Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Aroma Alami dan Rasa Gurih, Bacang Panas Sukabumi Jadi Buruan Kuliner

Aroma Alami dan Rasa Gurih, Bacang Panas Sukabumi Jadi Buruan Kuliner
Bacang panas jadi buruan kuliner di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)
Intinya Sih
  • Christian merintis Bacang Panas Sukabumi sejak 2017 dengan bahan alami dan cita rasa yang disesuaikan lidah lokal, menjadikannya kuliner khas yang diminati berbagai kalangan.
  • Bacang ini bisa dinikmati panas atau dingin dengan varian rasa ayam, sapi, hingga ketan bertopping unik, diproses manual untuk menjaga kualitas dan keaslian rasa tradisional.
  • Meski menghadapi kenaikan harga bahan baku, Bacang Panas Sukabumi tetap populer sebagai oleh-oleh wisatawan berkat cita rasa autentik dan sertifikat halal yang menambah kepercayaan pembeli.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kota Sukabumi, IDN Times - Di sebuah dapur sederhana di Kota Sukabumi, puluhan bacang tampak menggantung rapi. Balutan daun hanjuang dan ikatan tali bambu menghadirkan aroma khas yang langsung menggoda. Dari tempat ini, lahir sajian bacang dengan cita rasa manis, gurih, dan sedikit pedas yang terasa “lekoh” di lidah.

Usaha kuliner ini dirintis oleh Christian (37 tahun) sejak 2017. Dengan mengandalkan bahan alami dan racikan rasa yang disesuaikan dengan lidah lokal, Bacang Panas Sukabumi perlahan berkembang dan diminati berbagai kalangan

1. Mengandalkan bahan alami dan rasa yang khas

IMG_3212.jpeg
Bacang panas jadi buruan kuliner di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Christian menuturkan, keunggulan produknya terletak pada penggunaan bahan alami tanpa campuran kimia. Mulai dari daun pembungkus hingga tali pengikat, semuanya dipilih secara tradisional.

“Jadi, kita tuh baru mulai produksi itu tahun 2017. Istimewanya itu kita lebih simpel, pakai bahan-bahan natural, seperti daun hanjuang sama tali bambu, jadi bebas dari kimia,” ujarnya di Jalan Pemuda, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, Kamis (16/4/2026).

Selain itu, ia juga menyesuaikan cita rasa agar cocok dengan lidah masyarakat Indonesia, khususnya Sunda. “Dari lain-lain kita mengutamakan cita rasa yang unik. Jadi lidah orang Sunda sama orang Indonesia itu cocok,” katanya.

2. Bisa dinikmati panas atau dingin

IMG_3224.jpeg
Bacang panas jadi buruan kuliner di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Berbeda dari bacang pada umumnya yang identik disajikan dingin, di tempat ini pelanggan bisa memilih sesuai selera, baik hangat maupun dingin. “Jadi kami jualnya bisa panas, bisa dingin juga. Tergantung selera orang-orang,” ungkap Christian.

Varian rasa yang ditawarkan juga beragam, mulai dari ayam, sapi, hingga ketan dengan berbagai topping seperti varian jadul dan telur asin.

3. Proses tradisional

IMG_3201.jpeg
Bacang panas jadi buruan kuliner di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Dalam proses pembuatannya, setiap tahapan dilakukan secara manual untuk menjaga kualitas dan cita rasa. Daun hanjuang terlebih dahulu diproses agar lentur sebelum digunakan sebagai pembungkus.

“Dari daun kita kopekin batangnya biar lentur, habis itu direbus. Baru dibentuk, diisi nasi sama daging, diikat, terus direbus,” ujarnya.

Dalam sehari, produksi bisa mencapai 300 hingga 400 bacang dengan kebutuhan bahan baku beras sekitar 25 kilogram.

4. Tantangan harga bahan baku

IMG_3188.jpeg
Daun hanjuang pembungkus bacang di Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Meski permintaan cukup stabil, usaha ini juga menghadapi tantangan, terutama dari kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan operasional. “Terdampak banget sih. Daging, ayam, beras naik semua. Sama plastik juga terasa banget,” kata Christian.

Untuk menyiasatinya, ia sempat menaikkan harga jual sebesar Rp1.000. Saat ini, satu bacang dijual sekitar Rp12 ribu. “Masih terjangkau lah. Cuma buat usaha kecil kayak gini tetap terasa,” ujarnya.

5. Jadi oleh-oleh favorit wisatawan

IMG_3253.jpeg
Bacang panas khas Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Bacang Panas Sukabumi kini tak hanya dikonsumsi warga lokal, tetapi juga menjadi incaran wisatawan sebagai oleh-oleh praktis.

“Biasanya ramai kalau musim libur. Orang-orang wisata mampir, beli buat dibawa pulang. Praktis, langsung bisa dimakan,” tuturnya.

Meski berasal dari kuliner khas Tionghoa, Christian memastikan produknya aman dikonsumsi karena telah mengantongi sertifikat halal. Dengan perpaduan tradisi dan inovasi, bacang ini terus bertahan di tengah persaingan kuliner yang semakin ketat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest Food Jawa Barat

See More