Debbie Sutrisno/IDN Times
Meski sudah mumpuni dalam memproduksi kopi di Bandung dan sekitarnya, Muchtar masih memiliki keinginan menjual kopi ke luar negeri. Selama ini dia hanya fokus memproduksi tanpa memikirkan pemasaran dan digitalisasi usaha agar bisa mengeskpor. Padahal permintaan kopi dari tokonya sudah ada seperti Singapura dan Jerman. Bahkan pembeli dari Jerman sudah memintanya mengirim kopi sebanyak 1 ton setiap bulannya.
Sayang persoalan izin usaha dan teknik mengekspor ini yang belum dimiliki Cikopi Mang Eko. Untuk membuka jalan tersebut, Muchtar pun sekarang tengah belajar bersama Rumah BUMN Bandung melalui program brincubator 2023. Pelatihan terakhir yang dia dapat adalah mengenai tata cara mengekspor produk.
"Karena saya memang tidak pernah ikut-ikut kaya gini, jadi bingung memang kalau mau pengembangan. Nah sekarang ikut program BRI jadi mulai ke buka jalannya. Kaya kemarin ketemu mentor yang bisa bantu buat ekspor," ujarnya.
Untuk menuju ke sana, dia juga ingin mencari pendanaan dari investor agar bisa membeli alat baru yang harganya memang lumayan mahal. Produk lokal alat roaster berada di kisaran harga Rp30 juta hingga Rp780 juta, tergantung merek dan besaran alat.
Harga ini masih lebih rendah dibandingkan alat yang didatangkan dari luar negeri. Meski rasa tidak begitu jauh, tapi gengsi para pemain kopi tinggi sehingga menggunakan alat dari luar negeri bisa membuat kopi hasil roasting diminati lebih banyak kedai.
"Kalau bisa sih produksi tahun ini juga naik dari 1 ton per bulan jadi 1,5 ton. Inginnya sih ada investor masuk jadi bisa memenuhi permintaan yang memang banyak," ujarnya.
Sementara itu, Penanggung Jawab Rumah BUMN Bandung Supriatna menuturkan, BRI selama ini memberikan pealtihan kepada ribuan UMKM termasuk melalui program Brincubator yang ikuti Muchtar pemilik Cikopi Mang Eko. Bertempat di Jalan Jurang Nomor 50, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Rumah BUMN binaan BRI ini merupakan wadah bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bisa melebarkan bisnisnya bukan hanya skala nasional, tapi juga menembus pasar luar negeri.
"Rumah ini memang dipersiapkan untuk memberikan pelatihan kepada para pelaku usaha kecil yang ingin mengembangkan bisnisnya. Berbagai kegiatan disiapkan mulai dari pelatihan pengemesan produk, cara berjualan secara daring (online), masuk ke marketplace, hingga barang bisa diekspor. Saat mendaftar mereka bisa memilih mau mengikuti pelatihan yang mana sesuai dengan kebutuhannya," kata Supriatna.
Pada tahun pertama keberadaan Rumah BUMN Bandung, sudah ada 787 pelaku UMKM yang menjadi anggota. Selam setahun jumlah peserta pelatihan bahkan lebih tinggi mencapai 854 dengan 38 pelatihan diselenggarakan untuk berbagai UMKM.
Angka tersebut terus meningkat, khususnya saat pandemik COVID-19 menerjang. Banyak orang yang merintis usaha kemudian mendaftar untuk menjadi anggota dan mengikuti pelatihan.
"Anggota kami sampai tahun ini sudah lebih dari 6.000 UMKM. 10 persen dari jumlah tersebut sudah mampu ekspor ke berbagai negara," kata Supriatna.
Untuk mendaftar sebagai anggota Rumah BUMN Bandung tidaklah sulit. Pelaku UMKM cukup masuk ke laman linkumkm.id dan melakukan registrasi. Di bagian beranda laman, terdapat lokasi Rumah BUMN, jadwal pelatihan per lokasi, dan jadwal pelatihan per nasional. Sehingga UMKM bisa memilih akan datang ke Rumah BUMN yang mana serta mengikuti pelatihan sesuai kebutuhan.
Bukan hanya perorangan, Rumah BUMN pun membuka kesempatan bagi komunitas atau sekolompok pelaku usaha yang ingin mendapatkan pelatihan bersama-sama. Supriatna menyebut, pembelajaran untuk kelompok tersebut pun bisa disesuaikan, apakah ada yang ingin fokus pada pemasaran atau pembuatan kemasan.
Kelompok seperti ini pun nantinya bisa mendapatkan bantuan dari BRI dalam bentuk lain seperti alat produksi. "Itu juga kan sebagai cara untuk pengembangan usaha. Jadi dapat bantuan alat usaha gitu," papar Supriatna.
Guna meningkatkan penjualan, lanjutnya, Rumah BUMN pun memberikan kesempatan kepada UMKM yang menjadi anggota ikut memamerkan produknya di berbagai kegiatan yang diselenggarakan BRI. Selain itu, Rumah BUMN pun telah bekerjasama dengan berbagai dinas dan kementerian agar produk dari UMKM yang dibina bisa berkontribusi pada kegiatan pameran.