Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hasil Ekspedisi Patriot ITB Ungkap Banyak PR di Wilayah Transmigrasi

Hasil Ekspedisi Patriot ITB Ungkap Banyak PR di Wilayah Transmigrasi
Hasil Ekspedisi Patriot ITB Ungkap Banyak PR di Wilayah Transmigrasi. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Ekspedisi Patriot ITB 2025 melibatkan 57 tim dosen di 21 provinsi untuk memetakan kondisi kawasan transmigrasi dan menemukan berbagai persoalan sosial serta ketidakpastian lahan.
  • Konflik sosial antarwarga dan masalah kepastian hak tanah menjadi hambatan utama, diperparah oleh infrastruktur minim serta ketidaksesuaian lahan dengan sektor pertanian yang direncanakan.
  • ITB merekomendasikan penyelesaian konflik dan pemetaan potensi ekonomi sejak awal agar pengembangan kawasan transmigrasi bisa berfokus pada sektor ekonomi, sosial, dan infrastruktur secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Kawasan transmigrasi selama ini identik dengan upaya pemerataan penduduk dan pembukaan lahan baru. Namun di balik itu, masih ada persoalan mendasar yang membayangi pengembangannya, mulai dari konflik sosial hingga ketidakpastian lahan.

Hal itu terungkap dari hasil keterlibatan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam Ekspedisi Patriot 2025. Sebanyak 57 tim dosen ITB diterjunkan ke 21 provinsi untuk memetakan kondisi kawasan transmigrasi sekaligus merumuskan rekomendasi pengembangannya.

Dosen ITB sekaligus penanggung jawab Tim Ekspedisi Patriot ITB 2025, Sri Maryati, menyebut temuan di lapangan menunjukkan pekerjaan rumah yang tidak sedikit. Meski begitu, ia menilai kawasan transmigrasi masih menyimpan banyak potensi jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.

1. Konflik sosial masih jadi persoalan paling mendesak

WhatsApp Image 2026-02-23 at 12.34.48 PM (1).jpeg
Pemaparan program patriot di kampus ITB. IDN Times/Debbie Sutrisno

Program transmigrasi selama puluhan tahun membantu pemerataan penduduk Indonesia. Namun, hasil pemantauan Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan masih ada persoalan dasar yang belum benar-benar tuntas: konflik di tingkat masyarakat.

Dosen ITB sekaligus penanggung jawab Tim Ekspedisi Patriot ITB 2025, Sri Maryati, mengatakan pihaknya terlibat dalam Ekspedisi Patriot yang diikuti 57 tim dosen dari berbagai kampus. ITB sendiri mengirim tim ke 21 provinsi. Menurut Sri, salah satu temuan paling menonjol adalah konflik di kawasan transmigrasi, dari skala kecil sampai cukup luas.

“Rekomendasi kami sebetulnya selesaikan dulu konflik yang ada. Konfliknya dari yang kecil sampai cukup luas, itu harus jadi prioritas,” ujar Sri.

Konflik tersebut bukan hanya antarwarga, tetapi juga terkait kepastian hak atas lahan. Banyak warga belum memperoleh status tanah yang benar-benar jelas atau clean and clear.

Dampaknya cukup serius. Ketika masalah sosial dan legal belum selesai, pengembangan ekonomi ikut terhambat. “Kalau masih ada konflik tentunya tidak ada investor yang datang,” kata dia.

Selain itu, banyak kawasan transmigrasi berkembang sangat lokal dan berskala kecil sehingga sulit naik kelas secara ekonomi.

2. Infrastruktur dan ketidaksesuaian lahan menghambat perkembangan

WhatsApp Image 2026-02-23 at 12.34.49 PM (2).jpeg
Pemaparan program patriot di kampus ITB. IDN Times/Debbie Sutrisno

Temuan lain yang muncul di lapangan adalah persoalan klasik seperti lahan dan infrastruktur. Banyak kawasan transmigrasi awalnya diarahkan untuk pertanian, padahal kondisi alamnya tidak selalu cocok.

Sri menjelaskan, pada masa lalu program transmigrasi berorientasi pada pemerataan penduduk. Karena mayoritas peserta berasal dari sektor pertanian, maka sektor yang dikembangkan kembali adalah pertanian. Masalahnya, tidak semua wilayah mendukung.

“Belum tentu cocok dengan kawasan dan lahannya. Bahkan ada daerah yang ternyata di bawahnya ada batubara, tentu tidak cocok untuk pertanian,” jelasnya.

Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar masih menjadi kebutuhan penting. Jalan, akses distribusi, hingga fasilitas ekonomi belum memadai di sejumlah lokasi, padahal infrastruktur adalah syarat utama menarik investasi.

“Kalau kita ingin menarik investor besar, infrastruktur sangat diperlukan,” kata Sri.

Kondisi ini membuat potensi ekonomi warga tidak berkembang optimal, meski sebenarnya peluangnya beragam.

3. Harus segera ada pementaan potensi ekonomi

Petani di Papua mengumpulkan kelapa sawit
Seorang petani mengumpulkan buah kelapa sawit di kawasan Transmigrasi Arso Provinsi Papua (Reuters)

Meski menemukan banyak persoalan, ITB juga membawa sejumlah rekomendasi solusi. Menurut Sri, langkah pertama tetap menyelesaikan konflik sosial dan kepastian lahan. Setelah itu, barulah pengembangan kawasan bisa berjalan melalui tiga jalur: ekonomi, sosial, dan infrastruktur.

ITB juga mendorong perubahan pendekatan transmigrasi ke depan: bukan sekadar memindahkan penduduk, tetapi memetakan potensi wilayah sejak awal.

“Program transmigrasi ke depan mestinya melakukan pemetaan potensi dulu di awal. Tidak hanya pertanian yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Hasil pengamatan mereka menunjukkan peluang ekonomi kawasan transmigrasi sebenarnya luas. Selain pertanian, ada potensi pariwisata, produk laut, hingga hilirisasi komoditas lokal. Menariknya, beberapa solusi bahkan sudah dicoba langsung oleh ITB menggunakan dana internal kampus, bukan hanya sebatas rekomendasi penelitian.

Sri menilai kehadiran tim kampus di lapangan juga memberi dampak sosial bagi warga. “Masyarakat merasa ada yang memperhatikan mereka. Kami tidak hanya meneliti, tapi juga berinteraksi dengan masyarakat,” kata dia.

Bagi ITB, program ini bukan hanya riset, tetapi juga membangun empati dan kolaborasi. Sementara bagi masyarakat transmigrasi, kehadiran akademisi memberi harapan bahwa pengembangan kawasan mereka masih menjadi perhatian negara.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More