Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mitigasi Gempa Sesar Lembang, BMKG Kekurangan Alat Sensor
Ilustrasi Sesar Lembang. (IDN Times/Bagus F)
  • BMKG Bandung menyebut enam sensor khusus di Sesar Lembang belum memadai dan membutuhkan sekitar empat unit tambahan untuk memperkuat pemantauan aktivitas gempa kecil.

  • Sensor tambahan diperlukan untuk mengamati pola kegempaan dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat, sementara BMKG menegaskan gempa kecil tidak selalu diikuti gempa besar.

  • Pemkab Bandung Barat menggenjot edukasi mitigasi hingga tingkat keluarga, sedangkan Pemprov Jabar menyiapkan Cirebon dan Purwakarta sebagai pusat pemerintahan sementara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
13/10/2026

Pemprov Jawa Barat berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan skenario dampak terburuk aktivitas Sesar Lembang, termasuk opsi memindahkan pusat pemerintahan sementara.

27/10/2026

BMKG Bandung menyatakan enam sensor khusus telah dipasang di Sesar Lembang, tetapi masih membutuhkan sekitar empat sensor tambahan untuk memperkuat pemantauan gempa.

saat ini

Pemprov Jawa Barat mempersiapkan kebutuhan di kantor pemerintah provinsi di Cirebon dan Purwakarta, termasuk command center sederhana, sebagai pusat pemerintahan sementara.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BMKG Bandung menyatakan enam sensor pemantau gempa di jalur Sesar Lembang belum memadai dan masih membutuhkan sekitar empat sensor tambahan.
  • Who?
    BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Kepala Stasiun Suaidi Ahadi, Pemkab Bandung Barat, Pemprov Jawa Barat, serta warga di sekitar jalur Sesar Lembang terlibat dalam upaya mitigasi.
  • Where?
    Pemantauan berlangsung di sepanjang jalur Sesar Lembang. Persiapan pusat pemerintahan sementara dilakukan di Cirebon dan Purwakarta, Jawa Barat.
  • When?
    Suaidi Ahadi menyampaikan kebutuhan sensor pada Selasa, 27 Oktober 2026. Herman Suryatman menyampaikan persiapan mitigasi Pemprov Jawa Barat pada Selasa, 13 Oktober 2026.
  • Why?
    Sensor tambahan diperlukan untuk memperkuat rekaman dan pengamatan aktivitas gempa, termasuk gempa kecil, agar kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya gempa dapat ditingkatkan.
  • How?
    BMKG memasang enam sensor dan membutuhkan sekitar empat unit lagi. Pemkab Bandung Barat melanjutkan edukasi mitigasi, sedangkan Pemprov Jawa Barat menyiapkan command center sederhana di Cirebon dan Purwakarta.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
BMKG di Bandung punya enam alat untuk melihat gempa di Sesar Lembang, tapi masih perlu empat alat lagi. Alat ini bisa melihat gempa kecil. Warga dekat sana terus diajari apa yang harus dilakukan saat gempa. Pemerintah Jawa Barat juga menyiapkan kantor sementara di Cirebon dan Purwakarta kalau gempa besar terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski jaringan sensor di Sesar Lembang masih perlu diperkuat, langkah mitigasi telah berjalan melalui pemasangan enam sensor khusus, sosialisasi hingga tingkat keluarga, serta penyiapan skenario pemerintahan darurat. Koordinasi BMKG dan pemerintah daerah menunjukkan perhatian pada pemantauan pola gempa, kesiapsiagaan warga, dan kesinambungan layanan pemerintahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyebut jumlah sensor pemantau gempa yang terpasang di sepanjang jalur Sesar Lembang masih belum memadai.

Dari enam sensor yang telah dipasang khusus untuk memantau aktivitas sesar tersebut, BMKG memperkirakan masih membutuhkan sekitar empat unit tambahan. Hal itudiperlukan untuk memperkuat pemantauan aktivitas kegempaan, termasuk gempa bermagnitudo kecil di sekitar Sesar Lembang.

"Sesar Lembang itu kita sudah pasang sensor gempa khusus untuk Sesar Lembang ada enam. Kita masih kurang sekitar empat lagi," kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi dikutip Selasa (27/10/2026).

1. Jaringan sensor memadai akan membantu melihat pola kegempaan

daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Menurut dia, keberadaan sensor berperan penting untuk merekam aktivitas gempa bumi, termasuk rangkaian gempa kecil yang dapat menyertai proses terjadinya gempa. Namun, kemunculan gempa bermagnitudo kecil tidak selalu berarti akan disusul gempa yang lebih besar.

"Ada tiga tipe gempa. Satu, mainshock, aftershock. Jadi gempa kuat dulu baru gempa kecil-kecilnya. Yang kedua adalah foreshock dan mainshock, gempa kecil-kecil, mainshock. Dan yang terakhir adalah swarm, gempanya kecil-kecil terus," ujar Suaidi.

Dia menjelaskan, jaringan sensor yang lebih memadai dapat membantu BMKG mengamati pola kegempaan secara lebih baik. Informasi tersebut diharapkan bisa menjadi bahan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bahaya gempa.

"Kalau sensornya banyak, ada gempa-gempa kecil dan kemungkinan potensi ancaman dengan magnitudo yang akan besar, masyarakat jadi lebih waspada dulu," katanya.

2. Pemkab Bandung Barat akui jumlah sensor belum optimal

daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Senada dengan Suaidi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Asda I) Pemkab Bandung Barat, Duddy Prabowo juga mengakui jumlah sensor pemantau gempa di jalur Sesar Lembang masih perlu ditambah.

"Memang sudah ada yang dipasang, hanya memang jumlahnya masih belum optimal, mungkin seperti itu," kata Duddy.

Meski demikian, Pemkab Bandung Barat terus mendorong sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat yang tinggal di sekitar jalur sesar. Edukasi dinilai penting agar warga memahami langkah yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi.

"Edukasi saya kira harus terus dilakukan, bila perlu sampai ke tingkat keluarga," ujarnya.

3. Pemprov Jabar sudah siapkah skenario jika Gempa Sesar Lembang terjadi

daerah Gunung Batu untuk mengamati Sesar Lembang (IDN Times/Fatkhur Rozi)

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai melakukan mitigasi dan mematangkan semua skenario terhadap dampak aktivitas sesar Lembang. Salah satunya memindahkan pusat pemerintahan sementara di Cirebon dan Purwakarta.

Sekda Provinsi Jabar, Herman Suryatman mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi langsung dengan pemerintah daerah untuk mempersiapkan dampak terburuk jika terjadi aktivitas Sesar Lembang, termasuk memindahkan pusat pemerintahan.

"Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki sejumlah kantor pemerintahan, termasuk di Bandung, Cirebon, Purwakarta, Bogor, dan Garut. Perlu dipastikan sarana pendukung yang dibutuhkan ketika bencana terjadi tersedia, termasuk alat berat dan perlengkapan lainnya," ujar Herman, Selasa (13/10/2026).

Berdasarkan hasil kajian, Cirebon dan Purwakarta merupakan daerah yang tergolong aman untuk dijadikan pusat pemerintahan sementara jika terjadi aktivitas Sesar Lembang dengan skala besar.

Oleh karena itu, Pemprov Jabar saat ini tengah mempersiapkan semua kebutuhan di dua kantor negara milik pemerintah provinsi di dua daerah tersebut.

"Khusus di Cirebon dan Purwakarta yang berdasarkan kajian awal relatif lebih aman dari potensi dampak Sesar Lembang, Pak Gubernur meminta agar disiapkan command center sederhana," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article