Perwatusi: Anak Muda Berisiko Osteoporosis Bukan Cuma Penyakit Lansia

Osteoporosis dapat menyerang anak muda dan sering berkembang tanpa gejala, sehingga banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah mengalami patah tulang.
Perwatusi mencatat osteoporosis dialami satu dari lima perempuan di atas 50 tahun dan satu dari tujuh laki-laki; perempuan lebih rentan setelah menopause.
Perwatusi mendorong kebiasaan menjaga tulang dan otot sejak keluarga serta usia muda, melalui edukasi dan program senam virtual yang telah mencapai 925 episode.
Bandung, IDN Times - Pengeroposan tulang atau osteoporosis sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang baru muncul ketika seseorang memasuki usia lanjut. Padahal, hal tersebut bisa juga menerpa anak-anak muda jika tidak menjaga kesehatan tulang sebaik mungkin.
Bahaya osteoporosis terletak pada gejalanya yang kerap tidak terlihat. Seseorang bisa saja merasa sehat, tetapi baru mengetahui tulangnya mengalami pengeroposan setelah mengalami patah tulang.
Ketua Umum Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi), Anita A. Hutagalung mengatakan, menjaga kesehatan tulang tidak seharusnya menunggu hingga usia tua. Edukasi mengenai osteoporosis perlu diberikan sejak masa kanak-kanak hingga usia produktif.
"Ini bukan sekadar gerakan, tapi komitmen dan panggilan bagi kita semua untuk bergerak bersama," kata Anita di Gedung TP PKK Jawa Barat, Kota Bandung, Sabtu (24/10/2026).
1. Osteoporosis bisa berdampak panjang

ilustrasi tulang (labs.openai.com) Berdasarkan data Perwatusi, satu dari lima perempuan berusia di atas 50 tahun mengalami osteoporosis. Pada laki-laki, risikonya disebut mencapai satu dari tujuh orang, dan dampaknya tidak sebatas tulang yang semakin rapuh.
"Dari keropos tulang ini tentunya yang kami takutkan adalah patah tulang akibat osteoporosis. Itu yang selalu kita gaungkan, jaga tulang, jaga ototmu, kuatkan ototmu, ya, untuk kita dapat bahagia di hari tua dan dapat mandiri di hari tua," ujar Anita.
2. Perempuan lebih rentan setelah menopause

Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil Sementara, Ketua DPC Perwatusi Cirebon, dr. Lusiana S. Yulianti menjelaskan, bahwa salah satu kondisi yang perlu dikenali adalah osteopenia, yaitu kepadatan tulang yang lebih rendah dari normal. Jika tidak diantisipasi, kesehatan tulang dapat terus memburuk.
Kendati begitu, osteoporosis tidak selalu menimbulkan keluhan yang bisa dirasakan sejak awal. Sehingga, antisipasi harus dilakukan saat usia muda.
"Osteoporosis dikenal sebagai silent disease atau penyakit yang kerap tidak disadari karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Penderitanya mungkin baru mengetahui kondisi tersebut ketika mengalami patah tulang," kata Lusiana.
3. Menjaga tulang tidak cukup dilakukan saat tua

ilustrasi tulang kuat (yourhealth.net.au) Ketua DPD Perwatusi Jawa Barat yang juga Ketua TP PKK Jawa Barat, Samantha Dewi menilai kebiasaan tersebut perlu dibangun dari lingkungan keluarga. Dengan begitu, menjaga kesehatan tulang menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar respons ketika muncul penyakit.
"Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Perwatusi menjalankan program senam virtual yang telah mencapai 925 episode. Organisasi tersebut juga menargetkan pembentukan 500 instruktur senam setiap tahun," katanya.
Sedangkan, Branch Group Manager Kalbe Nutritional, Dicky Sulaiman, juga mengingatkan pentingnya menjaga tulang sejak usia muda.
"Tulang itu bukan hanya urusan nanti kalau sudah sepuh. Jadi, harus dimulai, dibangun, dilindungi, dan diperkuat sejak hidup. Dan mulai dari usia muda," kata Dicky.


















