Penyebab Karhutla di Gunung Ciremai Masih Belum Diketahui

Balai Taman Nasional Gunung Ciremai belum mengetahui penyebab karhutla di Kabupaten Kuningan dan menegaskan kesimpulan harus berdasarkan riset serta bukti lapangan.
Pihak TNGC menilai api sangat kecil kemungkinan muncul secara alami, tetapi indikasi adanya pemantik lain belum dapat dijadikan kesimpulan resmi.
Pengujian puntung rokok menyala sebelumnya tidak membuat api merambat di hutan Gunung Ciremai; penyebab, termasuk kemungkinan aktivitas manusia, masih diselidiki.
Bandung, IDN Times - Penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, masih menjadi tanda tanya. Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) belum mengetahui penyebab terjadinya peristiwa tersebut.
Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Balai TNGC, Eska Nata Suryana, mengatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kebakaran sebelum terdapat hasil penelitian atau pembuktian.
"Kalau untuk penyebabnya, kami tidak bisa berspekulasi. Karena harus semuanya by riset," ujar Eska.
1. Api dinilai sulit muncul sendiri

Ilustrasi karhutla (Dok. Walhi) Meski belum menyimpulkan penyebabnya, Eska menilai, peristiwa ini besar kemungkinan tidak terjadi secara alamiah dari matahari langsung. Dia mengatakan, ada pemantik lainnya yang membuat terjadinya Kahrutla tersebut.
"Kalau lihat kondisi hutan di kita, terutama di Taman Nasional Gunung Ciremai, itu sangat kecil kemungkinan api itu muncul sendiri," katanya.
Dia menjelaskan, secara teori kebakaran dapat terjadi ketika terdapat tiga unsur dalam segitiga api, yakni bahan bakar, panas atau sumber pemicu, dan unsur pendukung pembakaran. Namun, ilegal itu masih sebatas indikasi awal dan belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai penyebab karhutla.
"Indikasi awal, tapi memang perlu pembuktian juga," kata Eska.
2. Balai TNGC pernah menguji puntung rokok

ANTARA FOTO/Satgas Karhutla Eska juga menceritakan adanya beberapa pengujian yang pernah dilakukan oleh petugas untuk melihat kemungkinan puntung rokok menjadi pemicu kebakaran di kondisi hutan Gunung Ciremai.
Menurut dia, ketika puntung rokok yang masih menyala dilemparkan ke material di kawasan hutan dan ditunggu, api tidak sampai merambat ke bahan bakar di sekitarnya.
"Beberapa kali teman juga melakukan tes. Ketika melemparkan bekas rokok, puntung rokok yang masih menyala, ditungguin, itu tidak sampai menyala," kata dia.
3. Ada pemicu lain yang membuat api terbakar

Ilustrasi kabut asap akibat karhutla (IDN Times/Rangga Erfizal) Kendati begitu, Eska tidak menyebut pengujian tersebut sebagai bukti bahwa puntung rokok sama sekali tidak dapat menyebabkan kebakaran. Ia menekankan bahwa masih terdapat kemungkinan adanya pemicu lain.
"Berarti kan mungkin ada muatan-muatan tertentu yang pemicunya," katanya.
Balai TNGC juga belum memastikan apakah kebakaran terjadi akibat aktivitas manusia atau faktor lainnya. Eska mengatakan penyelidikan terkait penyebab kebakaran harus dilakukan berdasarkan penelitian dan bukti di lapangan.
Sementara itu, terkait kemungkinan keterlibatan aparat kepolisian dalam penanganan aspek penyebab kebakaran, Eska menyebut pihak kepolisian kemungkinan telah melakukan langkah sesuai kewenangannya.
"Mungkin dari pihak kepolisian sudah melakukan sesuai kewenangannya," kata dia.



















