjangan keterampilan digital masih menjadi tantangan. Hal ini menjadi alarm penting agar intervensi dilakukan sejak bangku sekolah.
Direktur Eksekutif PJI, Utami Anita Herawati, menilai bidang AI dan gaming masih kerap dipersepsikan sebagai ranah laki-laki. Karena itu, pendekatan komprehensif sejak SD hingga SMA dinilai krusial untuk mematahkan stereotip tersebut.
3. Dorong perempuan percaya diri berkarier di teknologi

VP Data & AI Mekari, Cecilia Astrid Maharani, menyebut saat ini kurang dari 5 persen perempuan memilih teknologi sebagai karier utama. Padahal, keberagaman perspektif sangat penting untuk inovasi.
Hal senada disampaikan Riris Marpaung, CEO GameChanger Studio. Ia menilai sektor gaming kini berkembang menjadi industri strategis yang membuka peluang global bagi talenta Indonesia.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara industri dan dunia pendidikan, program ini diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya lebih banyak talenta digital perempuan dari Jawa Barat yang siap bersaing di masa depan.

















