Respons Dedi Mulyadi Soal Sebelas Penambang Gunung Pongkor Bogor Tewas

- 11 penambang meninggal dunia di Gunung Pongkor, Bogor akibat terpapar gas CO.
- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti ketergantungan masyarakat pada tambang sebagai sumber mata pencaharian.
- Dedi menekankan perlunya solusi lain untuk generasi berikutnya dan mengalihkan penambang tua ke sektor lain yang lebih aman.
Bandung, IDN Times - Polisi memastikan ada sebanyak sebelas orang penambang meninggal dunia setelah terpapar asap yang mengandung gas karbon monoksida (CO) di dalam lubang tambang Gunung Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor.
Menanggapi hal ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, wilayah Bogor memang sangat tinggi risiko kecelakaan tambang, dan hal itu berlaku baik di area tambang legal maupun ilegal.
"Kan saya sudah menyampaikan berulang-ulang, Bogor itu menjadi daerah yang begitu rawan terhadap kecelakaan akibat tambang, baik yang legal maupun ilegal," ujar Dedi di Bandung, Kamis (22/1/2026).
1. Dedi sebut korban merupakan pahlawan

Persoalan utama di area tambang, kata Dedi, bukan hanya soal pengawasan atau penertiban saja, melainkan ketergantungan masyarakat terhadap sektor tersebut sebagai sumber mata pencaharian meski risikonya sangat tinggi.
Dedi pun mengajak publik melihat tragedi ini dari sisi kemanusiaan, karen para penambang yang meninggal bukan sekadar korban kecelakaan kerja, melainkan sosok yang mempertaruhkan nyawa demi menghidupi keluarga.
"Saya katakan dari sisi personal, yang meninggal itu pahlawan bagi keluarganya karena menambang masuk pada sebuah lubang yang berisiko mungkin bagian pilihan satu-satunya untuk menghidupinya," tuturnya.
2. Dedi Mulyadi minta Pemkab Bogor cari solusi mengenai hal ini

Menurut dia, pendekatan penanganan tambang tidak bisa berhenti pada penutupan lokasi semata. Pemerintah, menurutnya, harus segera menyiapkan jalan keluar agar generasi berikutnya tidak terus terjebak dalam lingkaran pekerjaan berisiko tinggi.
"Sehingga kan kami harus mendorong untuk generasi berikutnya agar ada solusi lain," ujarnya.
Dedi menekankan, Kabupaten Bogor sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar. Pertumbuhan ekonomi dan investasi di wilayah tersebut dinilai cukup baik, namun belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja dari sektor informal seperti tambang.
"Solusinya, Bogor kan pertumbuhan ekonominya baik, investasinya baik, nah link and match-nya harus segera disusun dengan baik. Tidak bisa lagi terus-terusan polanya seperti ini," kata Dedi.
3. Para pekerja tambang yang sudah berusia lanjut ada baiknya dialihkan ke pekerjaan lain

Lebih lanjut, Dedi mengungkapkan, para penambang yang sudah berusia lanjut bisa dialihkan ke sektor lain yang lebih aman dan memiliki kepastian kerja. Misalnya, bekerja di Pekerjaan Umum dan tenaga kebersihan.
"Sudah deh, yang tua-tuanya ini menjadi tenaga kerja PSDA, PU, jadi tenaga kebersihan, sopir-sopirnya bekerja," kata dia.
"Tapi kan untuk membangun datanya saja susah, karena hampir semuanya menjadi pemain. Kita minta data-data pada A, A-nya pemain. Gitu loh. Kan susah," ungkapnya.


















