Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga Resah Pemadaman Listrik Mendadak Makin Sering
ilustrasi mati listrik (pixabay.com/Gerd Altmann)
  • Warga Bandung resah karena pemadaman listrik bergilir makin sering tanpa pemberitahuan jelas, mengganggu aktivitas rumah tangga dan usaha kecil yang bergantung pada listrik.
  • Pakar kelistrikan ITB menjelaskan fenomena El Nino ekstrem meningkatkan konsumsi listrik akibat cuaca panas sekaligus menurunkan produksi energi dari PLTA karena debit air menyusut.
  • Kondisi ini menciptakan tekanan ganda pada sistem kelistrikan, sehingga operator perlu menyiapkan langkah antisipasi dan diversifikasi energi agar pasokan tetap stabil selama musim kemarau.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemadaman listik secara bergilir makin sering terjadi di Kota Bandung dan sekitarnya. Kondisi tersebut meresahkan warga karena tidak banyak informasi yang diterima sebelum pemadaman di rumah atau tempat usahanya.

Salah satunya adalah Setia warga Kabupaten Bandung yang juga berwirausaha dari rumah. Menurutnya, pemadaman listrik seharusnya bisa diinformasikan kepada warga karena bisa saja ketika ada pemadaman masih membutuhkan listrik untuk pekerjaan atau usaha.

"Kalau diinfokan dulu kan kami bisa bersiap gitu," kata Setia, Rabu (17/6/2026).

Dengan adanya kulkas dipakai untuk menyimpan makanan, Setia berharap pemadaman seperti ini tidak terlalu sering dilakukan karena bisa merusak bahan makanan maupun dagangan yang harus didinginkan.

Keresahan pun dirasakan Sirojul yang wilayahnya kerap terdampak pemadaman bergilir. Banyak menggunakan peralatan listrik di tempat kerja, dia khawatir komputer atau alat lain lebih cepat rusak ketika terlalu sering ada pemadaman.

"Sekarang jadi sering digilir kalau mati listrik," paparnya.

Sementara itu, Fatimah yang bekerja di dalam ruangan menyesalkan pemadanam ini karena harus kepanasan saat pendingin ruangan mati terdampak pemadaman bergilir. Menurutnya, pemerintah dalam hal ini PLN harus bisa menjaga kondisi pasokan listrik karena sudah menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

1. Pemadaman bergilir bisa berlangsung lama

PLN menerangi 80 dusun di daerah terpencil pada enam kabupaten di Sulawesi Barat. Sebanyak 594 keluarga kini menikmati listrik 24 jam. (Dok. PLN UID Sulselrabar)

Pengamat sekaligus pakar sistem tenaga listrik Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Ir. Kevin Marojahan Banjar Nahor menuturkan, fenomena El Nino ekstrem atau yang kerap dijuluki El Nino "Godzilla" diperkirakan dapat memberikan tekanan terhadap sistem kelistrikan nasional, termasuk di Jawa Barat. Kondisi cuaca yang lebih panas dan kering dinilai berpotensi memukul sektor kelistrikan dari dua sisi sekaligus, yakni meningkatnya konsumsi listrik dan menurunnya produksi energi dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Dampak El Nino terhadap sektor energi tidak bisa dianggap remeh karena berpotensi mengganggu keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik. Menurut Kevin, salah satu dampak paling nyata dari El Nino adalah meningkatnya suhu udara yang mendorong penggunaan pendingin ruangan secara masif.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik, baik di sektor rumah tangga, perkantoran, maupun industri.

"El Nino yang membawa kekeringan ekstrem diprediksi akan memukul sistem kelistrikan dari dua sisi. Pertama, konsumsi listrik meningkat karena cuaca panas membuat penggunaan AC melonjak," kata Kevin dari keterangan resmi dikutip, Rabu (17/6/2026).

Lonjakan permintaan listrik ini, lanjutnya, perlu diantisipasi sejak dini agar tidak membebani sistem kelistrikan ketika musim kemarau mencapai puncaknya.

2. Kekeringan mengancam produksi listrik dari PLTA

Waduk Saguling di Kabupaten Bandung, Jawa Barat akan di manfaatkan permukaannya untuk PLTS Terapung Saguling 92 Megawatt peak (MWp) dengan luas PLTS sebesar 95 hektar. (DoK/Istimewa).

Di sisi lain, El Nino juga berpotensi mengurangi pasokan listrik dari pembangkit berbasis air. Musim kemarau yang berkepanjangan dapat menyebabkan debit air waduk dan sungai menurun drastis.

Padahal, pembangkit listrik tenaga air sangat bergantung pada ketersediaan air untuk menghasilkan energi listrik.

"Pasokan listrik juga bisa turun karena debit air menyusut tajam," ujarnya.

Kevin menilai sejumlah PLTA besar di Jawa Barat, termasuk Cirata dan Saguling, berpotensi terdampak apabila kekeringan berlangsung dalam waktu lama dan menyebabkan penurunan volume air waduk secara signifikan.

3. Sistem kelistrikan perlu mengantisipasi tekanan ganda

T PLN Unit Induk Distribusi (UID) Lampung berhasil menuntaskan penyambungan Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Tahun 2025. (Dok. PLN UID Lampung).

Kevin menjelaskan, kondisi meningkatnya konsumsi listrik di saat pasokan dari PLTA menurun dapat menciptakan tekanan ganda terhadap sistem kelistrikan. Karena itu, operator sistem ketenagalistrikan perlu menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga keandalan pasokan energi selama periode El Nino berlangsung.

Menurutnya, diversifikasi sumber energi dan pengelolaan beban listrik menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko gangguan pasokan ketika cuaca ekstrem terjadi.

"Ini menjadi tantangan karena kebutuhan listrik meningkat saat kemampuan sebagian pembangkit justru berpotensi menurun. Kesiapan sistem menjadi sangat penting agar pasokan tetap aman," kata Kevin.

Ia berharap potensi dampak El Nino terhadap sektor energi dapat menjadi perhatian berbagai pihak, terutama dalam memastikan ketersediaan listrik tetap terjaga saat musim kemarau ekstrem melanda sejumlah wilayah Indonesia.

Editorial Team

Related Article