Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gizi Lokal dan Fortifikasi, Kombinasi Kunci Menekan Angka Stunting

Gizi Lokal dan Fortifikasi, Kombinasi Kunci Menekan Angka Stunting
Mahesa Rayyan (kanan) sedang menyantap telur rebus dari program MBG, Selasa (31/3/2026). IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya Sih
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan pemerintah untuk menekan angka stunting dengan menyediakan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui di berbagai daerah termasuk Kabupaten Bandung.
  • Data BPS menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen pada 2024, namun masih di atas target pemerintah; program MBG terbukti meningkatkan gizi dan konsentrasi belajar siswa.
  • Pemerintah mendorong pemanfaatan pangan lokal serta fortifikasi bahan makanan seperti garam beryodium dan tepung berzat besi guna memperkuat ketahanan gizi masyarakat dan mencegah anemia penyebab stunting.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Menu makanan bergizi gratis (MBG) dikeluarkan Mahesa Rayyan dari dalam tas usai pulang dari sekolah. Satu buah telur rebus, roti, susu kemasan, dan beberapa camilan lain menjadi menu yang didapat anak lima tahun tersebut pada hari kedua masuk sekolah usai libur panjang Idulfitri 2026.

Makanan bergizi yang menjadi program prioritas pemerintah ini baru didapat Rayyan sebelum bulan puasa dimulai. Itu sehubungan baru berdirinya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tak jauh dari sekolahnya di kawasan Pasir Jati, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ketika memasuki Ramadan, MBG yang didapat diberikan dua kali dalam seminggu setiap Senin dan Rabu. Ada makanan yang harus dimasak seperti ayam, tahu, tempe, ada juga rebusan seperti ubi, dimsum, serta telur.

"Enak ada telur rebus kesukaan aku," ujar Rayyan saat menyantap makanan yang didapat dari sekolahnya, Selasa (31/3/2026). Tak butuh waktu lama, telur, susu dan pisang yang ada pun langsung dihabiskannya. Senyum merekah pun terpaut pada wajah Rayyan usai menyantap makanan tersebut.

Makan bergizi gratis memang menjadi program yang dipersiapkan pemerintahan Prabowo-Gibran bahkan sebelum mereka menjabat sebagai presiden dan wakil presiden. Pemberian asupan makanan bergizi ini salah memiliki tujuan utama untuk menurunkan prevalensi gizi buruk dan stunting pada kelompok rentan, yakni balita, anak sekolah, hingga ibu hamil atau menyusui melalui pemenuhan gizi seimbang. Ini dijalankan demi memastikan pertumbuhan fisik dan kognitif optimal, mencegah malnutrisi permanen, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi stunting di Indonesia pada 2024 berhasil turun menjadi 19,8 persen. Meskipun turun di bawah 20 persen untuk pertama kalinya, angka ini masih tergolong tinggi menurut standar WHO dan belum mencapai target pemerintah di angka 14 persen. Sementara di Kabupaten Bandung tempat Mahesa dan Setia tinggal menjadi salah satu daerah angka stuntingnya cukup tinggi 8,87 persen.

Presentase stunting di jabar 2024.jpeg
Presentase angka Stunting di Jawa Barat tiap kabupaten/kota pada 2024. IDN Times/Debbie Sutrisno

Menyantap MBG tidak hanya dilakukan Rayyan. Setia, ibu Rayyan juga mendapatkan menu tersebut karena dia masih memiliki bayi berusia 10 bulan. Setia masuk dalam kategori ibu menyusui dan harus mendapatkan asupan makanan bergizi. Bahkan makanan bergizi pun didapat anak keduanya, Kaynara.

"Saya juga dapat. MBG suka ada dibawa ke masjid deket rumah terus nanti bisa diambil dari sana. Anak saya juga dapat yang 10 bulan, jadi setiap hari dapat tiga paket," kata Setia.

Menurutnya, menu dari MBG cukup bervariasi, mulai makanan kekinian seperti dimsum hingga makanan bergizi lokal seperti umbi-umbian baik ketang atau ubi kukus. Perubahan menu makan seperti ini dinilai bagus sehingga anak tidak bosan ketika setiap hari mendapat makanan bergizi dari sekolah.

"Mending kata gini jadi ga itu-itu aja makanannya. Dicampur makanan lokal buat anak juga tahu kalau makanan itu banyak yang enak," ungkapnya.

Perbaikan gizi anak belum terlambat

Ilustrasi foto pengukuran tinggi badan oleh tenaga kesehatan kepada anak-anak
Ilustrasi edukasi pencegahan stunting melalui komunikasi publik. (Sumber: unair.ac.id)

Studi yang diterbitkan dalam Indonesia Journal of Intellectual Publication (Rif’iy Qomarrullah, 2025), memperlihatkan bahwa ada perbaikan gizi yang didapatkan para siswa setelah mengikuti program makan bergizi dari sekolah layaknya MBG. Program seperti itu memberikan dampak positif terhadap kesehatan siswa dalam jangka panjang di mana ditemukan bahwa angka kejadian stunting dan malnutrisi mengalami penurunan signifikan di sekolah-sekolah yang telah menjalankan program tersebut.

Hasil observasi partisipatif juga mengungkapkan bahwa siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan ekstrakurikuler setelah mengikuti program pemberian makan bergizi. Hal itu memperlihatkan bahwa anak-anak dengan asupan gizi yang cukup memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dan lebih mampu berkonsentrasi dalam proses belajar. Dengan demikian, MBG berpotensi berkontribusi tidak hanya terhadap kesehatan fisik, tetapi juga terhadap kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran secara optimal.

Harapan agar ada perbaikan gizi pada anak-anak agar memiliki masa depan lebih baik salah satunya disampaikan Eni. Wanita paruh baya ini senang karena kelima cucunya sekarang mendapatkan MBG setiap hari. Dia menilai bahwa program pemberian makanan tersebut berdampak baik pada pemenuhan gizi keluarganya. Sebab, hampir setiap hari mereka bisa mendapatkan telur rebus secara gratis dan ini sangat membantu seluruh cucunya ketika sulit makan.

"Kalau ada telur rebus atau susu mereka kadang ga makan di sekolah, di bawah ke rumah jadi di makan pas pulang sekolah. Alhamdulillah makan jadi ada stok telur kalau telat masak," kata dia.

Eni menuturkan, selama ini makanan yang dimasak di rumah tidak terlalu mempertimbangkan gizi, asal kenyang saja. Dengan adanya MBG yang didapat diharap semua cucu Eni bisa mendapatkan asupan gizi sesuai sehingga tumbuh kembangnya ke depan semakin baik.

"Minimal dari sekarang makannya jadi lebih bagus menunya. Semoga cucu saya lebih sehat," ungkapnya.

Mendapat makanan yang bergizi juga disyukuri oleh Lucas Adinata (15), siswa salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Bandung. Terlebih menu yang diberikan bisa sesuai dengan kebiasaan dia yang tidak menyantap nasi.

Lucas pun mendapatkan kentang yang menjadi kesukaannya ditambah sayur dan telur. Belum lagi ada susu menambah kenikmatan bagi Lucas dan teman-temannya saat menyantap makan siang tersebut. "Jadi kentang aja ga apa-apa gantinya memang suka makan itu, apa saja juga yang penting ada karbohidratnya," kata dia.

Optimalkan hasil bumi

ilustrasi bahan pangan lokal (pexels.com/Mark Stebnicki)
ilustrasi bahan pangan lokal (pexels.com/Mark Stebnicki)

Komitmen untuk menghadirkan pangan dari petani lokal coba dilakukan Pemkab Sumedang. Pemerintah daerah (Pemda) sudah melakukan pemantauan produk pangan lokal apa saja yang ada dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pemenuhan makan bergizi untuk anak, ibu menyusui, hingga lansia.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang, Tuti Ruswati menuturkan bahwa Kabupaten Sumedang sudah memiliki sistem pemantauan dan pelaksanaan program MBG. Dari sistem itu, pihaknya memiliki data ketersediaan bahan baku pangan, sehingga menu bisa disesuaikan dengan pasokan lokal yang tersedia.

"Tentunya dengan tetap memenuhi standar gizi," ungkap Tuti dikutip dari keterangan resmi.

Menurutnya, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Cirebon Raya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Sumedang untuk memastikan ketersediaan data pasokan pangan daerah. Selain itu, pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) juga menjadi perhatian guna menjamin keamanan dan kesehatan pangan di setiap SPPG.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Kepala Arief Prasetyo Adi menyebut bahwa daerah di Jabar memiliki potensi luar biasa dalam pemenuhan makanan bergizi berbasis lokal. daerah-daerah seperti Puncak Bogor, Cianjur hingga Lembang (Bandung) memiliki potensi besar sebagai sumber pangan strategis. Produk seperti telur dari peternak lokal juga akan jadi bagian dari rantai pasok MBG.

"Sumber-sumber dari pangan lokal itu akan jadi prioritas utama. Kalau dulu kita bicara hilirisasi, itu bukan hanya di industri bauksit, tambang ya, dan lain-lain. Hilirisasi itu di pangan juga bisa," kata Arief.

Dia ingin mengubah paradigma hilirisasi yang selama ini identik dengan sektor tambang. Menurutnya, pangan juga memiliki potensi besar untuk diolah secara hilir demi peningkatan nilai tambah dan kesejahteraan petani.

Intervensi sunyi yang berdampak besar

ilustrasi makanan bayi yang difortifikasi (pixabay.com/kkppwoshizhu)
ilustrasi makanan bayi yang difortifikasi (pixabay.com/kkppwoshizhu)

Selain mendapatkan gizi dan nutrisi langsung dari pangan lokal, pemenuhan kebutuhan nutrisi harian juga dapat dilengkapi dengan pangan fortifikasi untuk memperkuat dan mengoptimalkan penyerapan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Fortifikasi merupakan tindakan memperkaya nutrisi yang ditambahkan ke dalam pangan tertentu seperti garam beryodium, tepung terigu dengan zat besi atau asam folat, minyak goreng dengan vitamin A, hingga susu dengan Vitamin D, dengan tujuan memenuhi nutrisi harian yang dibutuhkan tubuh.

Masalah gizi mikro sering kali tak tampak di permukaan karena tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas, kondisi itu disebut sebagai kelaparan tersembunyi atau hidden hunger. Maka, dengan pemberian gizi mikro melalui fortifikasi, seperti defisiensi zat besi, yodium, dan vitamin A, bukan sekadar intervensi teknis di bidang gizi melainkan strategi pembangunan manusia yang berkeadilan. Pendekatan ini menghubungkan upaya perbaikan gizi individu dengan peningkatan kesejahteraan secara merata.

“Fortifikasi pangan adalah penambahan zat gizi tertentu ke dalam bahan pangan untuk meningkatkan kualitasnya dengan tujuan untuk perbaikan gizi masyarakat. Ini dikenal sebagai program paling efektif secara biaya,” kata salah satu anggota tim analis Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI), dikutip dari laman kfindonesia.org.

Pada tingkat mikro, fortifikasi membantu memperbaiki status gizi individu. Sementara, pada tingkat makro, ia berfungsi sebagai mekanisme redistribusi gizi yang menjembatani kesenjangan akses antara kelompok ekonomi atas dan bawah. Melalui fortifikasi pangan pokok yang dikonsumsi secara luas, manfaatnya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok miskin dan daerah tertinggal.

Hal senada disampaikan ahli gizi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Ides Haeruman. Dia mengatakan, fortifikasi pangan sejatinya adalah penambahan zat gizi mikro pada bahan makanan yang dikonsumsi. Program ini awalnya dirancang pemerintah demi mengatasi persoalan gizi tertentu yang cukup serius. Salah satu contoh yang umum yaitu penambahan yodium pada garam untuk mencegah penyakit gondok dan kretinisme.

“Dulu pemerintah menambahkan yodium pada garam dengan tujuan menghilangkan kasus gondok dan kretin. Selain itu juga ada penambahan zat besi pada tepung,” katanya.

Menurutnya, fortifikasi pangan tidak secara langsung menurunkan angka gizi buruk pada anak. Meski demikian, dampaknya bersifat tidak langsung melalui pencegahan masalah gizi lain, di antaranya adalah anemia. Ides menyebut bahwa anemia pada ibu hamil adalah salah satu faktor risiko utama terjadinya stunting. Dengan adanya fortifikasi zat besi pada pangan, risiko anemia dapat ditekan sehingga gizi buruk harapannya tidak terjadi pada anak.

“Penambahan zat besi pada tepung itu mencegah anemia. Anemia pada ibu hamil bisa berdampak pada janin, sehingga berisiko melahirkan anak stunting. Jadi, ini efek tidak langsung,” katanya.

Ihwal kekhawatiran akan kelebihan gizi, Ides menegaskan bahwa fortifikasi relatif aman karena zat yang ditambahkan merupakan zat gizi mikro dalam jumlah kecil. Yang perlu diwaspadai justru bukan zat fortifikasinya, melainkan konsumsi bahan makanan utamanya yang berlebihan. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak salah kaprah dalam menilai fortifikasi pangan.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More