Kisah Perkedel Bondon, dari Pesanan Masinis Hingga Jadi Buruan Warga

- Perkedel Bondon lahir pada era 1980-an dari warung nasi nenek Riska Diana di sekitar Stasiun Bandung, untuk memenuhi kebutuhan makan masinis dan pekerja kereta yang pulang malam.
- Nama “Bondon” bukan dibuat pemilik, melainkan sebutan populer dari konsumen. Usaha generasi ketiga ini tetap membuka lapak sekitar pukul 22.00 WIB dan mempertahankan memasak dengan arang.
- Tingginya permintaan membuat Perkedel Bondon menghabiskan 1–2 kuintal kentang per hari dan memproduksi lebih dari 1.000 perkedel saat ramai; pengolahan adonannya memakan waktu 2–3 jam.
Bandung, IDN Times - Ada makanan yang sengaja diciptakan untuk menjadi kuliner legendaris, ada pula yang lahir dari kebutuhan sederhana kemudian namanya justru hidup karena terus diburu pembeli. Dan perkedel bondon termasuk yang kedua.
Hampir 40 tahun bertahan, makanan berbahan dasar kentang ini masih menjadi salah satu kuliner yang dicari ketika malam tiba di sekitar Stasiun Bandung. Bahkan ketika dibawa ke festival kuliner, antusiasme masyarakat tetap tinggi.
Di balik perkedel yang tampak sederhana itu, tersimpan cerita tentang para masinis, warung nasi milik seorang nenek, hingga nama "Bondon" yang justru diberikan oleh konsumen.
1. Awalnya dibuat untuk mengisi perut masinis yang pulang malam

88 Tenant Legendaris Bandung Ramaikan Festival Kuliner di Sumaba. IDN Times/Debbie Sutrisno Perkedel Bondon diperkirakan mulai dibuat keluarga Riska Diana pada era 1980-an. Riska yang kini menjadi pengelola merupakan generasi ketiga dari usaha tersebut. Saat itu, nenek Riska masih menjalankan warung nasi di sekitar Stasiun Bandung. Belum banyak pilihan makanan di kawasan stasiun, terutama bagi para pekerja kereta api yang baru selesai bertugas pada malam hari.
Para karyawan KAI kemudian meminta sang nenek menyediakan makanan untuk mereka. Sebab, ketika masinis dan pekerja lainnya selesai bertugas sekitar pukul 22.00 hingga 23.00 WIB, pilihan makanan yang tersedia masih sangat terbatas.
“Awal mulanya sebenarnya Perkedel Bondon ini teh dibikinnya nggak sengaja. Karena dulu di Stasiun Bandung masih jarang kereta antar kota, perjalanan jauh. Nah, terus kan belum ada kantin, belum ada apa-apa di stasiun,” kata Riska ketika ditemui pada festival kuliner di Summarecon Bandung, Jumat (28/8/2026).
Permintaan itu membuat sang nenek mencari makanan yang praktis dibuat, tetapi tetap bisa mengenyangkan. Pilihan akhirnya jatuh pada perkedel berbahan kentang.
“Kebetulan warung nenek tuh jam 10 atau jam 11 malam tuh baru tutup. Warung nasi tadinya. Akhirnya nenek muter otak gimana caranya bikin makanan yang simpel dan nggak ribet tapi ngenyangin. Akhirnya bikinlah perkedel,” ujarnya.
Dari kebutuhan sederhana para pekerja kereta api itulah, sebuah usaha kuliner kemudian tumbuh dan bertahan lintas generasi.
2. Nama "Bondon" ternyata bukan pemberian pemilik

ilustrasi perkedel bondon (YouTube.com/Luvita Ho) Nama Perkedel Bondon ternyata juga memiliki cerita tersendiri. Sejak awal, keluarga Riska tidak langsung menggunakan nama tersebut sebagai identitas dagang.
Ada sejumlah sebutan yang pernah digunakan konsumen, termasuk Perkedel Stasiun. Namun, karena makanan tersebut identik dengan suasana malam di sekitar stasiun, sebutan "Bondon" akhirnya lebih populer di kalangan pembeli. Istilah tersebut kemudian melekat dan justru menjadi identitas yang paling dikenal.
“Yang kasih nama juga konsumen sebenarnya karena dulu namanya banyak banget. Ibu kasih nama perkedel stasiun, ada perkedel apalah. Nah, tapi yang lebih populernya ini, perkedel bondon,” tutur Riska.
Saat keluarga Riska sempat menggunakan nama Warung Nasi Emun, tapi popularitas nama Perkedel Bondon membuat mereka justru memilih mempertahankan nama yang sudah telanjur dikenal masyarakat. Bagi Riska, nama tersebut menjadi bagian dari perjalanan usaha yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah konsumennya.
3. Tetap buka jam 10 malam dan pertahankan aroma arang

Perkedel Bondon Asli (google.com/maps/Uul anggraeni) Hampir empat dekade berjalan, ada satu hal yang tidak banyak berubah dari Perkedel Bondon: waktu berjualannya. Ketika sebagian besar tempat makan mulai tutup, Perkedel Bondon justru baru membuka lapak sekitar pukul 22.00 WIB. Kebiasaan itu menjadi bagian dari identitas kuliner yang sejak awal memang lahir untuk melayani pekerja yang pulang malam.
Selain waktu berjualan, keluarga Riska juga berusaha mempertahankan cara memasak menggunakan arang. Menurutnya bara dari kayu bakar memberikan aroma asap yang menjadi ciri khas Perkedel Bondon. Aroma tersebut sulit didapatkan jika proses memasak menggunakan kompor biasa.
“Karena kalau misalnya di warungnya itu tetap pakai arang. Memang sekarang arangnya susah, tapi tetap eksistensinya kita harus jaga arang,” katanya.
Ketika mengikuti festival kuliner, penggunaan arang tidak memungkinkan sehingga mereka menggunakan kompor. Namun, metode tradisional tersebut tetap dipertahankan di tempat asalnya. Bagi Riska, menjaga kualitas dan ciri khas menjadi salah satu kunci agar Perkedel Bondon tetap eksis.
4. Habiskan dua kuintal kentang dalam sehari

perkedel bondon (instagram.com/foo.ga) Popularitas Perkedel Bondon bukan hanya cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Banyaknya permintaan terlihat dari kebutuhan bahan baku yang harus disiapkan setiap hari.
Riska menyebut usaha keluarganya dapat menghabiskan sekitar 1 hingga 2 kuintal kentang dalam sehari. Jumlah produksi bahkan bisa menembus lebih dari 1.000 perkedel ketika permintaan sedang tinggi.
“Kalau ditotalin tuh kayaknya ada deh 1.000-an lebih dalam sehari,” ujar Riska.
Saat mengikuti festival kuliner, Perkedel Bondon untuk pertama kalinya mencoba menjangkau konsumen di luar jam operasional malamnya.
Respons pengunjung pun terbilang tinggi. Di festival, perkedel tersebut dijual dalam paket berisi delapan buah dengan harga Rp35 ribu.
Namun, menghadirkan perkedel dalam jumlah besar bukan perkara instan. Proses pengolahannya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam, mulai dari mengukus kentang hingga menumbuk dan mengolahnya menjadi adonan.
“Kita nyetok bahan baku. Karena perkedel teh prosesnya lama dari mulai kukus, tumbuk. Itu lumayan lama sekitar dua sampai tiga jam,” kata Riska.
Kini, Perkedel Bondon tidak hanya menjadi makanan yang dicari mereka yang lapar tengah malam. Nama yang awalnya lahir dari kebiasaan konsumen di sekitar stasiun telah berkembang menjadi bagian dari cerita kuliner Bandung.
Dari pesanan sederhana para masinis, resep keluarga itu diwariskan hingga generasi ketiga. Dan ketika lebih dari 1.000 perkedel bisa habis dalam sehari, satu hal tampaknya belum berubah: orang-orang masih rela memburu perkedel sederhana itu.

















![[QUIZ] Makanan Penyelamat Mood: Mana Paling Cocok Buat Kamu?](https://image.idntimes.com/post/20250526/2148553145-aa9fadc5275967334006c45e77701175-a67724913d7222acc77e46206da3a535.jpg)