Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pengamat Kompol Unisba Bedah Maksud KDM Bertemu Warga Pati
Dok. Tangkap Layar-IDN Times
  • Pengamat Unisba Fadhli Muttaqien menilai pertemuan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan tokoh AMPB sebagai strategi komunikasi politik untuk masuk ke isu nasional dan memperluas eksistensi publik.
  • Menurut Fadhli, keterlibatan Dedi dalam isu nasional berpotensi meningkatkan popularitas dan elektabilitas, tetapi dinilai berlebihan karena ia seharusnya memprioritaskan persoalan yang masih dihadapi Jawa Barat.
  • Fadhli mengingatkan popularitas media sosial bukan satu-satunya ukuran politik; tanpa penyelesaian masalah daerah, langkah tersebut berisiko menurunkan penerimaan publik dan kepercayaan warga Jawa Barat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (2/9/2026)

Fadhli Muttaqien menilai pertemuan Dedi Mulyadi dengan tokoh AMPB sebagai strategi komunikasi politik untuk masuk ke isu nasional. Ia memperingatkan langkah itu dapat memicu kritik jika persoalan Jawa Barat tidak ditangani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bertemu tokoh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu di Lembur Pakuan. Pengamat komunikasi politik Fadhli Muttaqien menilai pertemuan itu sebagai strategi komunikasi politik yang berpotensi memicu kritik.
  • Who?
    Dedi Mulyadi, sejumlah tokoh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, serta Fadhli Muttaqien selaku pengamat komunikasi politik Universitas Islam Bandung terlibat dalam peristiwa dan penilaian tersebut.
  • Where?
    Pertemuan berlangsung di kediaman Dedi Mulyadi, Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Analisis Fadhli disampaikan di Bandung.
  • When?
    Fadhli Muttaqien menyampaikan penilaiannya pada Rabu, 2 September 2026. Waktu pasti pertemuan Dedi Mulyadi dengan tokoh AMPB per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Menurut Fadhli, Dedi Mulyadi ingin hadir dalam pembicaraan publik mengenai persoalan nasional untuk memperluas eksistensi, popularitas, dan ruang komunikasi politiknya.
  • How?
    Dedi Mulyadi menemui tokoh AMPB yang sebelumnya berunjuk rasa di Jakarta dan mengunggah momen pertemuan di media sosial. Fadhli menilai langkah itu wajar secara komunikasi politik, tetapi dinilai melampaui fokus pemerintahan daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dedi Mulyadi bertemu orang-orang dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu di rumahnya di Subang. Mereka dulu pernah demo di Jakarta. Fadhli dari Unisba bilang Dedi mungkin ingin ikut masalah besar agar banyak orang membicarakannya. Tapi Fadhli juga bilang Dedi harus tetap fokus mengurus Jawa Barat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pertemuan Dedi Mulyadi dengan tokoh AMPB menunjukkan upaya seorang kepala daerah untuk membuka keterlibatan dalam percakapan publik yang lebih luas. Dalam pembacaan komunikasi politik Fadhli Muttaqien, kehadiran pada isu nasional itu dapat dipandang sebagai langkah progresif membangun eksistensi politik, sekaligus menempatkan figur gubernur dalam ruang dialog yang mendapat perhatian publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi alias KDM turut melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh dari Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di kediamannya, Lembur Pakuan, Kabupeten Subang, Jawa Barat. Momen tersebut pun sempat diunggah di akun media sosialnya.

Pengamat komunikasi politik Universitas Islam Bandung (Unisba), Fadhli Muttaqien turut menganalisis maksud dari KDM bertemu dengan AMPB yang sebelumnya melakukan unjuk rasa di Jakarta.

Menurut dia, pertemuan tersebut menggambarkan KDM ingin masuk ke persoalan yang menjadi isu nasional, dan itu dapat dilihat sebagai strategi komunikasi politik, untuk memperluas eksistensi dan pembicaraan publik terhadap dirinya.

"Kang Dedi ini ingin masuk atau ingin merangsek ke dalam pembicaraan publik, agar bisa terlihat secara publik. Maka Kang Dedi perlu untuk hadir dalam persoalan-persoalan nasional," ujar Fadhli, Rabu (2/9/2026).

1. Terlalu mengurusi yang bukan ranah daerahnya

Dok. Tangkap Layar-IDN Times

Fadhli menilai, kehadiran Dedi dalam berbagai isu nasional dapat menjadi strategi untuk meningkatkan popularitas hingga elektabilitasnya. Akan tetapi, Fadhli menilai langkah tersebut dapat menjadi persoalan jika dilihat dari perspektif Dedi sebagai Gubernur Jawa Barat.

Dedi seharusnya lebih fokus menangani persoalan yang berada dalam lingkup pemerintahannya, terlebih masih banyak persoalan di Jawa Barat yang membutuhkan kehadiran kepala daerah.

"Nah, kalau kita berbicara dalam ranah kepemerintahan daerah, tentu apa yang dilakukan Kang Dedi ini terlalu mengurusi isu-isu atau permasalahan yang bukan permasalahan kedaerahan," kata Fadhli.

2. KDM sudah offside

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Lebih lanjut, Fadhli menilai, langkah tersebut dapat disebut sebagai tindakan yang "offside" apabila ditempatkan dalam konteks pemerintahan daerah. Hal ini dikarenakan, KDM merupakan sosok pemimpin Jawa Barat, bukan juga sebagai anggota legislatif.

"Tentu ini kalau kita katakan offside, ya tentu ini offside. Karena memang ini terlalu ngurus nasional tetapi di dalamnya sendiri atau di daerahnya sendiri ini tidak terurus," ucapnya.

Fadhli mengatakan, kondisi tersebut berpotensi menjadi kritik terhadap Dedi, karena dinilai lebih banyak masuk ke isu nasional dibandingkan menyelesaikan persoalan di Jawa Barat.

"Ini akan menjadi kritik untuk Dedi Mulyadi, karena sebagai kepala daerah dia tidak substantif untuk mengurusi daerahnya sendiri,” katanya.

3. Proses politik itu bukan hanya tentang popularitas tetapi tentang elektabilitas

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Kendati begitu, Fadhli menilai langkah Dedi tersebut tetap dapat dianggap wajar jika dilihat dari perspektif komunikasi politik. Masuk ke ruang publik nasional, kata dia, merupakan langkah progresif untuk membangun eksistensi politik.

"Ini sebagai langkah progresif yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi untuk hadir di ruang-ruang publik secara nasional," ucapnya.

Namun, kata Fadhli, komunikasi politik tidak cukup hanya membuat seorang tokoh menjadi pembicaraan publik, hal yang lebih penting adalah bagaimana publik memberikan penilaian terhadap tindakan tersebut.

"Masalahnya dalam konteks politik bukan hanya popularitas, tapi akseptabilitas. Bagaimana keterimaan publik. Nah, saya rasa dengan apa yang ditindak dengan apa yang dilakukan oleh Kang Dedi Mulyadi ini, tidak acceptable gitu, tidak diterima oleh publik," ucapnya.

Fadhli mengingatkan, jika pola tersebut terus dilakukan tanpa diimbangi penyelesaian persoalan di Jawa Barat, kepercayaan masyarakat terhadap Dedi sebagai gubernur berpotensi menurun.

"Ini akan membuat masyarakat Jawa Barat menjadi yang awalnya trust menjadi distrust. Masalahnya publik hari ini sudah cerdas dalam menilai apakah ini otentik atau tidak gitu, apakah ini orisinil atau tidak," katanya.

Fadhli pun mengingatkan Dedi agar tidak terlalu mengandalkan popularitas di media sosial sebagai ukuran keberhasilan politik.

"Proses politik itu bukan hanya tentang popularitas tetapi tentang elektabilitas dan akseptabilitas gitu," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article