Hanya 30 Persen Pemda Ikuti Peta Kawasan Rawan Bencana

- Masyarakat pun acuh tak acuh
- Peta rawan bencana tidak dimanfaatkan oleh pemda dan masyarakat, meskipun informasinya sudah diberikan secara berkala.
- Jangan ada korban dulu baru sadar
- Pemda diingatkan untuk memanfaatkan peta kerawanan bencana sebelum terjadi bencana, agar dapat meminimalisir korban jiwa.
- Jawa Barat daerah rawan bencana
- 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat berpotensi mengalami gerakan tanah menengah, dengan banyak daerah yang berpotensi mengalami gerakan tanah.
Bandung, IDN Times - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memliiki peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) untuk setiap daerah di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. Peta ini menjabarkan bagaimana kondisi di setiap kawasan yang rawan dengan bencana termasuk longsor.
Kepala Tim Kerja Gerakan Tanah PVMBG Badan Geologi Oktori Prambada mengatakan, dalam peta ini diperlihatkan kawasan hingga di pedesaan mana yang memang rawan bencana. Kondisi daerah akan dibedakan dengan beberapa warna tergantung dengan tata ruangnya.
Peta ini setiap tahun diterbitkan bahkan bisa berubah-ubah setiap bulan. Sayangnya, peta ini tidak banyak dimanfaatkan pemerintah daerah (pemda) untuk melakukan mitigasi kebencanaan.
"Hanya 28 persen hingga 30 persen di Indonesia (manfaatkan peta kerawanan bencana) yang patuh dan mengikuti. Ini hasil survei dari 2024 dan memang ada sekitar 70 persen yang tidak memanfaatkan peta ini," kata Oktori dalam konferensi pers, Jumat (30/1/2026).
1. Masyarakat pun acuh tak acuh

Sementara itu, Pelaksana harian (Plh) PVMBG Badan Geologi Edi Slameto mengatakan, peta rawan bencana ini memang bukan hal baru. Yang jadi persoalan adalah kesadaran dari pemda dan masyarakat sekitar.
Sebab, bisa jadi mereka sudah mendapat informasi tersebut tapi panduan tersebut tidak diterapkan pada aktivitas keseharian.
"Seperti zona kerentanan tanah ini selalu diberikan peringatannya sebulan sekali ke pemda di seluruh Indonesia," ungkap Edi.
2. Jangan ada korban dulu baru sadar

Edi pun mengingatkan agar pemda segera memanfaatkan peta kerawanan bencana tersebut sebelum ada bencana yang terjadi seperti longsor di Cisarua, Bandung Barat. Sebab, peta ini diharap bisa meminimalisir korban jiwa ketika ada bencana menimpa masyarakat.
"Jangan harus ada korban dulu baru percaya. Makanya kita harus bisa ada kesadaran dari sekarang," kata dia.
3. Jawa Barat daerah rawan bencana

Beberapa daerah Jawa Barat mulai terdampak bencana alam di penghujung tahun 2025. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat pun memastikan, 27 kabupaten dan kota di Jabar berpotensi mengalami gerakan tanah menengah.
Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Teten Mulku Engkun mengatakan, berdasarkan data dari PVMBG Badan Geologi, dan BMKG dengan melakukan analisis kajian kondisi hujan, curah hujan, jenis tanah, dan lainnya seluruh daerah di Jabar berpotensi mengalami gerakan tanah menengah.
"Hampir di seluruh kabupaten kota di Jawa Barat potensi gerakan tanah menengah sampai dengan tinggi. Seperti di Kabupaten Bandung ada di Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cisarua, Cimenyan, Ciparay, Ciwidey, Ibun, Kertasari dan banyak lagi," ujar Teten.
Selain itu, ada juga di wilayah Kabupaten Bandung Barat, tepatnya di Lembang, Parongpong, Cisarua, Gunung Halu, dan Rongga. Daerah tersebut, kata Teten, berdasarkan analisis PVMBG dan BMKG berpotensi mengalami gerakan tanah.

















