5 Tren Gaya Hidup 2026 yang Mulai Ditinggalkan Gen Z, Gak Relevan!

- Hustle culture tanpa henti mulai ditinggalkan Gen Z karena fokus pada kualitas kerja dan istirahat sebagai strategi bertahan hidup.
- Flexing di media sosial tidak lagi diminati oleh Gen Z karena lebih nyaman berbagi cerita yang jujur dan apa adanya.
- Konsumsi berlebihan demi tren mulai ditinggalkan, digantikan dengan kesadaran membeli barang fungsional dan tahan lama.
Perubahan zaman selalu datang lebih cepat dari yang kita duga, terutama soal gaya hidup. Apa yang dulu dianggap keren, produktif, dan relevan, kini mulai terasa melelahkan dan gak sesuai realita. Menariknya, Gen Z justru jadi generasi paling berani bilang, “cukup, ini bukan buat gue.”
Mereka makin selektif memilih kebiasaan yang benar-benar berdampak, bukan sekadar ikut tren. Nah, berikut ini lima tren gaya hidup yang diam-diam mulai mereka tinggalkan karena dianggap gak relevan lagi.
1. Hustle culture tanpa henti

Dulu, sibuk dianggap simbol sukses dan kerja lembur jadi lencana kebanggaan. Namun kini, Gen Z mulai sadar bahwa hidup bukan cuma soal produktivitas tanpa jeda. Mereka melihat bahwa kerja berlebihan justru bikin burnout dan kehilangan arah hidup.
Alih-alih memaksakan diri, Gen Z memilih kerja yang berkelanjutan dan manusiawi. Fokus mereka bergeser ke kualitas kerja, bukan sekadar durasi. Bagi mereka, istirahat bukan kemalasan, tapi strategi bertahan hidup.
2. Flexing di media sosial

Pamer pencapaian, barang mahal, dan gaya hidup glamor dulu terasa wajib. Namun sekarang, tren ini mulai ditinggalkan karena dianggap melelahkan secara mental. Terlalu sering membandingkan diri justru bikin rasa kurang terus menghantui.
Gen Z mulai lebih nyaman berbagi cerita yang jujur dan apa adanya. Mereka sadar bahwa validasi dari layar gak selalu sebanding dengan ketenangan batin. Hidup tenang kini jauh lebih keren daripada sekadar terlihat sukses.
3. Konsumsi berlebihan demi tren

Belanja impulsif demi mengikuti tren cepat mulai kehilangan daya tarik. Gen Z menyadari bahwa siklus beli-buang hanya bikin dompet tipis dan lingkungan rusak. Kesadaran ini tumbuh seiring meningkatnya edukasi soal dampak konsumsi berlebihan.
Kini, mereka lebih memilih barang fungsional dan tahan lama. Konsep membeli dengan sadar jadi prioritas, bukan sekadar lapar tren. Bagi mereka, punya sedikit tapi bermakna jauh lebih memuaskan.
4. Standar sukses yang seragam

Punya rumah di usia muda, jabatan tinggi, dan penghasilan besar dulu jadi patokan mutlak. Namun Gen Z mulai mempertanyakan, siapa sebenarnya yang menentukan standar itu. Mereka sadar bahwa definisi sukses gak bisa diseragamkan.
Setiap orang punya garis start dan tujuan yang berbeda. Karena itu, Gen Z lebih fokus pada versi sukses yang relevan dengan dirinya sendiri. Bahagia dan cukup kini jadi ukuran baru yang lebih masuk akal.
5. Selalu online dan respons cepat

Dulu, selalu aktif dan cepat membalas pesan dianggap sopan dan profesional. Kini, kebiasaan itu justru terasa menekan dan menguras energi. Gen Z mulai sadar bahwa akses tanpa batas bikin batas pribadi hilang.
Mereka mulai menerapkan jeda digital dan batas waktu respons. Bukan karena gak peduli, tapi karena ingin menjaga kesehatan mental. Terhubung dengan sadar jauh lebih penting daripada selalu tersedia.
Perubahan gaya hidup Gen Z di 2026 menunjukkan satu hal penting, relevansi lebih berharga daripada validasi. Mereka memilih hidup yang lebih jujur, seimbang, dan manusiawi. Jadi, kalau kamu juga mulai merasa tren lama gak lagi cocok, mungkin ini saatnya ikut berani berubah.















