500 UMKM Daftar IMA Awards 2026, Hanya 20 Lolos Kurasi

- Dari sekitar 500 pendaftar dari 103 chapter IMA, 20 UMKM terpilih sebagai finalis pameran IMA Awards 2026 di Braga City Walk, Bandung.
- Peserta wajib memiliki usaha minimal setahun, produk mandiri, dan rencana bisnis; finalis berasal dari beragam sektor serta daerah, dari Aceh hingga Papua.
- IMA membina UMKM melalui 10 modul, mencakup branding, pemasaran digital, keuangan, dan ekspor, serta berkolaborasi dengan lembaga pendanaan untuk mendukung pengembangan usaha.
Bandung, IDN Times – Dari sekitar 500 pelaku usaha yang mendaftar, hanya 20 UMKM terpilih untuk mengikuti pameran final Indonesia Marketing Association (IMA) Awards 2026 di Braga City Walk, Kota Bandung, Jumat (23/10/2026).
Seleksi tersebut menjadi bagian dari upaya IMA mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar tidak hanya memiliki produk yang layak jual, tetapi juga mampu mengembangkan bisnis melalui strategi pemasaran dan pengelolaan usaha yang lebih matang.
Director Small Medium & Entrepreneurship IMA Pusat, Ida RM Sigalingging, mengatakan, proses kurasi dilakukan secara bertahap terhadap peserta dari 103 chapter IMA di seluruh Indonesia. Dari sekitar 500 pendaftar, sebanyak 50 UMKM lolos seleksi awal sebelum kembali disaring menjadi 20 finalis.
"Ini adalah rangkaian paling akhir dari IMA UMKM Award, baik kategori umum maupun tourism. Dari sekitar 500 pendaftar, kami kurasi menjadi 50, lalu disaring lagi hingga 20 finalis. Hari ini ultimate goal-nya, mereka pameran agar produk unggulan yang telah dikurasi ini bisa mendatangkan kebanggaan tersendiri bagi mereka," ujar Ida di sela-sela acara.
1. UMKM Tak Cukup Punya Produk, Harus Punya Rencana Bisnis

Ilustrasi. Pengusaha mengandalkan pemasaran digital dan media sosial selama pandemik COVID-19. ANTARA FOTO/Umarul Faruq Untuk mengikuti IMA Awards 2026, peserta harus memenuhi sejumlah persyaratan, mulai dari usaha yang telah berjalan minimal satu tahun, produk yang dibuat secara mandiri, hingga kepemilikan rencana bisnis atau business plan.
Menurut Ida, persyaratan tersebut diperlukan agar pelaku usaha memiliki arah pengembangan yang jelas. UMKM tidak cukup hanya berorientasi pada penjualan harian, tetapi juga perlu memahami bagaimana bisnisnya dapat tumbuh secara berkelanjutan.
"UMKM yang baru biasanya belum stabil. Kami mewajibkan mereka membuat business plan agar pola pikirnya berkembang—bukan sekadar jualan, melainkan tahu ke mana produknya akan dikembangkan ke depan," katanya.
Dua puluh UMKM yang terpilih menghadirkan produk dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Sektor yang diwakili pun beragam, seperti kuliner, fesyen, kerajinan tangan, jamu, pariwisata, hingga manufaktur ringan.
Bandung dipilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan tahun ini sebagai bagian dari upaya IMA menggilir lokasi kegiatan. Dengan begitu, penyelenggaraan program diharapkan dapat turut mendukung perkembangan ekosistem UMKM di berbagai daerah.
2. Branding hingga Pemasaran Digital Jadi Bekal UMKM

AI pemasaran digital (freepik.com/rawpixel.com) Selain memberikan kesempatan mengikuti pameran dan penghargaan, IMA menjalankan pembinaan melalui 10 modul pelatihan. Materinya meliputi strategi branding, pemasaran digital, pengelolaan media sosial, manajemen keuangan, hingga pendampingan ekspor.
Ida menyebut, ada tiga tantangan yang masih perlu diatasi pelaku UMKM, yakni menjaga konsistensi kualitas produk, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperkuat strategi pemasaran.
Kemampuan mengelola keuangan juga menjadi perhatian. Pelaku usaha perlu memisahkan uang pribadi dan uang bisnis agar dapat mengetahui kondisi keuangan serta menilai keberlanjutan usahanya.
Perwakilan pengurus IMA Pusat, Adam, mengatakan, salah satu fokus pembinaan adalah membangun narasi merek atau brand storytelling. Strategi ini membantu pelaku usaha menjelaskan keunikan produk sekaligus membangun hubungan dengan calon pembeli.
"Bedanya binaan IMA dengan yang lain adalah kami memperkuat sisi marketing-nya. Kami mengajarkan bagaimana membangun storytelling, branding, dan engagement dengan calon pembeli. Ini yang membuat UMKM binaan kami tidak hanya berdaya saing di dalam negeri, tapi juga mampu menembus level internasional," ujar Adam.
3. Akses Pembiayaan Jadi Bagian Pengembangan Usaha

Ilustrasi. Dua penjaga kasir melayani Mitra UMKM KKMP Sampangan Semarang yang mendistribusikan barang dagangannya. (IDN Times/Fariz Fardianto) Pengembangan UMKM juga membutuhkan dukungan permodalan. Karena itu, IMA menjalin kolaborasi dengan sejumlah lembaga pendanaan, termasuk Finatra dari Astra, untuk membantu kebutuhan pembiayaan pelaku usaha.
Ida mengatakan, sebagian UMKM binaan juga telah masuk ke program Bank Indonesia (BI). Menurutnya, kesiapan manajemen dan pola pikir bisnis menjadi faktor penting ketika pelaku usaha mengakses dukungan pembiayaan.
IMA memperkirakan program pembinaannya telah memberikan dampak kepada lebih dari 7.700 UMKM yang tersebar di berbagai chapter di Indonesia.
Melalui IMA Awards 2026, pameran di Bandung menjadi salah satu tahapan untuk memperkenalkan produk UMKM terpilih kepada publik. Namun, penguatan kualitas produk, kapasitas produksi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan tetap menjadi pekerjaan penting agar pelaku usaha dapat berkembang setelah ajang tersebut berakhir.



















