Sempat Ditutupi, Dinkes Sukabumi Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Keracunan MBG

- Dugaan keracunan MBG di SMKN 1 Gunungguruh terjadi 2 Oktober 2026, tetapi baru dilaporkan ke Dinkes pada 7 Oktober. Sebanyak 212 orang sakit dan lima sempat dirawat intensif.
- Investigasi menemukan dimsum mentai dan kentang diduga tidak layak konsumsi. Sampel makanan tak bisa diuji karena melewati masa simpan, sementara air serta peralatan dapur terkontaminasi E.coli.
- Dinkes mewajibkan pelatihan ulang penjamah makanan, perbaikan sterilisasi, penggunaan air galon teruji, serta pengaktifan satgas MBG dan pelaporan SKDR rutin.
Sukabumi, IDN Times - Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, akhirnya terungkap ke publik. Peristiwa yang melibatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Gunungguruh Cikujang 1 ini sempat menjadi sorotan karena baru dilaporkan dan mencuat ke permukaan beberapa hari setelah kejadian.
Berdasarkan investigasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi, peristiwa keracunan tersebut terjadi pada Jumat, 2 Oktober 2026. Namun, pihak puskesmas dan Dinas Kesehatan baru menerima laporan resmi pada Rabu, 7 Oktober 2026—sebuah jeda waktu yang mengindikasikan adanya keterlambatan informasi atau upaya pelaporan yang sempat tertunda sejak insiden bermula.
Tim investigasi kemudian bergerak selama kurang lebih dua pekan. Pihaknya menemukan sebanyak 212 orang mengalami gejala sakit, dengan rincian 204 orang merasakan sakit perut (96,23%), 184 orang mengalami diare (86,79%), dan 159 orang mengeluhkan perut melilit (75%). Dari total korban, 5 orang sempat harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sebelum akhirnya dinyatakan sembuh.
1. Menu MBG diduga basi dan tak layak makan

Dugaan keracunan massal di Sukabumi (IDN Times/Istimewa) Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi melalui metode wawancara dan observasi kepada para korban, menu MBG yang dibagikan pada 2 Oktober 2026 terdiri dari dimsum mentai, kentang (potato wedges), tumis kol, susu UHT rasa vanila, dan buah kelengkeng. Dari menu tersebut, dimsum mentai dan kentang dilaporkan berada dalam kondisi tidak matang, berbau, berasa asam, serta berlendir saat dikonsumsi siswa dan guru pada pukul 12.30 WIB.
"Kami menyayangkan adanya kelambatan dalam alur pelaporan awal di lapangan, di mana insiden tanggal 2 Oktober baru sampai ke meja Dinkes pada 7 Oktober. Kondisi ini membuat sampel sisa makanan di sekolah maupun bank sampel SPPG sudah melewati batas penyimpanan 2x24 jam sehingga tidak dapat diperiksa secara laboratoris," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, Jumat (23/10/2026).
2. Temuan pelanggaran standar kebersihan dan sanitasi dapur

Dugaan keracunan massal di Sukabumi (IDN Times/Istimewa) Hasil peninjauan lapangan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1 mengungkap sejumlah catatan merah terkait aspek higiene dan sanitasi. Dari total 50 penjamah makanan, baru 20 orang yang mengantongi sertifikat Pembinaan Keamanan Pangan (PKP). Selain itu, fasilitas krusial seperti water heater untuk mencuci alat makan dilaporkan tidak berfungsi, tidak adanya alat sterilisasi, serta nihilnya alat pengukur suhu ruangan.
Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel air bersih sumur yang digunakan untuk mencuci alat makan juga menunjukkan adanya kontaminasi bakteri E.coli dengan angka +100. Bakteri serupa turut ditemukan pada usap alat makan seperti pisau, talenan, hingga ompreng dengan ambang batas yang jauh melebihi standar normal (NAB = 0).
"Dari hasil investigasi lingkungan, kami menemukan adanya ketidakpatuhan terhadap SOP pengelolaan pangan, mulai dari fasilitas pencucian yang tidak steril hingga penggunaan air sumur yang positif terkontaminasi bakteri E.coli untuk mencuci alat makan," ungkapnya.
3. Rekomendasi dan mitigasi ke depan

Dugaan keracunan massal di Sukabumi (IDN Times/Istimewa) Menanggapi insiden yang nyaris berujung fatal ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi mengeluarkan sejumlah rekomendasi tegas bagi pihak SPPG, sekolah, hingga puskesmas setempat. Pihak SPPG diwajibkan untuk melatih kembali seluruh penjamah makanan, memperbaiki fasilitas sterilisasi, serta beralih menggunakan air isi ulang galon yang sudah teruji klinis alih-alih menggunakan air sumur.
Selain itu, pengaktifan kembali satuan tugas (satgas) MBG di tingkat puskesmas serta pelaporan rutin melalui aplikasi SKDR ditekankan agar kejadian serupa tidak berulang dan tertutupi di kemudian hari.
"Kami telah memberikan instruksi tegas dan rekomendasi perbaikan menyeluruh kepada pihak pengelola maupun sekolah. Program pemenuhan gizi anak bangsa harus berjalan beriringan dengan standar keamanan pangan dan kesehatan yang ketat agar kejadian tertundanya penanganan kasus seperti ini tidak terulang kembali," pungkasnya.


















