Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harga Ayam Tembus Rp44 Ribu per Kg di Bandung, Pasar Murah Dimasifkan
Beberapa orang melewati lapak penjual daging ayam potong. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Harga daging ayam di pasar tradisional Bandung mencapai Rp44 ribu per kilogram akibat pasokan ke pasar menurun, setelah distribusi produksi terbagi untuk pasar dan SPPG.
  • Pemkot Bandung akan terus mengintervensi distribusi kebutuhan pokok untuk menjaga pasokan dan akses harga terjangkau, termasuk melalui Bazar Murah Utama selama dua pekan di 30 kecamatan.
  • Harga komoditas bazar rata-rata 20 persen lebih murah; sekitar 7.000 warga mengunjungi kegiatan tersebut. Pemkot memastikan kebutuhan pokok umum tidak langka, meski beras premium tertentu terbatas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harga ayam di Bandung naik jadi Rp44 ribu satu kilo. Pak Wali Kota Muhammad Farhan bilang ayam ke pasar jadi lebih sedikit karena dibagi ke tempat lain juga. Pemerintah Bandung bikin bazar murah di 30 kecamatan. Beras, telur, sayur, minyak, dan ayam dijual lebih murah. Barang pokok masih ada.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah kenaikan harga ayam, respons Pemkot Bandung menunjukkan perhatian pada akses pangan warga melalui intervensi distribusi dan Bazar Murah Utama di 30 kecamatan. Kolaborasi dengan Bulog, distributor, UMKM, dan mitra pasar modern menghadirkan kebutuhan pokok rata-rata 20 persen lebih murah, dengan antusiasme sekitar 7.000 pengunjung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Harga daging ayam di sejumlah pasar tradisonal Kota Bandung melonjak mencapai Rp44 ribu per kilogram (kg). Kenaikan harga tersebut menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Bandung di tengah upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan mengendalikan tekanan inflasi.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, kenaikan harga ayam terjadi karena pasokan yang masuk ke pasar mengalami penurunan. Kondisi tersebut berkaitan dengan perubahan pola distribusi ayam yang kini terbagi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Yang paling signifikan ayam, ya. Karena gini, produksi ayam itu memang tidak naik tetap. Tetapi dibagi dua, rupanya bisnis modelnya. Ada yang ke market, ke pasar, ada yang ke SPPG," ujar Farhan saat ditemui di Lapangan Puter, Kota Bandung, Jumat (11/9/2026).

1. Mekanisme pasar sulit dibendung

Pedagang ayam potong di Pasar Randik Sekayu saat melayani pembeli. (IDN Times/Yuliani)

Farhan menjelaskan pembagian pasokan tersebut membuat jumlah ayam yang tersedia untuk pasar mengalami penurunan. Ketika suplai berkurang, harga kemudian bergerak mengikuti mekanisme pasar.

"Nah, karena pecah inilah, maka jumlah suplai ke pasar ini agak menurun. Sehingga harga sesuai dengan mekanisme pasar menjadi meningkat," katanya.

Saat ini, harga daging ayam di pasar mencapai sekitar Rp44 ribu per kilogram. Farhan mengatakan kenaikan harga ayam tersebut memang cukup signifikan. Namun, dia membantah jika lonjakan harga sepenuhnya disebabkan oleh pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Enggak. Gara-gara bisnis modelnya beda," ujarnya.

Menurut Farhan, perubahan jalur distribusi menjadi salah satu faktor yang membuat pasokan ayam untuk pasar berkurang.

2. Pemkot Bandung intervensi distribusi untuk jaga inflasi

Pasar Murah Digelar Polrestabes Bandung, Sediakan 17 Komoditas

Di sisi lain, pemerintah tidak bisa hanya melihat persoalan inflasi dari sisi harga. Distribusi menjadi faktor penting yang harus dijaga agar pasokan kebutuhan pokok ke Kota Bandung tetap tersedia.

"Kalau inflasi, betul-betul sangat tergantung kepada distribusi. Nah, distribusi ini yang akan kita intervensi terus, memastikan bahwa distribusi barang kebutuhan pokok ke Kota Bandung itu tidak berkurang dan tetap melimpah barangnya," tuturnya.

Menurut dia, inflasi memang bukan lagi menjadi perhatian utama Pemkot Bandung. Namun, pemerintah tetap harus memastikan masyarakat memiliki akses terhadap bahan kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.

Salah satu intervensi tersebut dilakukan melalui Bazar Murah Utama yang digelar selama dua pekan di 30 kecamatan.

Kegiatan itu menggandeng Bulog, distributor, pelaku UMKM pertanian, pelaku UMKM lainnya, hingga mitra pasar modern. Sejumlah kebutuhan pokok dijual dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasaran.

"Kalau ini, sebetulnya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan harga yang disubsidi," kata Farhan.

3. Harga kebutuhan pokok di bazar rata-rata 20 persen lebih murah

Pasar Murah Digelar Polrestabes Bandung, Sediakan 17 Komoditas

Farhan mengatakan harga sejumlah komoditas dalam bazar rata-rata sekitar 20 persen lebih murah dibandingkan harga di pasaran. Selain daging ayam, terdapat beras SPHP, telur, sayuran, dan Minyakita.

Untuk komoditas yang disediakan Bulog, harga mendapat subsidi. Sementara sejumlah produk dari distributor dan toko ritel diberikan dalam bentuk potongan harga.

"Memang kita tidak bisa terus-menerus memberikan harga disubsidi, tetapi dengan beras SPHP yang kita subsidi, beberapa kebutuhan pokok seperti daging, telur, sayur-sayuran yang disubsidi, maka masyarakat juga bisa mendapatkan harga kebutuhan pokok sehari-hari yang murah," ujarnya.

Dari seluruh komoditas yang tersedia, beras, Minyakita, dan telur menjadi barang yang paling banyak dicari masyarakat. Farhan menyebut, telur menjadi salah satu sumber protein yang banyak dipilih karena harganya relatif terjangkau dan distribusinya cukup banyak.

Sementara itu, pelaksanaan bazar murah mendapat respons cukup tinggi dari masyarakat. Rata-rata 200 hingga 250 orang mengunjungi setiap titik bazar.

Jika dikumulatifkan dari 30 kecamatan, jumlah pengunjung mencapai sekitar 7.000 orang. Omzet penjualan hingga sebelum tiga titik terakhir tercatat Rp1,9 miliar dan diperkirakan mencapai sekitar Rp2,2 miliar setelah seluruh kegiatan selesai.

4. Tak ada kelangkaan bahan pokok

Pasar Murah Digelar Polrestabes Bandung, Sediakan 17 Komoditas

Farhan memastikan secara umum tidak ada kelangkaan kebutuhan pokok. Namun, pemerintah membedakan antara ketersediaan komoditas secara umum dengan kelangkaan pada jenis produk tertentu.

Ia mencontohkan beras. Menurutnya, beras secara umum masih tersedia, tetapi beras premium dengan harga tertentu mengalami keterbatasan karena tingginya permintaan.

"Jadi maka kita harus membedakan bahasa antara apakah beras langka? Tidak. Apakah beras premium langka? Ya," katanya.

Di sisi lain, Pemkot Bandung juga masih berupaya memastikan kebutuhan SPPG tidak mengganggu pasokan komoditas untuk pasar masyarakat.

"Kami kemarin menemukan di Mandalajati ada satu gangguan, tetapi juga justru akan meningkatkan perekonomian rakyat, bukan kemudian berebut salah satu komoditas dengan pasar," ujar Farhan.

Editorial Team

Related Article