Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hujan Deras Diprediksi Guyur Jabar, Warga Diminta Waspada

Hujan
Ilustrasi hujan di Bali (IDN Times/Ayu Afria)
Intinya sih...
  • La Nina lemah dan suhu laut hangat memicu awan hujan
  • Gelombang atmosfer dan belokan angin memperkuat hujan lebat
  • Puluhan daerah di Jabar berpotensi terdampak, warga diminta waspada
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Cuaca di Jawa Barat dalam sepekan ke depan diperkirakan tidak bersahabat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan berpotensi sangat lebat disertai kilat dan petir, akan mengguyur sejumlah wilayah hingga 29 Januari 2026.

Kondisi ini dipicu kombinasi dinamika atmosfer global hingga lokal yang tengah aktif di wilayah Jawa Barat.

1. La Nina Lemah hingga Suhu Laut Hangat Picu Awan Hujan

potret badai yang diambil dari International Space Station (commons.wikimedia.org/NASA/Goddard Space Flight Center)
potret badai yang diambil dari International Space Station (commons.wikimedia.org/NASA/Goddard Space Flight Center)

Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa pada skala global, indeks ENSO di wilayah Niño 3.4 saat ini berada pada fase negatif. Kondisi tersebut mengindikasikan La Nina lemah, yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.

“Dinamika ini mendukung peningkatan pembentukan awan hujan, terutama di wilayah Jawa Barat,” kata Teguh, Jumat (23/1/2026).

Tak hanya itu, suhu muka laut di sekitar perairan Indonesia terpantau relatif hangat. Kondisi ini berperan sebagai pemasok utama uap air ke atmosfer, sehingga memperbesar peluang terjadinya hujan dengan intensitas tinggi.

2. Gelombang Atmosfer dan Belokan Angin Perkuat Hujan Lebat

foto badai (unsplash.com/@noaa)
foto badai (unsplash.com/@noaa)

Pada skala regional, BMKG juga memantau aktifnya gelombang Kelvin dan Low Frequency di wilayah Pulau Jawa. Aktivitas ini berkontribusi terhadap peningkatan proses konvektif yang memicu hujan.

Selain itu, terpantau adanya belokan angin dan daerah konvergensi di wilayah Jawa Barat. Fenomena ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama ketika didukung kondisi atmosfer yang labil.

“Labilitas atmosfer saat ini berada pada kategori labil sedang hingga kuat, sehingga meningkatkan potensi terbentuknya awan konvektif skala lokal,” ujar Teguh.

3. Puluhan Daerah Berpotensi Terdampak, Warga Diminta Waspada

Situasi stasiun MRT saat terjadi Badai Kong Rey, Taiwan pada 31 Oktober 2024. (IDN Times/Santi Dewi)
Situasi stasiun MRT saat terjadi Badai Kong Rey, Taiwan pada 31 Oktober 2024. (IDN Times/Santi Dewi)

BMKG mencatat sejumlah wilayah di Jawa Barat berpotensi terdampak hujan lebat hingga sangat lebat dalam periode tersebut. Daerah-daerah itu meliputi Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten Karawang, Purwakarta, Subang, Cianjur, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kabupaten dan Kota Bandung, Bandung Barat, Kota Cimahi, Sumedang, Kabupaten dan Kota Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Garut, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, hingga Kabupaten Pangandaran.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan genangan.

“Masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif agar aktivitas harian tetap aman dan lancar. Cuaca bersifat dinamis, jadi tetap tenang, waspada, dan pantau informasi terkini dari BMKG,” pungkas Teguh.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

[QUIZ] Pemkot Bandung Hentikan Insinerator, Kamu Setuju atau Tidak?

23 Jan 2026, 09:00 WIBNews