Bandung, IDN Times – Aroma daun pisang yang berpadu dengan nasi hangat, sambal, dan lauk khas Sunda menjadi daya tarik nasi timbel. Kuliner tradisional ini bukan sekadar menu yang mudah ditemukan di rumah makan Sunda, tetapi juga menyimpan cerita tentang kebiasaan masyarakat Tatar Pasundan dalam menyiapkan bekal untuk beraktivitas.
Nasi timbel dikenal dengan sebutan sangu timbel dalam bahasa Sunda. Ciri khasnya terletak pada nasi yang dibungkus daun pisang, umumnya berbentuk lonjong dan cukup padat. Cara penyajian tersebut membuat nasi praktis dibawa bepergian sekaligus memberikan aroma khas daun pisang.
Dahulu, nasi timbel lekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan, termasuk petani yang membawa bekal ke sawah atau ladang. Daun pisang digunakan sebagai pembungkus sekaligus alas makan ketika peralatan makan belum mudah diperoleh. Tradisi membawa bekal ini juga dianggap praktis untuk perjalanan jauh. Meski begitu, tidak ada catatan yang memastikan kapan nasi timbel pertama kali muncul atau siapa yang menciptakannya.
Seiring waktu, nasi timbel berkembang dari bekal sederhana menjadi salah satu sajian yang identik dengan kuliner Sunda. Nasi hangat biasanya disantap bersama ayam goreng atau bakar, ikan asin, pepes, tahu, tempe, sambal, dan lalapan. Sejumlah rumah makan juga menawarkan nasi merah maupun variasi nasi tutug oncom sebagai pilihan.
Di Kota Bandung, nasi timbel bisa ditemukan mulai dari warung sederhana yang sudah berjualan puluhan tahun hingga rumah makan yang menyajikan aneka hidangan khas Sunda. Berikut lima tempat yang bisa masuk daftar tujuan kuliner kamu.
