Bandung, IDN Times - Sebotol parfum yang disemprotkan ke tubuh mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengeluarkan aroma harum. Namun, di balik semprotan singkat itu ada rantai proses yang panjang yang jarang diketahui masyarakat.
Bisnis parfum ini tidak bisa dipandang sepele, banyak orang terlibat di dalamnya dan memiliki rantai proses yang cukup panjang dari mulai petani bahan-bahan wewangian hingga akhirnya menjadi produk salah satu parfum dari berbagai merek.
Indonesia secara umum memiliki banyak sumber daya alam untuk menghasilkan bahan wewangian dan produksinya sudah massif, bahkan beberapa diantaranya tembus pasar ekspor. Salah satunya yaitu wewangian dari minyak atsiri yang bahan bakunya melimpah di Indonesia.
Atsiri dari Nilam atau patchouli oil, gaharu dari Kalimantan atau agarwood oil, kemenyan Sumatra yang dihasilkan dari getah resin alami irisan kulit pohon Styrax benzoin, hingga berbagai tanaman penghasil minyak atsiri tumbuh di negeri ini.
Namun, ironisnya, perjalanan bahan-bahan tersebut untuk menjadi parfum bernilai tinggi belum sepenuhnya berlangsung di dalam negeri. Masih banyak tantangan di lapangan khususnya hilirisasi industri parfum di Indonesia.
Tren parfum di Indonesia sendiri saat ini sudah banyak mengalami pergeseran dari yang awalnya pasar sangat menyukai wewangian yang hanya ada di etalase supermarket moderen dengan kategori Eau de Cologne, kini bergeser ke Extrait de Parfum.
Di mana kadar atau kandungan parfumnya sangat tinggi dibandingkan Eau de Cologne, yang kurang lebih di lima persen. Sementara, kandungan parfum kategori Eau de Toilette ada di kisaran 10 sampai 15 persen.
Kemudian, Eau de Parfum 20 persen, dan dari kandungan puluhan persen itu, dalam satu botol parfum sisanya merupakan etanol dan air yang sudah di demineralisasi, di mana kadar mineralnya sangat kecil.
