Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Farhan Siap Tawarkan Pengembangan TPA Jelekong Bandung ke Investor
Farhan Buka Opsi Tawarkan Oengembangan TPA Jelekong Bandung pada Investor. Dok Diskomimfo Bandung
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membuka peluang investasi untuk mengembangkan TPA Jelekong agar menjadi pusat pengolahan sampah terpadu, dengan fokus pada pembangunan akses jalan dan infrastruktur dasar.
  • Pemerintah pusat melalui Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mendorong percepatan penanganan sampah terintegrasi dari hulu ke hilir, termasuk rencana pembangunan fasilitas PSEL di eks TPA Jelekong.
  • Hanif menegaskan pentingnya perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak rumah tangga, karena partisipasi aktif warga menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan di Bandung Raya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membuka opsi untuk menawarkan pengembangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jelekong, Kabupaten Bandung, kepada para investor guna mempercepat pembangunan infrastruktur dan pengolahan sampah terpadu di kawasan Bandung Raya.

Farhan mengatakan lahan eks TPA Jelekong telah tersedia, namun akses jalan menuju lokasi masih perlu diperjuangkan agar proyek dapat berjalan optimal. “Lahannya ada, memang aksesnya mesti diperjuangkan. Harus diperjuangkan. Kalau diizinkan, saya akan kumpulkan beberapa teman untuk diskusi, mencari pelaku usaha yang bisa bantu kita berinvestasi ke sini,” kata Farhan, Sabtu (28/2/2026).

1. Perbaikan infrastruktur kawasan itu harus diperbaiki

Pengelolaan sampah di Kota Bandung. Dok Diskominfo

Menurut dia, skema pembiayaan pengembangan TPA sebenarnya telah tersedia melalui konsep pendanaan tertentu. Namun, realisasinya harus dibarengi pembangunan infrastruktur dasar secara paralel, terutama akses jalan menuju kawasan tersebut.

Ia membuka opsi pembiayaan bersama antara Pemkot Bandung dan Pemerintah Kabupaten Bandung untuk membangun akses baru dari Kilometer 151 langsung menuju TPA Jelekong.

“Kalau kita patungan bikin jalan akses masuk ke sini, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung pasti sama-sama untung. Benefit-nya jelas ada,” ujarnya.

Farhan mengungkapkan produksi sampah Kota Bandung mencapai sekitar 1.500 ton per hari, sementara Kabupaten Bandung sekitar 1.800 ton per hari. Artinya, dua daerah ini sudah menghasilkan hampir 3.300 ton sampah setiap hari, dengan sekitar 80 persen masih dikelola menggunakan sistem open dumping.

Ia menilai pengembangan Jelekong dapat menjadi solusi strategis bersama untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di wilayah Bandung Raya apabila dilakukan secara serius dan terintegrasi.

2. Menteri LH Minta Pemkot Bandung percepat penangan sampah

Pengelolaan sampah di Kota Bandung. Dok Diskominfo

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, melakukan kunjungan kerja ke Kota Bandung untuk mempercepat penanganan sampah secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Hanif menegaskan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dengan pemilahan di sumbernya dan tidak hanya mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), terutama di kawasan dengan timbulan sampah tinggi seperti pasar.

“Kita harus memulai dari rumah, pasar, dan pusat-pusat kegiatan lainnya untuk memilah sampah secara benar. Sampah yang dikelola dengan tepat sejak awal akan mengurangi beban TPA,” ujar Menteri Hanif.

Dalam upaya jangka panjang, Menteri Hanif melakukan tinjauan ke calon lokasi pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan eks TPA Jelekong. Fasilitas ini juga diharapkan dapat mengurangi volume sampah dan menghasilkan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

3. Perilaku masysarakat juga harus diperbaiki

Pengelolaan sampah di Kota Bandung. Dok Diskominfo

Meskipun telah menunjukkan kemajuan, Kota Bandung masih sangat memerlukan perhatian karena berdasarkan evaluasi kinerja pengelolaan sampah tahun 2025, Kota Bandung termasuk dalam daftar 253 kabupaten/kota yang masih berada dalam kategori pembinaan. Oleh karena itu, Hanif menekankan bahwa komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah sejak awal sangat krusial.

“Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama pengelolaan sampah yang efektif. Tanpa partisipasi aktif dalam pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, pengelolaan sampah yang berkelanjutan sulit tercapai,” tegas Menteri Hanif di sela-sela kunjungannya.

Editorial Team