Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Farhan Ungkap Ada Faktor Lain yang Membuat Angka Stunting Bandung Tinggi
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Prevalensi stunting di Kota Bandung mencapai 22,8 persen, lebih tinggi dari target nasional 16 persen, dan menjadi perhatian serius bagi Wali Kota Muhammad Farhan.
  • Farhan menilai penyebab utama bukan kekurangan pangan, melainkan faktor lingkungan seperti kualitas udara buruk, sanitasi tidak layak, serta sumber air yang belum memenuhi standar kesehatan.
  • Pemerintah Kota Bandung menggerakkan seluruh OPD untuk pemetaan wilayah, optimalisasi Dapur Dahshat, serta pengujian kualitas air sungai demi mewujudkan target Zero New Stunting secara bertahap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
16 Juli 2026

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menanggapi hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang mencatat prevalensi stunting di Kota Bandung sebesar 22,8 persen. Ia menyebut kondisi ini sebagai alarm bagi pemerintah kota untuk bekerja lebih serius dan terbuka.

kini

Pemerintah Kota Bandung tengah mengidentifikasi faktor penyebab stunting seperti sanitasi buruk dan kualitas air rendah. Farhan menginstruksikan optimalisasi Dapur Dahshat, pemetaan kualitas air Sungai Cikapundung, serta evaluasi rutin setiap Senin ketiga untuk mencapai target Zero New Stunting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Prevalensi stunting di Kota Bandung mencapai 22,8 persen, lebih tinggi dari target nasional 16 persen, dan pemerintah kota menyiapkan langkah lintas sektor untuk menurunkan angka tersebut.
  • Who?
    Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama jajaran organisasi perangkat daerah, camat, lurah, serta dinas terkait seperti DPPKB dan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga.
  • Where?
    Kota Bandung, Jawa Barat, dengan beberapa titik pemantauan termasuk wilayah permukiman dan aliran Sungai Cikapundung.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Kamis, 16 Juli 2026, saat pemerintah kota membahas hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru.
  • Why?
    Tingginya angka stunting diduga dipengaruhi faktor non-gizi seperti kualitas udara buruk, sanitasi tidak memadai, serta sumber air yang belum layak di sejumlah wilayah.
  • How?
    Pemerintah kota menginstruksikan pemetaan masalah per wilayah, optimalisasi program Dapur Dahshat dan Makan Bergizi Gratis, serta pengujian kualitas air sungai untuk mendukung target Zero New Stunting.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Bandung banyak anak masih tumbuh kecil karena stunting. Pak Wali Kota Farhan bilang ini bukan cuma soal makanan, tapi juga udara kotor, air kurang bersih, dan toilet yang belum bagus. Banyak rumah belum punya septic tank. Sekarang semua petugas diminta kerja sama supaya air, makanan, dan lingkungan jadi sehat biar anak-anak bisa tumbuh kuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meskipun angka stunting di Bandung masih tinggi, pernyataan Wali Kota Farhan menunjukkan langkah positif menuju perubahan. Ia menekankan pentingnya keterbukaan, kolaborasi lintas sektor, dan pemetaan wilayah untuk menemukan solusi tepat sasaran. Pendekatan ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memahami akar masalah dan membangun sistem penanganan yang lebih terintegrasi serta berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menyatakan, prevalensi stunting di Kota Bandung masih berada di angka 22,8 persen. Jika dibandingkan dengan target nasional angkanya jauh lebih besar, karena pemerintah pusat menargetkan di 16 persen.

Merespons hal ini, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kondisi tersebut menjadi alarm bagi seluruh jajaran pemerintah untuk bekerja lebih serius dan terbuka dalam menghadapi persoalan yang ada.

"Kalau kita menyangkal bahwa kita sedang bermasalah, maka masalah itu akan semakin jauh dari solusi. Kami harus berani mengakui kondisi ini agar bisa mencari jalan keluarnya bersama," ujar Farhan, Kamis (16/7/2026).

1. Farhan klaim gizi di Kota Bandung terbilang baik

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Persoalan stunting di Kota Bandung, kata Farhan, tidak disebabkan oleh kurangnya pasokan pangan. Bandung disebut memperoleh pasokan bahan pangan dari sedikitnya 16 provinsi di Indonesia.

"Kalau soal suplai makanan, Kota Bandung tidak ada masalah sama sekali. Jadi jangan-jangan persoalannya bukan semata-mata gizi. Ada faktor-faktor lain yang harus kita selesaikan bersama," katanya.

Menurut dia, ada persoalan yang dinilai berkontribusi terhadap tingginya angka stunting, di antaranya kualitas udara yang masih buruk, kondisi sanitasi yang belum memadai, hingga kualitas sumber air yang perlu terus diperbaiki.

2. Persoalan stunting tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Berdasarkan data kewilayahan, kata dia, sekitar 27 persen rumah di Kota Bandung belum memiliki septic tank yang layak, sehingga berpotensi melakukan buang air besar sembarangan (BABS). Kondisi itu berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

"Persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh Dinas Kesehatan. Ini membutuhkan kerja bersama seluruh perangkat daerah karena sifatnya lintas sektor," ucap Farhan.

Dengan begitu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), camat, dan lurah melakukan identifikasi persoalan di wilayah masing-masing. Setiap wilayah, memiliki tantangan yang berbeda sehingga solusi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

"Kewilayahan menjadi garda terdepan. Ada wilayah yang persoalannya banjir, ada yang sanitasi, ada yang kualitas air. Semua harus dipetakan agar intervensinya tepat sasaran," ujarnya.

3. Makanan dari program MBG harus diolah kembali

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Kemudian, Farhan menginstruksikan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) untuk mengoptimalkan Dapur Dahsyat di setiap kelurahan sebagai pusat pengolahan makanan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang mengalami kekurangan gizi.

Menurutnya, makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diolah kembali agar kandungan gizinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan kelompok rentan.

Selain itu, Farhan meminta Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga mulai memetakan kualitas air sungai, termasuk melakukan pengujian kandungan bakteri Escherichia coli di beberapa titik Sungai Cikapundung sebagai dasar penyusunan kebijakan kesehatan lingkungan.

Farhan menargetkan Kota Bandung mampu mewujudkan Zero New Stunting, yakni tidak muncul lagi kasus stunting baru. Namun ia menyatakan, target tersebut merupakan proses yang harus dicapai melalui kerja nyata, evaluasi rutin, serta kolaborasi seluruh pihak.

"Zero New Stunting bukan keajaiban, tetapi sebuah proses. Setiap Senin ketiga setiap bulan, saya minta laporan perkembangan sehingga tahu apa yang sudah berhasil dan yang masih harus diperbaiki," kata Farhan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article