Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dedi Mulyadi Sebut Tren Begal Menurun, Pelaku Banyak dari Lampung
Ilustrasi Begal. IDN Times/ Bramanta Pamungkas
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut tren begal dan kejahatan jalanan di Jabar menurun, berdasarkan koordinasinya dengan Kapolda Jabar Irjen Pipit Rismanto.
  • Dedi menyatakan banyak tersangka begal yang ditangkap merupakan bagian jaringan dari luar Jawa Barat, dengan mayoritas disebut berasal dari Lampung.
  • Dedi menawarkan hadiah Rp5-50 juta bagi warga yang melumpuhkan pelaku kejahatan dan menyerahkannya hidup-hidup ke polisi, namun pemerintah pusat memperingatkan risiko main hakim sendiri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
23 Juli 2026

Dedi Mulyadi mengumumkan sayembara dengan hadiah Rp5 juta hingga Rp50 juta bagi warga yang melumpuhkan pelaku kejahatan jalanan dan menyerahkannya hidup-hidup kepada polisi.

28 Juli 2026

Menteri HAM Natalius Pigai meminta sayembara tangkap begal tidak dijalankan secara serius karena berisiko memicu kekerasan oleh warga sipil yang tidak terlatih.

29 Juli 2026

Dedi menyatakan tren pembegalan dan kejahatan di Jawa Barat terus menurun berdasarkan koordinasinya dengan Kapolda Jabar. Ia juga mengatakan banyak pelaku begal yang ditangkap merupakan jaringan dari luar Jawa Barat, terutama Lampung.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan tren pembegalan di Jawa Barat menurun dan menyebut banyak tersangka begal yang ditangkap berasal dari Lampung. Sayembara hadiah penangkapan begal juga mendapat kritik pemerintah pusat.
  • Who?
    Dedi Mulyadi, Kapolda Jawa Barat Irjen Pipit Rismanto, tersangka begal yang ditangkap, warga Jawa Barat, Menteri Koordinator Hukum, HAM dan Imipas Yusril Ihza Mahendra, serta Menteri HAM Natalius Pigai.
  • Where?
    Pernyataan Dedi disampaikan di TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung. Penanganan kejahatan jalanan berlangsung di Jawa Barat, dengan koordinasi bersama Polda Jawa Barat dan rencana koordinasi dengan Polda Metro Jaya.
  • When?
    Dedi menyampaikan informasi tren begal dan asal tersangka pada Rabu, 29 Juli 2026. Sayembara diumumkan pada 23 Juli 2026, sedangkan Natalius Pigai menyampaikan tanggapannya pada 28 Juli 2026.
  • Why?
    Sayembara dibuat untuk memperkuat keamanan Jawa Barat dan melibatkan masyarakat dalam pemberantasan kejahatan jalanan. Yusril dan Pigai meminta penghentian karena khawatir warga sipil melakukan tindakan main hakim sendiri dan terjadi kekerasan.
  • How?
    Dedi berkoordinasi dengan Kapolda Jawa Barat mengenai grafik kejahatan dan menyiapkan hadiah Rp5 juta hingga Rp50 juta bagi warga yang melumpuhkan pelaku kejahatan lalu menyerahkannya hidup-hidup kepada kepolisian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dedi Mulyadi bilang kasus begal di Jawa Barat mulai turun. Polisi menangkap banyak pelaku yang katanya berasal dari Lampung dan bekerja bersama dalam kelompok. Dedi pernah menawarkan hadiah untuk warga yang menangkap begal lalu menyerahkannya ke polisi. Pemerintah pusat meminta sayembara itu dihentikan karena warga bisa terluka atau memukul orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tren penurunan kasus begal yang disampaikan setelah koordinasi dengan kepolisian memberi sinyal positif bagi keamanan Jawa Barat. Upaya pemerintah daerah untuk terus bekerja sama dengan Polda Jabar dan Polda Metro Jaya menunjukkan perhatian terhadap pencegahan kejahatan, sementara perdebatan atas sayembara turut menegaskan pentingnya menjaga keamanan tanpa mengabaikan keselamatan warga dan aturan hukum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mendapatkan beberapa fakta dari pihak kepolisian mengenai pelaku begal yang ditangkap di beberapa wilayah Jabar, ternyata mayoritas merupakan bukan penduduk asli. Mereka disebut kebanyakan berasal dari Lampung.

Dedi mengungkapkan, pelaku ini merupakan jaringan tidak dilakukan hanya oleh satu orang saja, dan berdasarkan keterangan yang didapatkannya para tersangka ini bukan merupakan warga Jabar.

"Jaringan begal itu kan kebanyakan, mohon maaf ya menyebut daerah, itu kan Lampung ya yang tertangkap. Artinya bahwa kejahatan itu tidak melulu dilakukan oleh warga Jabar, tapi banyak orang luar warga Jabar merupakan jaringan dari sebuah kejahatan yang beroperasi di Jabar," kata Dedi di TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung, pada Rabu (29/7/2026).

1. Tren kasus begal di Jabar mulai menurun

Ilustrasi begal. (IDN Times/Mardya Shakti)

Lebih lanjut, Dedi mengatakan, saat ini tren kasus begal yang terjadi di Jabar sudah terus menurun. Hal tersebut dipastikan usai dirinya berkoordinasi dengan Kapolda Jabar, Irjen Pipit Rismanto.

"Dari sisi grafik, saya tanya ke Pak Kapolda tadi, grafik pembegalannya, kejahatannya sudah makin turun," ungkap dia.

Sebelumnya, Dedi membuat sayembara khususnya kepada warganya yang berhasil menangkap begal dan kejahatan jalanan lainnya kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian akan mendapatkan hadiah Rp5 juta hingga Rp50 juta.

"Saya memberikan sayembara pada seluruh warga Jabar. Yang bisa melumpuhkan maling, copet, jambret, begal, rampok kami siapkan hadiah dari Rp5 sampai Rp50 juta yang mampu melumpuhkan berbagai aksi kejahatan dan menyerahkannya kepada kepolisian dalam keadaan hidup," ujar Dedi, Kamis (23/7/2026).

2. Dedi Mulyadi gelar sayembara tangkap begal

Ilustrasi Begal. (IDN Times/Aditya Pratama)

Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, kebijakan tersebut bagian dari upaya memperkuat keamanan di Jawa Barat di tengah meningkatkannya aksi kejahatan jalanan. Menurutnya, pemberantasan kejahatan jalanan tidak hanya mengandalkan aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Kemudian, Dedi mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berkoordinasi dengan kepolisian untuk mencegah aksi kejahatan.

"Siaga menghadapi begal. Kita terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian khususnya Polda Jabar dan kita juga akan berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya untuk siaga menghadapi berbagai aksi kejahatan di Jawa Barat," katanya.

3. Pemerintah pusat kritik langkah Dedi Mulyadi

Ilustrasi begal (IDN Times/Mardya Shakti)

Kendati begitu, langkah Dedi ini menjadi menjadi pro dan kontra di masyarakat. Banyak di antaranya memandang hal tersebut positif. Namun, ada juga yang menganggap hal tersebut berbahaya karena bisa membuat orang main hakim sendiri.

Pemerintah pusat justru meminta hal tersebut disetop. Seperti Menteri Koordinator bidang Hukum, HAM dan Imipas Yusril Ihza Mahendra berharap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Demul) tak menggelar sayembara menangkap begal.

Menurutnya hal itu bisa mendorong orang untuk main hakim sendiri. Dia juga menyinggung kondisi perekonomian yang tengah sulit saat ini. Dengan iming-iming hadiah sayembara Rp5 juta atau Rp10 juta, orang akan berbondong-bondong menyiapkan diri.

Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai turut meminta sayembara tangkap begal dengan hadiah jutaan rupiah ini tidak menjadi hal yang serius, dan hanya jadi lelucon belaka.

"Kalau serius ya tidak boleh. Tapi kalau guyonan nggak papa. Guyonan aja. Tapi kalau serius tidak boleh, itu bahaya. Saya berharap itu guyonan, tapi serius diusahakan tidak boleh," kata Pigai di Hotel Papandayan, Kota Bandung, pada Selasa (28/7/2026).

Menurutnya, warga sipil di Jabar tidak terlatih untuk menangkap pelaku begal dan aksi kejahatan jalanan lainnya. Sehingga, dia khawatir malah mengakibatkan pertumpahan darah.

"Anda membayar untuk menangkap orang. Kalau nangkap begini, orang yang menangkap terlatih gak? Kalau sipil yang tidak terlatih mukul dong, ya? Berdarah-darah. Apa perbolehkan kita bayar orang untuk memukul orang lain di lapangan?" ucap dia.

"Tidak etis. Tapi dugaan saya beliau guyonan, tidak serius. Ya. Semoga guyonan dan tidak serius," ujar dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article