Penerimaan mahasiswa baru Unisba Bandung. Dok. Istimewa
Aghsally, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, mulai mengenal kehidupan pesantren sejak kelas 4 SD. Namun, ia mengaku belum terlalu serius menjaga hafalannya ketika duduk di bangku SMP.
“Saya waktu di SMP kebanyakan main,” katanya, Senin (14/9/2026).
Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik balik bagi Aghsally. Ketika masuk SMA, ia memilih meninggalkan lingkungan lamanya dan melanjutkan pendidikan di Markaz Tahfizh Icakan, Ciamis. Baginya, lingkungan baru menjadi kesempatan untuk memperbaiki kembali keseriusannya dalam menghafal Al-Qur’an.
“Kalau di sini masih main-main terus, enggak diselesaikan hafalannya, bakal sama saja kejadiannya sama yang di SMP,” ujarnya.
Di Icakan, Aghsally memasang target 10 juz setiap semester. Target tersebut perlahan berhasil dicapai. Semester pertama ia menyelesaikan 10 juz, kemudian 10 juz berikutnya pada semester kedua, hingga seluruh hafalan 30 juz rampung dalam waktu sekitar satu tahun empat bulan.
Setelah menyelesaikan hafalan, perjalanan Aghsally belum berhenti. Ia melanjutkan proses belajar sekaligus menjalani pengabdian dengan mengajar di Riau. Di sana, ia mengampu halaqah tahfizh sebelum akhirnya kembali ke Bandung dan memilih melanjutkan pendidikan di Unisba.
Program Studi PAI menjadi pilihannya karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidupnya. Latar belakang pesantren dan tahfizh, ditambah pengalaman mengajar, membuat Aghsally ingin memperdalam pendidikan Islam secara formal.
Kini, tantangan yang dihadapinya bukan lagi sekadar menambah hafalan. Ia harus menjaga 30 juz tersebut di tengah jadwal kuliah dan aktivitas sebagai mahasiswa. Aghsally pun memilih cara sederhana dengan menyediakan waktu setiap hari untuk murajaah. Waktu sebelum atau setelah Subuh bisa digunakan untuk membaca satu hingga dua juz.
“Yang penting istikamah, konsisten tiap hari harus ada yang dibaca,” tuturnya.