Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gubernur Dedi Mulyadi Tutup Permanen Lima Pabrik Kapur Cipatat
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memerintahkan penutupan permanen lima dari 18 pabrik kapur di Cipatat setelah ditemukan pelanggaran oleh pengelola.
  • Sebanyak 13 pabrik lain ditutup sementara agar memperbaiki dampak lingkungan, di tengah dugaan masalah izin, upah pekerja, serta ketiadaan jaminan kesehatan dan hari tua.
  • Sekitar 500 pekerja terdampak penutupan lima pabrik akan ditampung di Pekerjaan Umum dengan gaji Rp4,2 juta; pemerintah juga menyoroti debu kapur dan risiko longsor pegunungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
16 Juli 2026

Dedi Mulyadi mengungkap dugaan pelanggaran ketenagakerjaan dan perizinan di pabrik kapur Cipatat. Ia meminta DLH melakukan uji laboratorium atas dampak debu kapur.

seminggu lagi

Hasil uji laboratorium yang diminta Dedi kepada DLH dijadwalkan keluar.

29 Juli 2026

Dedi memerintahkan penutupan permanen lima dari 18 pabrik kapur Cipatat yang dinilai melanggar. Sebanyak 13 pabrik lainnya ditutup sementara untuk memperbaiki dampak lingkungan, sementara pekerja dari lima pabrik akan dialihkan ke lingkungan Pemprov Jabar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gubernur Jawa Barat memerintahkan penutupan permanen lima pabrik pengolahan kapur di Cipatat dan penutupan sementara 13 pabrik lainnya untuk perbaikan.
  • Who?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, 18 perusahaan pengolahan kapur, pekerja terdampak, Pemprov Jawa Barat, Dinas Lingkungan Hidup, dan Dinas Pekerjaan Umum terlibat dalam penanganan ini.
  • Where?
    Penutupan menyasar pabrik pengolahan kapur di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Perintah tersebut disampaikan Dedi Mulyadi di TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung.
  • When?
    Dedi Mulyadi menyampaikan perintah penutupan pada Rabu, 29 Juli 2026. Hasil tes laboratorium yang diminta kepada DLH saat itu masih menunggu informasi lebih lanjut.
  • Why?
    Lima pabrik dinyatakan melanggar. Ditemukan dugaan perusahaan tidak berizin, pelanggaran upah dan jaminan sosial pekerja, dampak debu terhadap lingkungan, serta potensi kerusakan pegunungan.
  • How?
    Pemprov Jawa Barat menelusuri dugaan pelanggaran, menutup lima pabrik secara permanen, dan menghentikan sementara 13 pabrik untuk pembenahan. Sekitar 500 pekerja direncanakan dialihkan ke Pekerjaan Umum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gubernur Dedi Mulyadi menutup lima pabrik kapur di Cipatat selamanya karena diduga melanggar aturan. Tiga belas pabrik lain ditutup dulu supaya memperbaiki keadaan. Banyak pekerja katanya dibayar kurang dan tidak punya jaminan kesehatan. Sekitar 500 pekerja akan dibantu bekerja di PU. Debu kapur juga membuat daerah jadi putih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penutupan permanen dan sementara terhadap pabrik yang diduga melanggar menunjukkan penanganan yang menempatkan keselamatan lingkungan serta hak pekerja dalam perhatian yang sama. Di tengah pembenahan dampak debu dan kondisi pegunungan, rencana menampung 500 pekerja di PU dengan upah lebih tinggi memberi perlindungan transisi yang konkret.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi memastikan bakal menutup secara permanen lima dari 18 pabrik pengolahan kapur yang berada di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Penutupan dilakukan setelah sebelumnya tim Pemprov Jabar melakukan penelusuran lebih mendalam atas temuan dugaan pelanggaran yang dilakukan para pengelola.

"Sudah perintahkan dari 18 perusahaan itu kan ada yang lima sudah itu melanggar. Yang lima itu saya minta ditutup," kata dia saat ditemui di TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung, pada Rabu (29/7/2026).

1. Sebanyak 13 pabrik lainnya dapat sanksi penutupan sementara

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sedangkan, sebanyak 13 pabrik lainnya akan diberikan sanksi penutupan sementara. Dedi meminta para pemilik pabrik itu untuk melakukan pembenahan terlebih dahulu atas dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas pengolahan kapur.

"Kemudian sisanya yang 13 itu ditutup sementara untuk melakukan perbaikan," ucap dia.

Adapun para pekerja yang kehilangan pekerjaan akibat ditutupnya lima pabrik, akan dialihkan untuk bekerja di lingkungan Pemprov Jabar. Menurut Dedi, upah yang diterima mereka akan lebih tinggi dibanding bekerja di pabrik pengolahan kapur.

"Yang 500 ditampung oleh PU (Pekerjaan Umum). Dan itu pun digaji di bawah Rp2 juta itu rata-rata, di PU kan gajinya Rp4,2 juta," kata dia.

2. Banyak perusahaan yang tidak terdaftar

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkap adanya dugaan pelanggaran ketanakerjaan dari pabrik-pabrik pengelolahan batu kapur di wilayah tersebut. Salah satu yang mencengangkan, pabrik-pabrik itu banyak yang belum berizin.

Dedi Mulyadi juga mendapatkan fakta lainnya di mana para pegawai yang dipekerjakan tidak diberikan upah dan jaminan kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan.

"Saya keliling tuh di Cipatat. Pertama, perusahaan-perusahaan itu banyak yang tidak terdaftar. Yang keduanya, karyawannya dibayar tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang. Tidak ada jaminan kesehatan, tidak ada jaminan hari tua," ujar Dedi, dikutip Kamis (16/7/2026).

3. Minta perusahaan pabrik pengolahan batu kapur lebih tertib

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Berdasarkan data yang didapatkannya di lokasi, ada sekitar sebelas perusahaan lebih yang diduga melanggar peraturan ketenagakerjaan. Belum lagi, produksi pabrik-pabrik tersebut turut berdampak langsung ke masyarakat sekitar.

"Dan itu saya cek tadi itu lebih dari sebelas perusahaan. Itu baru di internal. Di eksternalnya bisa dilihat debu yang dari kapurnya itu sekarang udah berwarna putih itu Cipatat. Maka saya sudah minta DLH untuk melakukan tes lab. Katanya seminggu lagi keluar hasilnya," kata Dedi.

Dampak lain dari aktivitas pengolahan batu kapur ini yaitu berpotensi memicu bencana alam. Dedi melihat langsung area pegunungan di sekitar lokasi yang kondisinya sudah mengkhawatirkan.

"Yang berikutnya ada ancaman lagi gunung. Nah gunung itu, di sisinya rapih, coba naik motor ke dalam. Itu sudah diambil di bagian bawahnya, maka potensinya bisa roboh. Nah nanti kalau saya misalnya ditutup sementara pasti ribut," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article