Bandung, IDN Times - Di tengah tekanan konflik global yang memicu gejolak harga dan rantai pasok, industri tekstil justru dinilai masih punya peluang besar untuk tumbuh di dalam negeri. Kolaborasi internasional hingga transformasi teknologi jadi kunci agar sektor ini tetap kompetitif dan bangkit saat kondisi global membaik.
Ketua India ITME Society, Ketan Sanghvi, menilai industri tekstil global memang sedang menghadapi tekanan jangka pendek akibat situasi geopolitik. Konflik di Timur Tengah, misalnya, berdampak langsung pada logistik dan harga bahan baku.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah turut mendorong naiknya harga benang sintetis, yang kemudian menekan industri tekstil secara keseluruhan. Kondisi ini membuat pelaku industri harus menghadapi tantangan berat, terutama dari sisi biaya produksi. Meski begitu, Ketan menegaskan situasi ini tidak akan berlangsung selamanya.
“Ketika situasi membaik, harga akan kembali stabil. Permintaan akan kembali dan industri akan kembali membaik,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, industri saat ini tengah berupaya mengurangi ketergantungan rantai pasok, meningkatkan efisiensi, serta mendorong inovasi dan keberlanjutan.
