Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Belum Bayar UKT, 200 Mahasiswa ITB Terancam Tak Kuliah Semester Depan
IDN Times/Debbie Sutrisno

Bandung, IDN Times - Ratusan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) masih berkutat dengan persoalan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) yang belum bisa dilunasi. Hal ini membuat mereka tidak bisa melakukan pengisian Formulir Rencana Studi (FRS) untuk semester berikutnya.

Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB Naomi Haswanto menuturkan, pihak kampus akan menutup dulu jawal rutin pengisian FRS hari ini, Selasa (30/1/2024). Jika mereka belum bisa membayar UKT maka bisa mengajukan penangguhan sesuai persyaratan.

"Dia mengajukan dan alasannya. Nanti ITB akan memproses layak tidak permohonan yang bersangkutan, supaya ITB tetap fair dan tepat sasaran," kata Naomi ketika dihubungi wartawan, Selasa (30/1/2024).

1. ITB siap berikan banyak opsi bantu mahasiswa untuk tetap berkuliah

IDN Times/Debbie Sutrisno

Naomi menuturkan, dalam pertemuan dengan mahasiswa kemarin sudah disampaikan bahwa kampus mempunyai sejumlah kebijakan yang harus diikuti mahasiswa termasuk mengenai pembayaran UKT. Sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan pemerintah, ITB pun memberikan opsi seluas-luasnya kepada mahasiswa dalam tatacara pembayaran UKT.

"Dan kami akan memproses FRS dalam jadwal waktu yang disusun oleh Direktorat Pendidikan," kata dia.

Menurutnya, untuk mahasiswa yang tidak bisa membayar UKT karena kesulitan dari orang tua bisa melakukan pinjaman terlebih dulu ke perbankan maupun Danacita yang jadi penyedia dana pendidikan.

"Pimpinan ITB menghimbau mahasiswa untuk selalu berprasangka baik kepada ITB, karena pasti ITB tidak akan merugikan mahasiswanya," kata dia.

2. Ada sekitar 200-an mahasiswa terancam tidak bisa berkuliah

IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu, Ketua Kabinet KM ITB, Yogi Syahputra mengatakan bahwa mahasiswa yang awalnya belum bisa membayar UKT mencapai 137 orang. Namun, setelah dikonfirmasi kepada pihak kampus angka ini bertambah menjadi lebih dari 200 mahasiswa.

Opsi untuk membayar perkuliahan dengan pinjaman dari aplikasi Danacita pun ditolak banyak mahasiswa karena bunga dari pinjaman tersebut dianggap terlampau besar. Dengan mengambil pinjaman Rp12,5 juta dalam setahun dia harus mengembalikan uang Rp15,5 juta.

"Yang mana itu berkisar pada kisaran 20% dan ini sangat memberatkan," kata dia.

Dengan kondisi ini, KM ITB pun berupaya mencari donasi kepada para alumni dari berbagai angkatan untuk bisa membantu adik kelasnya menuntaskan perkualiahan.

3. Tolak pemberian pinjaman lewat pinjol

ilustrasi pinjol (Freepik.com)

Dia juga menilai, kebijakan ITB yang memberi solusi pembayaran UKT lewat skema pinjaman online (pinjol) memberatkan mahasiswa. Maka dari itu, KM ITB menolak kebijakan tersebut karena memberatkan.

Yogi tak mengetahui secara pasti jumlah mahasiswa ITB yang sudah mengajukan pinjol tersebut. Namun begitu, dia mengaku sudah mengumumkan kepada seluruh mahasiswa ITB agar tak mengajukan pinjaman.

"Kami udah mengimbau jangan ada yang ngambil pinjaman. Kami akan mengajukan tuntutan untuk menghapus opsi pinjaman yang memberatkan," ucap dia, Jumat (26/1/2024).

Mestinya, jikapun hendak menerapkan pembayaran UKT lewat pinjol, ITB tak membebani mahasiswanya dengan bunga. Bagaimanapun, menurut Yogi, ITB merupakan lembaga pendidikan, bukan lembaga keuangan.

"ITB adalah lembaga pendidikan, bukan lembaga keuangan," ucap dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article