Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mobil PHEV Jadi Alternatif di Tengah Tantangan Infrastruktur Isi Daya
Pengenalan mobil DFSK E5 Plus di Summarecon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • PHEV dinilai menawarkan fleksibilitas karena dapat memakai listrik untuk mobilitas harian dan mesin bensin untuk perjalanan jauh, di tengah keterbatasan infrastruktur pengisian daya EV.
  • DFSK menargetkan penjualan 1.000 unit PHEV secara nasional hingga akhir 2026, dengan target 30 SPK saat peluncuran regional E5 Plus di Bandung.
  • Pasar Bandung dianggap cocok bagi PHEV karena kebiasaan perjalanan akhir pekan; E5 Plus berkapasitas baterai 25,3 kWh, mampu menempuh sekitar 140 kilometer dalam mode listrik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Mobil PHEV mulai dikenalkan di Bandung. Mobil ini bisa pakai listrik untuk pergi dekat dan bensin untuk pergi jauh. Cing Hok Rifin bilang tempat isi daya masih kurang dan kadang orang berebut. DFSK ingin menjual 1.000 mobil E5 Plus sampai akhir 2026. Mobil ini cocok untuk jalan-jalan dan camping.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
PHEV menawarkan ruang transisi yang praktis bagi konsumen, terutama ketika penggunaan listrik untuk mobilitas harian dapat dipadukan dengan mesin bensin untuk perjalanan lebih jauh. Di Bandung, karakter perjalanan akhir pekan dan kebutuhan aktivitas beragam membuat fleksibilitas ini relevan, sembari mengurangi ketergantungan penuh pada fasilitas pengisian daya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mulai mendapat ruang di tengah pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Teknologi ini menawarkan pilihan penggunaan tenaga listrik untuk aktivitas sehari-hari, tetapi tetap mengandalkan mesin bensin ketika pengguna melakukan perjalanan lebih jauh.

Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile, Cing Hok Rifin menutukan bahwa fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan PHEV memiliki peluang di pasar Indonesia. Terlebih, menurutnya, perkembangan kendaraan listrik saat ini masih menghadapi persoalan terkait ketersediaan infrastruktur pengisian daya atau charging.

1. Kendaraan yang fleksibel jadi banyak dicari

Pengenalan mobil DFSK E5 Plus di Summarecon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Cing mengatakan, pertumbuhan penjualan kendaraan listrik di Indonesia sudah cukup besar. Berdasarkan data yang dia sebut, volume penjualan EV di Indonesia mencapai sekitar 475 ribu unit, meski mayoritas penjualan masih terkonsentrasi di Jabodetabek.

"Memang mayoritas sih 90 persen di Jabodetabek. Kita lihat banyak kendala-kendala infrastruktur, charging, dan sebagainya," ujar Cing saat memperkenalkan kendaraan DFSK E5 Plus di Bandung, Selasa (8/9/2026).

Persoalan infrastruktur pengisian daya menjadi salah satu hal yang masih perlu diperhatikan dalam perkembangan kendaraan listrik. Dia bahkan menyinggung adanya kejadian pengguna kendaraan listrik yang berebut fasilitas charging.

Kondisi tersebut, kata Cing, membuat teknologi PHEV memiliki keunggulan karena konsumen tidak harus sepenuhnya bergantung pada fasilitas charging ketika melakukan perjalanan.

"Jadi sebenarnya lebih ke customer-nya lebih fleksibel aja," katanya.

2. DFSK target 1.000 unit hingga akhir tahun

Pengenalan mobil DFSK E5 Plus di Summarecon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Cing kemudian menyebut potensi pasar PHEV tidak hanya berada di Bandung. Pihaknya membidik pasar nasional dengan target penjualan hingga akhir tahun. Untuk regional launch di Bandung, target yang dipasang mencapai 30 surat pemesanan kendaraan (SPK). Sementara hingga akhir 2026, target penjualan yang dipatok mencapai 1.000 unit untuk seluruh Indonesia.

"Sampai akhir tahun 1.000 unit," katanya.

Cing menilai bahwa penggunaan tenaga listrik juga dinilai cukup untuk menunjang mobilitas harian masyarakat Bandung. Dia mencontohkan baterai berkapasitas 25 kWh yang disebut mampu menempuh sekitar 140 kilometer dalam mode listrik.

"Kalau untuk teman-teman Bapak/Ibu pakai di Bandung, itu cukup. Nanti pulang ke rumah tinggal charge di rumah," katanya.

Untuk perjalanan akhir pekan ke luar kota, pengguna dapat memanfaatkan sistem hybrid sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada charging station.

3. Pasar Bandung punya karakter mobilitas yang cocok

Pengenalan mobil DFSK E5 Plus di Summarecon Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu, Owner PT Siloam Motor, Eddy Tjoa, melihat karakter konsumen Bandung menjadi salah satu faktor yang membuat kendaraan PHEV memiliki peluang untuk berkembang.

Menurut Eddy, masyarakat Bandung memiliki kebiasaan bepergian saat akhir pekan atau liburan. Kondisi tersebut membuat kendaraan yang bisa digunakan untuk mobilitas harian sekaligus perjalanan luar kota dinilai memiliki peluang.

"Orang Bandung itu senang jalan-jalan saat akhir pekan atau liburan, apalagi banyak destinasi menarik di sekitar Bandung dan Jawa Barat," ujar Eddy.

Dia menilai kapasitas baterai 25,3 kWh dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, termasuk perjalanan dan camping, tanpa menghilangkan kenyamanan penggunaan sehari-hari.

"E5 Plus menurut kami sangat cocok untuk gaya hidup seperti ini. Dengan baterai berkapasitas 25,3 kWh, konsumen bisa memanfaatkannya untuk berbagai aktivitas, termasuk camping," katanya.

E5 Plus diperkenalkan di Bandung melalui regional launch di Summarecon Mall Bandung pada 8-13 September 2026. Kendaraan tersebut mengusung teknologi PHEV dengan konfigurasi enam penumpang dan captain seat.

Dengan karakter tersebut, PHEV menjadi salah satu pilihan di tengah transisi menuju kendaraan elektrifikasi. Konsumen dapat menggunakan tenaga listrik untuk kebutuhan tertentu, sekaligus memiliki alternatif mesin bensin ketika membutuhkan perjalanan yang lebih jauh.

Editorial Team

Related Article