Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jabar Perkuat Kemitraan Kawasan Rebana untuk Jadi Motor Ekonomi Baru
Pelabuhan Patimban yang masuk dalam kawasan Rebana Metropolitan berada di Kabupaten Subang. Dokumen Kemenhub

Bandung, IDN Times – Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Badan Pengelola Kawasan Rebana (BP Rebana) mempertegas komitmen mempercepat pembangunan Kawasan Rebana. Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan sejumlah naskah kerja sama dan deklarasi bersama di Gedung Sate, Kamis (26/2/2026).

Langkah ini menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa pengembangan Kawasan Rebana digarap secara terkoordinasi, didukung penuh secara politik, serta diperkuat tata kelola lintas sektor. Kawasan ini diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Jawa Barat berbasis industri, logistik, dan konektivitas regional hingga global.

1. Punya infrastruktur yang strategis

Inin Nastain/ BIJB Kertajati

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengatakan kawasan rebana memiliki keunggulan strategis dari sisi lokasi dan infrastruktur. wilayah ini terintegrasi dengan tol cisumdawu, tol cipali, rencana tol patimban, serta pelabuhan patimban dan bandara internasional di kawasan tersebut.

“rebana itu kawasan yang paling strategis, terintegrasi dengan tol cisumdawu, tol cipali, nanti ada tol patimban. ada pelabuhan patimban dan juga bandara. mudah-mudahan banyak yang bangun industri. saya melihat sudah mulai banyak dengan pendekatan yang dilakukan saat ini,” ujar dedi.

Menurutnya, konektivitas ini menjadi prasyarat utama untuk mendorong pengembangan industri dan logistik berskala besar di jawa barat bagian utara dan timur.

2. Investasi 2025 Tembus Rp36,67 Triliun

Keputusan Investasi di Tengah Ketidakpastian. (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kepala Pelaksana BP Rebana, Helmy Yahya, menyebut pengembangan kawasan mulai menunjukkan hasil konkret. Pada 2025, realisasi investasi di Kawasan Rebana mencapai Rp36,67 triliun atau tumbuh 56 persen dibandingkan 2024.

Capaian ini dinilai mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek kawasan, sekaligus efektivitas pendekatan kolaboratif yang dijalankan pemerintah provinsi dan daerah.

“Saya mohon dukungan warga Jawa Barat karena ini PR berat. Potensi kita luar biasa, tapi pengangguran dan kemiskinan masih tinggi. Semoga proyek Rebana inilah yang bisa menyerap tenaga kerja dan meningkatkan ekonomi,” kata Helmy.

Ia menambahkan, dalam lima tahun terakhir tingkat pengangguran di wilayah Rebana konsisten menurun. Bahkan, pertumbuhan ekonomi kawasan tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat maupun nasional.

“Kalau angka-angka makro sebuah kawasan tumbuh lebih cepat dari provinsi dan nasional, maka daerah itu akan menjadi motor ekonomi baru,” ujarnya.

Kawasan Rebana sendiri mencakup tujuh daerah, yakni Subang, Majalengka, Sumedang, Indramayu, Kuningan, Cirebon, dan Kota Cirebon.

3. Gandeng konsultan global

Groundbreaking pembangunan pabrik NPK Nitrat di kawasan industri Pupuk Kujang. (IDN Times/Pitoko)

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jabar juga menandatangani kesepakatan bersama dengan PT BDO Konsultan Indonesia terkait penguatan investasi dan tata kelola berkelanjutan di Kawasan Rebana. Kerja sama ini diharapkan mendorong penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta memperkuat promosi investasi.

Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, Pemprov Jabar menggandeng PT Daya5 Rekrutmen untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri sekaligus meningkatkan serapan tenaga kerja lokal.

Tak hanya itu, BP Rebana juga memperluas jejaring global melalui deklarasi bersama dengan Hangzhou Qiantang Center for Contemporary Internationalization Studies (QTCCIS). Kolaborasi ini membuka peluang promosi investasi, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kemitraan internasional guna mendorong internasionalisasi Kawasan Rebana.

Melalui penguatan kemitraan strategis ini, BP Rebana menegaskan perannya sebagai fasilitator dan orkestrator pembangunan kawasan. Targetnya jelas: menjadikan Rebana sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Editorial Team