Jeni dan Perjalanannya di Balik Pemberdayaan Perempuan

- Jeni Adilasari membantu ibunya sejak remaja, menginspirasi tekad pengabdian.
- Setelah menjadi Account Officer PNM Mekaar, Jeni melihat perubahan nyata pada nasabah yang ia dampingi.
- Menerima kesempatan umrah gratis sebagai bentuk apresiasi atas kinerja terbaik dari program Employee Reward PNM.
Bandung, IDN Times – Setiap pukul tiga dini hari, ketika sebagian besar anak seusianya masih terlelap, sementara Jeni Adilasari sudah terbiasa bangun lebih awal. Di rumah sederhana di Bojonegoro, ia membantu ibunya membungkus nasi untuk dijual, bahkan sebagian dibawa ke sekolah untuk ditawarkan kepada teman-temannya.
Hari-hari masa remaja Jeni tak pernah lepas dari perjuangan keluarga. Sepulang sekolah, rumah kerap sepi karena ibunya belum pulang.
Rasa penasaran membuat Jeni bertanya kepada tetangga, yang kemudian menjawab bahwa sang ibu sedang “sekolah”.
Di lingkungannya, istilah “sekolah” bukan merujuk ruang kelas formal. Warga menggunakan sebutan itu untuk Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM) nasabah PNM Mekaar, ruang belajar bersama bagi para ibu untuk memahami pengelolaan usaha, keuangan, dan perencanaan masa depan.
Dari sanalah Jeni mulai memahami bahwa ibunya tak sekadar berjualan, melainkan sedang berjuang membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga.
1. Dari inspirasi keluarga tumbuh tekad pengabdian

Pengalaman melihat ibunya belajar dan berani bermimpi meninggalkan kesan mendalam bagi Jeni. Ia mulai memandang pertemuan Mekaar bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan ruang perubahan.
“Sejak itu saya punya tekad. Kalau ibu-ibu seperti ibu saya saja mau belajar dan berani bermimpi, saya ingin suatu hari bisa berdiri di samping mereka,” ujar Jeni, dari siaran pers yang diterima IDN Times, Jumat (30/1/2026).
Tekad itu terus tumbuh hingga Jeni menyelesaikan pendidikan SMA. Tanpa ragu, ia mendaftarkan diri sebagai Account Officer (AO) PNM Mekaar, pilihan yang baginya bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan pengabdian.
Program yang dulu membantu ibunya mendapatkan modal dan pendampingan kini menjadi ruang bagi Jeni untuk ikut mendampingi perempuan-perempuan prasejahtera membangun usaha mereka.
2. Lima tahun mendampingi, mimpi ikut bertumbuh

Selama lima tahun bergabung sebagai AO PNM Mekaar, Jeni menyaksikan perubahan nyata pada para nasabah yang ia dampingi. Bersamaan dengan itu, hidupnya sendiri ikut mengalami transformasi.
Ia perlahan menjadi penopang ekonomi keluarga, membantu adik-adiknya, dan mulai menandai satu per satu impian yang dulu terasa mustahil. Dalam proses mendampingi, Jeni belajar bahwa pemberdayaan bukan hanya soal modal, tetapi tentang kepercayaan diri dan konsistensi.
“Dari dulu saya selalu percaya, kalau kita menanam niat baik hal-hal baik semesta akan menemukan jalannya sendiri. Tugas kita cuma satu, konsisten berbuat baik walau perlahan,” ujarnya.
Kepercayaan itu menguat seiring pengalamannya melihat ibu-ibu nasabah Mekaar bangkit dan bertahan melalui usaha yang mereka jalankan.
3. Apresiasi kinerja yang bermakna personal

Pada Januari 2026, salah satu mimpi terbesar Jeni akhirnya terwujud. Melalui program Employee Reward PNM sebagai bentuk apresiasi atas kinerja terbaik, ia mendapatkan kesempatan umrah gratis.
Kesempatan tersebut menjadi momentum reflektif bagi Jeni, mengingat perjalanannya sejak remaja yang terbiasa membungkus nasi dini hari hingga kini mendampingi ribuan perempuan pelaku usaha ultra mikro.
“Kalau melihat ke belakang, saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini. Semua berawal dari niat untuk membantu dan berjalan bersama mereka,” tuturnya.
Kini, setiap kali duduk bersama para ibu dalam pertemuan mingguan, Jeni seakan melihat potongan hidupnya sendiri. Dari bangku “sekolah” Mekaar yang dulu ia saksikan, kini ia melanjutkan peran itu—membantu lebih banyak keluarga bertahan, tumbuh, dan berani bermimpi.


















