Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rupiah Tertekan, Perajin Tahu Bandung Siap Mogok Besar-besaran?
Perajin tahu Cibuntu Kota Bandung. IDN Times-Azzis Zulkhairil.
  • Sebanyak 140 perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Bandung, berencana mogok produksi akibat pelemahan rupiah yang membuat harga kedelai impor melonjak tajam.
  • Kenaikan harga kedelai dari sekitar Rp9.000 menjadi Rp11.000 per kilogram membuat banyak perajin merugi dan khawatir kondisi serupa tahun 2023 akan terulang.
  • Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat meminta pemerintah segera turun tangan dengan langkah konkret seperti subsidi atau penghapusan bea impor kedelai.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2023

Para perajin tahu di Jawa Barat melakukan aksi mogok nasional yang menyebabkan tahu menghilang dari pasar. Aksi ini juga diikuti oleh perajin dari beberapa provinsi lain seperti Aceh.

6 Juni 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai 18.095,70 dan harga kedelai impor naik hingga Rp11.000 per kilogram. Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, M. Zamaludin, menyatakan para perajin siap melakukan mogok besar-besaran jika pemerintah tidak menstabilkan harga kedelai.

kini

Perajin tahu masih beroperasi dengan stok lama sebelum kenaikan dolar, namun keuntungan menurun dan sebagian mengalami kerugian. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan untuk menjaga harga kedelai tetap terjangkau.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Sebanyak 140 perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung berencana melakukan mogok operasional akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membuat harga kedelai impor meningkat tajam.
  • Who?
    Para perajin tahu di Cibuntu yang tergabung dalam Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, dipimpin oleh M. Zamaludin selaku ketua paguyuban sekaligus perajin tahu setempat.
  • Where?
    Aksi mogok direncanakan berlangsung di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung, Jawa Barat, dengan potensi meluas ke daerah lain di provinsi tersebut.
  • When?
    Rencana mogok akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan setelah Sabtu, 6 Juni 2026, saat nilai tukar rupiah tercatat mencapai Rp18.095,70 per dolar AS pada pukul 11.08 WIB.
  • Why?
    Pelemahan rupiah menyebabkan harga kedelai impor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Brasil naik hingga sekitar Rp11.000 per kilogram, menekan biaya produksi para perajin tahu yang sangat bergantung pada bahan baku impor.
  • How?
    Perajin menyatakan siap menghentikan produksi secara massal jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga kedelai atau memberikan subsidi guna meringankan beban biaya produksi mereka.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang yang buat tahu di Bandung mau berhenti kerja karena uang rupiah lemah dan harga kedelai jadi mahal. Kedelai itu dari luar negeri, jadi kalau dolar naik, harga kedelai ikut naik. Sekarang mereka susah dapat untung dan takut rugi. Mereka minta pemerintah bantu supaya harga kedelai tidak terus naik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun menghadapi tekanan akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga kedelai impor, para perajin tahu di Cibuntu menunjukkan keteguhan dan solidaritas yang kuat. Mereka tetap menjaga ukuran serta kualitas produk sambil menanggung penurunan keuntungan, mencerminkan komitmen tinggi terhadap konsumen dan keberlangsungan usaha di tengah situasi ekonomi yang menantang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Sebanyak 140 perajin tahu di Sentra Industri Tahu Cibuntu, Kota Bandung berencana melakukan mogok operasional beberapa hari ke depan. Langkah ini dilakukan setelah nilai rupiah terhadap dolar AS sudah menyentuh 18.095 per Sabtu (6/6/2026) pukul 11:08 WIB.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar ini sangat berpengaruh karena mayoritas perajin menggunakan kedelai impor dari Amerika, Kanada, dan Brazil. Jika dolar naik, maka secara otomatis harga kedelai pun ikut naik dan berdampak signifikan terhadap industri tahu.

"Ya dampaknya harga kedelai sekarang mahal. Dulu sebelum puasa itu 9.000-an per kilogram lah, 8 ribu sampai 9.000, sekarang sudah nyampai ada yang 11.000 perkilogram," ujar M. Zamaludin, Ketua Paguyuban Perajin Tahu dan Tempe Jawa Barat, sekaligus perajin tahu Cibuntu, Sabtu (6/6/2026).

1. Khawatir kedelai terus melambung tinggi

Perajin tahu Cibuntu Kota Bandung. IDN Times-Azzis Zulkhairil.

Pria yang akrab disapa Zamal ini menjelaskan, perajin tahu Kota Bandung dan beberapa daerah lainnya di Jawa Barat memang sudah mengeluhkan dan waswas terhadap melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

"Kami perajin khawatir, khawatirnya ya kedelai terus naik, terus diikuti juga dengan bahan-bahan yang lain bisa jadi naik juga. Jadi ya kalau dolar naik otomatis lah (terdampak) karena kita pakai impor, bukan pakai lokal," ucapnya.

Perajin tahu di Cibuntu dan Jawa Barat memang sangat ketergantungan dengan kedelai impor karena ketersediaan dari dalam negeri sangat terbatas. Sehingga, mau tidak mau mengandalkan dari impor.

"Kalau harga kedelainya naik terus, mungkin kejadian 2023 kita akan terulang lagi. Kita akan demo, kita ya ingin menaikkan harga ya susah kan kalau menaikkan harga untuk tahu dan tempe, makanya kita ya solusinya salah satunya ya kita demo mogok," tutur Zamal.

2. Mogok massal seperti 2023 berpotensi akan terjadi

ilustrasi demo (pexels.com/Life Matters)

Di tahun 2023, para perajin tahu di Jawa Barat sempat melakukan aksi mogok dengan tidak beroperasi dan membuat keberadaan tahu di pasar-pasar langka. Bahkan, mogok nasional ini juga sempat diikuti beberapa perajin tahu di provinsi lain seperti Aceh.

Zamal menegaskan, jika pemerintah tidak mampu memberikan cara agar harga kedelai tetap murah meski dolar tembus Rp18 ribu, kejadian tersebut akan terulang.

"Mogok massal produksi, seperti yang terjadi tahun 2023, kita mogok massal," kata dia.

3. Berharap pemerintah cari solusi

ilustrasi demonstrasi (unsplash.com/@kslupski)

Kendati begitu, Zamal mengatakan, saat ini para perajin masih memiliki stok untuk kedelai dimana saat itu dolar belum naik seperti sekarang. Sehingga, beberapa diantaranya masih beroperasi dan menjual dengan ukuran yang sesuai tidak diperkecil.

"Kalau ukuran masih tetap, enggak ada pengurangan ukuran, harga kita masih tetap. Cuma ya itu, kita berkurang dari keuntungan aja, malahan ada sampai ada yang merugi juga," jelas dia.

Dia berharap, pemerintah bisa memberikan langkah kongkret untuk membantu menjaga harga kedelai agar tidak terus meningkat karena pelemahan nilai tukar rupiah.

"Harapan saya sih pemerintah segera turun tangan lah bantu. Dulu juga bisa pemerintah turun tangan salah satunya ya subsidi atau ya apa bea-nya seperti plastik lah, bea-nya di-nol kan, dinolkan, itu kan bisa plastik, kenapa kedelai enggak gitu, impor kedelai," kata dia.

Editorial Team

Related Article