Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Si Diego, Sapi Sultan dari Kuningan yang Dipilih Presiden
Si Diego, sapi limousin berbobot lebih dari 1,1 ton asal Kuningan, terpilih sebagai hewan kurban Presiden untuk Iduladha 1447 H
  • Sapi limousin bernama Si Diego dari Kuningan terpilih sebagai hewan kurban Presiden Prabowo Subianto berkat tubuh besar, perawatan telaten, dan kebersihan kandang yang terjaga.
  • Si Diego dirawat dengan pola makan presisi, pakan berkualitas tinggi, serta pemeriksaan kesehatan rutin hingga dinilai memiliki komposisi tubuh ideal oleh tim seleksi kepresidenan.
  • Dengan bobot lebih dari 1,1 ton dan kualitas premium, harga Si Diego mencapai lebih dari Rp100 juta dan akan diserahkan ke panitia Masjid Agung Kuningan untuk kurban Iduladha.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kuningan, IDN Times - Seekor sapi limousin bernama Si Diego dari kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan menjadi sorotan menjelang Iduladha 1447 Hijriah.

Tubuhnya yang bongsor berkat perawatan telaten, dan riwayat pemeliharaan bersih membuatnya terpilih sebagai hewan kurban Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Bagi pemiliknya, Yuswardi, penetapan itu bukan sekadar prestasi, tetapi juga pengakuan terhadap kerja keras peternak lokal.

1. Dari kandang desa menuju seleksi istana

Si Diego, sapi limousin berbobot lebih dari 1,1 ton asal Kuningan, terpilih sebagai hewan kurban Presiden untuk Iduladha 1447 H

Di sebuah desa di Kuningan, Yuswardi merawat puluhan sapi sejak lebih dari satu dekade lalu. Namun, perhatian khusus selalu ia berikan kepada satu sapi limousin jantan yang ia beri nama Si Diego.

Tubuh Si Diego tumbuh lebih cepat dan lebih seimbang dibandingkan sapi lain di kandangnya.

“Kalau dari kecil sudah kelihatan, posturnya beda. Tulang panjang, makannya lahap, dan ototnya cepat terbentuk. Makanya kami rawat ekstra sejak awal,” ujar Yuswardi, Selasa (26/5/2026).

Perawatan itu membuahkan hasil. Ketika tim kurban kepresidenan melakukan penjaringan beberapa pekan lalu, Si Diego langsung mencuri perhatian. Tim menilai ukuran tubuhnya dengan bobot lebih dari 1,1 ton dan tinggi hampir 175 sentimeter, masuk kategori premium untuk standar kurban Presiden.

Menurut Yuswardi, proses seleksi dilakukan sangat teliti. “Tim presiden itu detail banget. Mereka cek silsilahnya, cara kami memelihara, sampai pakan apa yang kami kasih. Tidak ada yang terlewat,” katanya.

2. Pakan ketat dan pemeriksaan rutin yang menjaga pertumbuhan

Si Diego, sapi limousin berbobot lebih dari 1,1 ton asal Kuningan, terpilih sebagai hewan kurban Presiden untuk Iduladha 1447 H

Untuk mencapai bentuk tubuh seperti sekarang, Si Diego mendapat pola makan yang sudah diatur dengan presisi. Setiap pagi ia diberi hijauan berkualitas yang dipadukan dengan konsentrat berprotein tinggi.

Malam hari, pakan tambahan diberikan untuk menjaga metabolisme dan menjaga pertumbuhan otot tetap stabil.

“Jenis limousin memang cepat besar kalau pakannya teratur. Tapi justru makin besar itu makin sensitif. Salah pakan sedikit bisa memengaruhi kesehatannya,” ucap Yuswardi.

Di luar makanan, pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan bersama dokter hewan setempat. Bobot tubuh, kondisi kuku, kebersihan kulit, hingga kekuatan kaki menjadi indikator yang terus dipantau.

Hal itu diperlukan karena sapi berukuran besar rentan mengalami gangguan pernapasan dan masalah sendi.

Tim seleksi akhirnya menyebut Si Diego memiliki komposisi tubuh yang ideal, kakinya kuat, dada dalam, tubuh panjang, dan otot belakang menonjol. Perawakan inilah yang membuat nama Si Diego masuk daftar pendek sebelum akhirnya ditetapkan sebagai hewan kurban Presiden.

3. Harga yang sejalan dengan kualitas premium

Ilustrasi sapi kurban (dok.istimewa)

Tak hanya fisik yang diperhitungkan. Harga juga menjadi salah satu parameter penilaian. Dengan kualitas seperti itu, Si Diego dibanderol lebih dari Rp100 juta, angka yang dianggap wajar untuk kategori limousin premium.

“Tim sempat tanya harga. Saya jawab jujur saja, karena timbangannya memang besar dan kualitasnya bagus. Harga di atas seratus juta itu sudah wajar,” tutur Yuswardi.

Harga tinggi itu menurutnya bukan semata soal nilai jual, tetapi cerminan dari kerja panjang: dari mulai memilih bibit, menyusun pakan, hingga memastikan kesehatannya terjaga.

"Orang lihat besar dan mahal, tapi prosesnya panjang. Kami di kandang yang merasakannya,” ujarnya.

Rencananya, Si Diego akan diserahkan kepada panitia Masjid Agung Kuningan dan disembelih pada Hari Raya Iduladha. Dagingnya akan dibagikan kepada masyarakat yang berhak menerima.

Bagi Yuswardi, terpilihnya Si Diego menjadi hewan kurban Presiden adalah kehormatan besar. “Saya bangga sekali. Berarti peternak di Kuningan itu mampu menghasilkan sapi kelas nasional. Mudah-mudahan bermanfaat buat warga,” kata dia.

Editorial Team

Related Article