Durian Perwira Majalengka, Identitas Rasa dari Sinapeul Sindangwangi

- Musim Panen yang Selalu Dinanti
- Durian Perwira hanya bisa dinikmati pada waktu tertentu dalam setahun, mulai dari November hingga Maret atau April.
- Pencinta durian datang langsung ke kebun untuk mendapatkan buah terbaik dan sensasi menyantap durian di tempat asalnya.
- Warisan Keluarga dari Generasi ke Generasi
- Durian Sinapeul adalah warisan leluhur bagi pemiliknya dan telah dikenalkan oleh sang kakek sejak lama.
- Kualitas durian Sinapeul membuat banyak pembeli penasaran dan akhirnya datang langsung ke kebun.
Majalengka, IDN Times — Musim durian selalu punya cara sendiri untuk memanggil para penggemarnya. Saat akhir tahun hingga awal tahun tiba, aroma durian seolah menjadi penanda: inilah waktu terbaik berburu raja buah langsung dari kebunnya. Di Majalengka, ada satu nama yang kerap disebut para pencinta durian sejati, Durian Perwira dari Sinapeul.
Terletak di Blok Sinapeul, Desa Ujung Berung, Kecamatan Sindangwangi, durian ini bukan sekadar buah musiman. Ia adalah cerita panjang tentang keluarga, ketekunan, dan rasa yang tak berubah meski zaman terus berganti.
1. Musim Panen yang Selalu Dinanti

Durian Perwira hanya bisa dinikmati pada waktu tertentu dalam setahun. Musim panennya biasanya dimulai pada November dan berlangsung hingga Maret atau April.
“Kalau tahun ini, mulai bulan November. Bisa sampai Maret atau April,” kata Titin Susilawati, pemilik Pondok Durian Sinapeul.
Pada periode ini, pencinta durian datang langsung ke kebun untuk mendapatkan buah terbaik. Sensasi menyantap durian di tempat asalnya menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang mengejar kualitas rasa.
2. Warisan Keluarga dari Generasi ke Generasi

Bagi Titin, durian bukan sekadar usaha, melainkan warisan leluhur. Sang kakek telah lebih dulu mengenalkan durian Sinapeul ke luar kampung dengan cara menjualnya berkeliling hingga ke Majalengka Kota.
“Dulu kakek saya jualnya sampai ke Pasar Mamboo, Majalengka,” ujarnya.
Kualitas durian Sinapeul membuat banyak pembeli penasaran dan akhirnya datang langsung ke kebun. Sejak saat itu, tradisi menjual durian pun berubah: bukan lagi durian yang mendatangi pasar, melainkan pembeli yang mendatangi kebun.
3. Lahirnya Nama Durian Perwira

Nama Durian Perwira muncul dari pelanggan setia. Pada era 1990-an, seorang pecinta durian bernama Kuntoro kerap datang menikmati durian di kebun Titin.
Ia menyukai durian dari satu pohon tua yang tumbuh di depan rumah. Karena kecintaannya itu, Kuntoro menyarankan nama “Perwira”, yang kemudian melekat hingga kini.
“Yang ngasih nama Perwira itu Pak Kuntoro,” tutur Titin.
Pohon induk Durian Perwira tersebut masih berdiri kokoh hingga sekarang dan diyakini telah berusia sekitar 250 tahun.
4. Kecil Ukuran, Tegas Karakter Rasa

Secara fisik, Durian Perwira tidak berukuran besar. Bentuknya bulat, dengan bobot rata-rata sekitar 1 kilogram, bahkan ada yang hanya setengah kilogram.
“Kalau ukuran memang turun karena pohonnya sudah tua, tapi rasa tetap sama,” kata Titin.
Durian ini dikenal dengan rasa pahit yang kuat—karakter yang justru dicari oleh para mania fb durian. Karena itu, Durian Perwira tidak selalu cocok untuk semua orang. Namun, bagi pencinta durian sejati, rasa pahit inilah yang menjadi nilai utama.
Di Pondok Durian Sinapeul, Durian Perwira dijual berdasarkan bobot, yakni Rp85 ribu per kilogram. Selain itu, tersedia pula berbagai jenis durian lokal lain dengan harga per buah mulai dari Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, menyesuaikan ukuran dan jenisnya.
Di Sinapeul, durian bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita panjang yang terus dijaga agar tetap hidup.


















