Akademisi Bandung Soroti Situasi Negara, Ajak Warga Tak Bosan Bergerak

- Akademisi dan masyarakat sipil Bandung menggelar “Indonesia Berdoa” di Monumen Perjuangan sebagai respons situasi nasional, sekaligus mendorong pemerintah bekerja lebih baik.
- Dosen Unpad Susi Dwiharyanti mengajak masyarakat menghadapi persoalan dengan kepala dingin, emosi terkelola, dan doa sebagai ruang lintas perbedaan tanpa menyerah pada keadaan.
- Kegiatan ini juga menyoroti mahasiswa yang ditangkap setelah aksi 20 Oktober 2026 serta menekankan setiap elemen masyarakat perlu konsisten bergerak mendorong perubahan.
Bandung, IDN Times - Sejumlah akademisi dan elemen masyarakat sipil di Bandung menggelar kegiatan bertajuk "Indonesia Berdoa" sebagai respons atas situasi nasional yang dinilai semakin memprihatinkan. Gerakan ini sebagai wujud mendorong pemerintah untuk bisa bekerja lebih baik.
Dosen Hukum Tata Negara Universitas Padjadjaran, Susi Dwiharyanti, mengatakan, doa yang dilakukan di depan Monumen Perjuangan menjadi ruang bagi masyarakat untuk bersama-sama mengambil sikap di tengah berbagai persoalan yang terjadi. Namun, ia menekankan setiap langkah harus dilakukan dengan kepala dingin dan emosi yang terkelola.
"Doa menjadi salah satu cara untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat tanpa sekat politik maupun perbedaan lainnya," kata dia, Jumat (23/10/2026).
1. Hadapi persoalan dengan kepala dingin

Akademisi Bandung Soroti Situasi Nasional, Ajak Masyarakat Tak Bosan Bergerak. IDN Times./Debbie Sutrisno Susi mengatakan situasi yang terjadi saat ini sudah cukup buruk sehingga masyarakat perlu melakukan sesuatu. Namun, ia mengingatkan agar setiap langkah yang diambil tetap mempertimbangkan hal terbaik bagi Indonesia.
"Yang jelas kita melihat situasi sudah sangat buruk, jadi kita dalam berbagai laku kita perlu melakukan sesuatu. Tapi yang juga sangat penting adalah untuk semua di situ juga memikirkan apa yang terbaik, dan dengan penuh kepala dingin, emosi yang ditata," kata Susi.
Menurutnya, kegiatan doa bersama menjadi salah satu upaya untuk mengesampingkan perbedaan politik dan mempertemukan masyarakat dalam nilai yang paling mendasar sebagai manusia.
"Berdoa bersama adalah salah satu upaya untuk mengumpulkan semuanya tanpa perbedaan yang politik dan lain sebagainya, tapi lebih kepada hal yang paling mendasarkan manusia," ujarnya.
Susi menyebut kegiatan tersebut merupakan bagian dari forum intelektual lintas disiplin. Kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan di Jakarta, sementara Bandung memilih menggelarnya dengan tagline "Indonesia Berdoa".
Menurut Susi, doa bukan berarti masyarakat menyerah terhadap keadaan. Sebaliknya, doa diharapkan menjadi kekuatan agar masyarakat tetap berusaha menghadapi berbagai persoalan.
"Hanya kepada Tuhan, hanya kepada Allah harapan tertinggi itu disampaikan. Oleh karena itu, dengan kegiatan Indonesia berdoa ini, sebagaimana tadi disampaikan oleh Prof. Ada, maka kita dapat menghadapi masalah ini dengan lebih tenang, dengan lebih rasional, dengan bukan berarti menyerah," katanya.
2. Singgung mahasiswa yang ditangkap polisi

Aksi demo mahasiswa dan warga di Simpang Lima, Kota Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno Dalam kegiatan tersebut, persoalan mahasiswa yang ditangkap polisi juga menjadi perhatian. Susi mengatakan sejumlah mahasiswa yang hadir sebelumnya ikut dalam aksi pada 20 Oktober 2026.
Ia menyebut terdapat mahasiswa yang ditangkap dan menjalani pemeriksaan oleh kepolisian. Salah satunya berasal dari Fakultas Hukum dan merupakan mahasiswa yang diajarnya.
"Doa yang kami panjatkan hari ini adalah dalam rangka memperkuat adik-adik mahasiswa, termasuk juga teman-temannya yang ditangkap oleh polisi, diinterogasi," ujar Susi.
"Ada beberapa mahasiswa dari Fakultas Hukum, mahasiswa saya juga yang ditangkap, tetapi sudah dikeluarkan," lanjutnya.
Menurut Susi, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran mahasiswa dan masyarakat untuk terus berupaya memperbaiki kondisi Indonesia. Ia mengatakan, setiap elemen masyarakat memiliki kapasitas masing-masing untuk mendorong perubahan. Mahasiswa dapat bergerak melalui kapasitasnya, begitu pula dosen, guru besar, dan elemen masyarakat sipil lainnya.
"Mahasiswa dengan kemampuannya, para dosen dengan kemampuannya, kemudian elemen masyarakat sipil yang lain dengan kemampuannya," katanya.
Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi turut hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk guru besar dan dosen.
3. Akademisi dorong masyarakat terus ambil langkah perubahan

Demo Massa Lanjut di Braga, Nyalakan Petasan dan Bakar Waterbarrier. IDN Times/Debbie Sutrisno Susi menekankan pentingnya masyarakat tidak berhenti mengambil langkah untuk mendorong perubahan. Menurutnya, perubahan tidak akan terjadi jika masyarakat memilih berhenti bergerak.
Ia menyebut kemampuan mengambil langkah pertama atau first actionable for the first step menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan yang ada.
"Kita selalu punya kemampuan untuk melangkah, dan kemampuan-kemampuan semacam itu adalah kemampuan-kemampuan yang harus terus-terus dilakukan," ujarnya.
Menurut Susi, langkah tersebut harus terus dilakukan secara konsisten. Sebab, ketika masyarakat berhenti bergerak, upaya perubahan juga berpotensi terhenti.
"Karena sekali kita berhenti, maka langkah-langkah kita untuk perubahan itu akan tersendat atau bahkan tidak akan terjadi lagi," katanya.
Karena itu, ia berharap hubungan antara berbagai elemen masyarakat sipil dapat terus diperkuat, termasuk dengan media. "Ayo kita berjuang bersama untuk Indonesia yang lebih baik," pungkasnya.





















