Kendati demikian, kehadiran Nikuba ini masih diragukan oleh beberapa ahli dan pengamat otomotif, karena dinilai kurang efisien dalam penggunaannya. Proses Elektrolisis yang digunakan pada teknologi tersebut membutuhkan energi yang sangat besar tetapi dengan resiko hasil yang sedikit.
“Saya belum lihat alatnya seperti apa, kalau berdasarkan media, alat itu menghasilkan hidrogen dari air yang disalurkan ke ruang pembakaran lalu jadi tenaga BBM. Berdasarkan lembaga-lembaga yang kredibel juga alat itu tidak bisa memberikan dampak yang cukup signifikan untuk mesin kendaraan,” kata Moh. Nur Yuniarto, pakar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
“Kemudian dipastikan dulu, itu tetap pakai bensin tidak? Kalau masih pakai bensin, 1 liter air juga bisa keliling dunia karena dia tidak menghilangkan bensin atau solar di kendaraan,” ujarnya lebih lanjut.
Terlepas dari itu, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Haznan Abimanyu menyatakan, mereka akan siap mendukung pengembangan inovasi masyarakat.
"Bila ada masyarakat yang menemukan suatu teknologi dan membutuhkan development atau pengembangan lebih lanjut atau pengujian, kami (BRIN) bersedia membantu," Kata Haznan dalam acara Konferensi Pers "Riset Konversi Energi dan Manufaktur dan Program FIAR BRIN", Jakarta Pusat (14/7/2023).
Begitu juga dukungan datang dari Pangdam III/ Siliwangi, Mayjen TNI Kunto Arief Wibowo yang menurutnya alat Nikuba ini merupakan peluang dalam pengembangan teknologi. Ia menyebutkan bahwa Nikuba bisa menjadi alternatif pilihan energi terbarukan di masa yang akan datang.
“Tiba saatnya Nikuba sebagai alternatif solutif akan mencoba terbang untuk dipresentasikan pada dunia. Meski memerlukan proses, namun ide, tindakan komitmen dan keyakinan terhadap Nikuba sebagai alternatif energi terbarukan dapat menjadi peluang di masa yang akan datang,” ucap dia.
Bagaimana dengan kamu ? Tertarik untuk menggunakan teknologi Nikuba ini ?